Aksara Yang Mendorong Perubahan

1Peneliti pada PSPK Unpad Fahmi Isswahyudi berfoto bersama peserta diskusi usai khataman tadarussan buku ‘Menyemai Karakter Bangsa’ karya Yudi Latif yang digelar komunitas Asian-African Reading Club (AARC) pada Rabu (26/9/2018), Pkl. 16.45-20.00WIB di Sekretariat Sahabat Museum KAA (Set. SMKAA) Jalan Asia Afrika No.65 Bandung.

BANDUNG, MUSEUM KAA – Menurut Frank Furedi dalam The Cult of Philitism, akibat perhatian yang berlebihan terhadap segala hal material praktis, kini muncul fenomena pemujaan terhadap budaya kedangkalan. Mereka yang membaca buku dan, alhasil, cemerlang pemikirannya justru malah dituduh sedang membangun ego elitisme di masyarakat. Akibatnya, gairah intelektualitas masyarakat makin memudar.

Kenyataan pahit itu diungkap peneliti pada Pusat Studi Politik dan Keamanan Universitas Padjadjaran (PSPK Unpad) Fahmi Isswahyudi dalam sesi khataman tadarussan buku ‘Menyemai Karakter Bangsa’ karya Yudi Latif yang digelar komunitas Asian-African Reading Club (AARC) pada Rabu (26/9/2018), Pkl. 16.45-20.00WIB di Sekretariat Sahabat Museum KAA (Set. SMKAA) Jalan Asia Afrika No.65 Bandung.

Kita umumnya silau terhadap modernitas. Ini akar masalahnya,” ujar Fahmi. Hal itu, imbuhnya, muncul lantaran adanya miskonsepi terhadap industrialisasi, teknologi, dan modernitas. Di satu sisi, ada pemujaan terhadap tools dalam industrialisasi. Di sisi lain, modernitas selalu dikaitkan dengan efisiensi. Akibatnya, muncul ketergantungan terhadap teknologi. Parahnya, teknologi dianggap alat pendefinisi masyarakat yang sah.

Selainnya, Fahmi mengatakan, kemunculan paham tekno-neutralis dalam modernitas. Para penganutnya meyakini bebas nilai tanpa keberpihakan. Contohnya, strategi miniaturisasi – yang terinspirasi budaya bonsai – dalam teknologi Jepang. Alih-alih tak berpihak, akan tetapi jelasnya, kelompok ini justru terkait erat dengan kegagalan Indonesia di persaingan global.

Padahal, bila saja penemuan birilian Nusantara, seperti asimetrisitas dan nilai presisi batik Nusantara bisa dikembangkan sedemikian rupa dengan kehandalan teknologi, saya yakin Indonesia akan mendapatkan kehormatannya kembali di tengah persaingan global,” ujarnya saat membandingkan antara modernitas dan kedalaman pemikiran Nusantara.

Menurut Fahmi, budaya kedangkalan juga terjadi pada pendidikan kewargaan. Pasalnya, pendidikan kewargaan tak lebih dari kewajiban prosedural. Akibatnya, rinci Fahmi, tujuan pendidikan kewargaan – yang idealnya terintegrasi pada semua mata pelajaran – tak pernah tercapai.

Ini (red – pendidikan kewargaan) khan sebenarnya harus dilihat sebagai dorongan etika dan moral. Partisipasi warga, dalam konteks ini, terus didorong untuk bertumbuh kembang dalam hidup bernegara, dan sekaligus berperan aktif dalam mempromosikan keyakinan nasional, khususnya yang mengakomodasi visi multikulturalisme kita,” ucapnya kepada peserta acara diskusi buku.

Fahmi juga menyangkal tuduhan kaum modernitas tentang ego elitisme pegiat literasi di masyarakat. Ia mengumpamakan, peran sastrawan dalam dunia politik. “Ketika politik merosot dan terjebak pada kejumudan dan barbarianisme, sastra telah hadir sebagai penyembuhnya,” tukasnya.

2Dosen pada Fakultas Hukum Unisba sekaligus aktivis demokrasi Dian Andriasari hadir sebagai pemantik diskusi tadarussan buku ‘Menyemai Karakter Bangsa’ karya Yudi Latif yang digelar komunitas Asian-African Reading Club (AARC) di Museum KAA.

Pemuda dan Aktivitas Literasi

Peneliti muda di PSPK Unpad itu masih menaruh harapan di pundak pemuda. Pasalnya, seperti ia jelaskan, kiprah pemuda di dunia literasi kini sangat dominan.

Itu (red – peran pemuda) modal sosial yang tangguh. Kita hanya membutuhkan sebuah ikhtiar bersama dalam wujud national healing agar janji kemerdekaan, seperti bahagia mental, bahagia spiritual, dan bahagia material itu bisa terwujud. Tugas kita sebagai angkatan muda adalah menyediakan basis teoritis bagi aksi-aksi kolektif di masa mendatang,” ucapnya menggambarkan peran strategis pemuda dalam tradisi literasi.

Fahmi yang pernah memimpin DPC GMNI Kota Bandung itu mencontohkan kiprah generasi Sukarno, M. Hatta, dan Sutan Sjahrir di masa lalu. Baginya, pada masa itu mereka adalah generasi paling prolifik dan produktif dengan tradisi literasi. Alhasil, mereka memiliki pemikiran cemerlang dan melesat menuju kepemimpinan nasional dalam usia yang masih muda.

Sukarno memimpin Partai Nasional Indonesia dalam usia 26 tahun. Pun begitu dengan Sjahrir yang memimpin Pendidikan Nasional Indonesia di usia 22 tahun,” rincinya.

Menutup paparannya, Fahmi berpesan, saat menghadapi godaan modernitas, tradisi literasi adalah benteng pertahanan bagi kaum muda. Melalui literasi, mereka harus mampu keluar dan menerobos kedangkalan budaya dengan tawaran ide progresif yang menyala-nyala. Sebab, godaan modernitas adalah nyata. Selain selalu menawarkan kemapanan, modernitas juga lihai menyeru pada kejumudan dan egoisme sempit serta cenderung bersifat sektoral.

3Peneliti Hendra Saeful Bahri, salah satu pemantik diskusi, meneliti metode membaca yang diterapkan AARC. Hasil penelitian berbentuk tesis setebal 228 halaman itu berjudul ‘Penguatan Wawasan Kebangsaan bagi Generasi Muda melalui Kegiatan Tadarus Buku’.

Tadarussan Menyemai Karakter Bangsa: Budaya Kebangkitan Berbasis Kesastraan

Dalam kesempatan yang sama Sekretaris Jenderal AARC Adew Habtsa menjelaskan, pihaknya kali ini memilih buku Yudi Latif, seorang cendekiawan, sosiolog, dan juga peneliti. Buku itu berjudul ‘Menyemai Karakter Bangsa: Budaya Kebangkitan Berbasis Kesastraan’.

Menurut Adew, buku itu dipilih lantaran sejalan dengan visi AARC. “Buku ini cocok dengan visi kami dalam mendukung upaya pelestarian Nilai-nilai KAA di Museum KAA melalui aktivitas literasi,” akunya.

Adew juga menambahkan, alasan lain pihaknya memilih buku ini adalah karena awalnya acara dimulai di bulan Agustus, bulan yang sarat nilai juang kebangsaan. Sementara, Yudi Latif dalam buku ini membawa gagasan segar, terutama dalam ikut serta mendorong fungsi kesenian untuk penguatan jiwa bangsa.

Menurutnya, buku dibaca bersama-sama setiap hari Rabu petang. Aktivitas itu berlangsung selama hampir dua bulan di Museum KAA. Awalnya dimulai pada bulan Agustus 2018 dan kini khatam (red – rampung) di penghujung bulan September 2018.

Untuk memperkaya kazanah peserta tadarussan, pihaknya telah menghadirkan sejumlah pemantik diskusi. “Sebenarnya tak terlalu ada perbedaan mencolok dengan diskusi buku lainnya. Hanya saja buku ini membawa pesan berguna bagi para peminat seni dan sastra untuk tetap setia pada jalur yang dipilihnya. Karenanya, kami menghadirkan pegiat kesusastraan dan pemerhati yang berkaitan dgn politik untuk membagikan pantikannya,” jelasnya tentang latar belakang pemantik diskusi buku itu.

Para pemantik itu, rinci Adew, di antaranya adalah dosen sastra Amar Ome, penyair Doddy Ahmad Fauji, sastrawan Topik Mulyana, guru Bahasa dan Sastra Indonesia Zulfa Nasrulloh, aktivis dan dosen hukum Dian Andriasari, dan peneliti politik Fahmi Isswahyudi.

Adew mengaku, buku Yudi Latif ini menawarkan perspektif yang berbeda. Pasalnya, melalui buku itu, sastra juga seni diakui berperan dalam menguatkan karakter dan identitas nasional. “Jadi, buku ini memotivasi kami untuk terus menghargai kebudayaan nasional dan menambah keyakinan akan pentingnya sastra dan gerakan literasi pada umumnya sebagai landasan awal dalam hidup berbangsa dan bermasyarakat,” paparnya.

Adew mengamini pendapat Fahmi tentang ancaman kedangkalan budaya. Maka itu, pihaknya seperti biasa senantiasa mengawali diskusi dengan ber-tadarus (red – membaca bersama-sama) pokok bahasan yang akan didiskusikan. “Jadi tak ada lagi cerita datang pada diskusi buku tapi belum membaca bukunya,” tegas Adew yang telah menelurkan buku ‘Menjadi Bangsa Pembaca’ tiga tahun silam.

4Sastrawan Topik Mulyana sebagai pemantik diskusi buku mengungkap dengan apik peran sastra dalam merawat kebangsaan.

Salah seorang peserta acara Sri Retnoningsih mengaku, dirinya merasa terpanggil untuk rajin datang ke acara tadarussan itu. “Sekali saja ga dateng, seperti ada bagian cerita yang hilang. Ya, akhirnya berusaha nyempetin dateng terus,” aku dosen jurusan DKV Itenas Bandung itu yang juga mentor pada Klab Nihao SMKAA.

Menyinggung tanggapan peserta acara, Adew mengaku, mereka menanggapi dengan sungguh beragam. “Tapi, intinya mereka menyambut baik, kok,” ucapnya.

Terakhir, Adew mengatakan, lewat buku ini mereka sebagai pegiat literasi merasa telah terbantu. Melalui aksara dan kata seseorang telah tergerak dan memulai suatu perubahan. “Tentu saja bukan sembarang kata atau cerita, tetapi benar-benar berasal dari realitas sosial yang terjadi,” pungkasnya.

Sumber: Museum KAA