Begini Cara Museum KAA Merawat Koleksi

112A6916112A6876Pustakawan Perpustakaan Nasional RI Ellis Sekar Ayu memeragakan salah satu teknik konservasi koleksi dua dimensi kepada pengelola Museum KAA dan anggota Sahabat Museum KAA pada acara Workshop Konservasi Koleksi Museum dan Perpustakaan di Museum KAA pada Selasa, (13/11/2018). (Sumber foto: Dokumentasi Museum KAA)

BANDUNG, MUSEUM KAA – Punya pengalaman melaminasi ijazah? Ternyata sebaiknya jangan pernah melaminasi ijazah. Sebab, berbahaya lantaran kertas ijazah yang dilaminasi rentan patah. Solusinya, ijazah lebih aman dienkapsulasi.

Hal itu disampaikan narasumber workshop Ellis Sekar Ayu pada Rabu, (13/11/2018) dalam acara Workshop Konservasi Koleksi Museum dan Perpustakaan di Museum KAA. Ellis sehari-hari bertugas sebagai pustakawan di Perpustakaan Nasional RI. Dalam workshop kali ini, yang digelar sehari penuh, ia membagikan pengetahuan konsep konservasi sekaligus juga praktik konservasi. Workshop dihadiri pengelola koleksi Museum KAA dan perwakilan anggota Sahabat Museum KAA (SMKAA).

Jangan pakai selotip ya. Mengapa? Karena merusak kertas. Sebab, selotip mengandung asam. Meskipun sudah dibersihkan, tetap akan meninggalkan jejak noda gelap. Jelas ga sesuai dengan prinsip konservasi, yakni reversibel (red-bersifat kembali semula),” jelasnya saat memaparkan sejumlah alat tulis kantor yang mengancam keselamatan koleksi dua dimensi.

Ia menambahkan, selain berbahaya bagi koleksi kertas, selotip juga tak sesuai estetika. Padahal, konservasi selain memprioritaskan usia koleksi juga mempertimbangkan estetika koleksi usai dikonservasi.

112A6848Arsiparis Museum KAA M. Reza Mansoor menyampaikan kendala umum yang dihadapinya sebagai salah seorang pengelola koleksi di Museum KAA kepada narasumber workshop Ellis Sekar Ayu. (Sumber foto: Dokumentasi Museum KAA)

Dalam paparannya, pustakawan ahli muda kelahiran Indramayu itu merinci jenis-jenis koleksi dua dimensi berikut ancaman yang menyertainya serta tindakan konservasi yang relevan. Hal itu, jelasnya, akan sangat memudahkan pengelola koleksi untuk mendapatkan hasil diagnosa yang tepat terhadap kerusakan koleksi sebelum akhirnya melakukan tindakan konservasi.

Anggota SMKAA asal Klab Maghribi Lynx Kenya Andini mengaku mendapat banyak hal baru dari workshop itu. Cara menyimpan ijazah yang aman, misalnya. Hal itu ia baru ketahui dalam workshop ini. Isma Lesmananingsih, anggota SMKAA asal Klab Young Crafter mengatakan, dirinya lega setelah mendapat penjelasan teknik konservasi ini. Sebagai penggemar filateli, dirinya risau dengan usia koleksi perangkonya. Pasalnya, di bagian belakang setiap perangko terdapat lem. Sementara, lem diduga lazimnya bersifat asam.

Kegiatan workshop disertai dengan praktik konservasi. Di antaranya, peserta diperlihatkan teknik meramu lem yang aman terhadap koleksi kertas. Selain itu, peserta juga diajak berlatih memeragakan penggunaan tisu Jepang untuk merekonstruksi kertas buku yang robek. Kini peserta paham teknik membingkai foto pameran yang aman dari kertas bersifat asam. Walau sedikit rumit, keberlangsungan usia koleksi menjadi perhatian utama.

112A6732Kepala Museum KAA Meinarti Fauzie membuka resmi acara Workshop Konservasi Koleksi Museum dan Perpustakaan di Museum KAA. (Sumber foto: Dokumentasi Museum KAA)

Dalam sambutannya Kepala Museum KAA Meinarti Fauzie mengatakan, museum dan perpustakaan memiliki fungsi yang sama lantaran keduanya sama-sama menyimpan dan merawat koleksi yang mengandung nilai untuk tujuan edukasi.

Untuk itu, ia menambahkan, kegiatan ini perlu dan rutin digelar di Museum KAA setiap tahun. Selain bertujuan meningkatkan kapasitas pengelola koleksi museum, juga untuk membangun jejaring kerja sama dengan lembaga-lembaga yang berkompeten di bidang konservasi, terutama Perpustakaan Nasional. Pada tahun 2018 ini, menurutnya, sejumlah koleksi penting milik Museum KAA telah berhasil diselamatkan berkat uluran tangan para ahli konservasi di Perpustakaan Nasional.

Pada intinya, kelestarian koleksi museum dan perpustakaan di Museum KAA menjadi skala prioritas utama dalam upaya pelestarian Nilai-nilai KAA,” pungkasnya.

Sumber: Museum KAA