Belajar Sejarah KAA Lewat The Bandung Connection

aarc

Poster publikasi acara tadarussan buku The Bandung Connection yang digelar komunitas literasi Asian-African Reading Club (AARC) di Museum KAA setiap Rabu petang. (Sumber: AARC)

BANDUNG, MUSEUM KAA – Buku The Bandung Connection bukan saja memelihara ingatan kolektif peristiwa KAA tapi juga telah menumbuhkan perasaan kebangsaan.

Hal itu diakui Aga – salah seorang pegiat komunitas literasi Asian-African Reading Club (AARC) – usai mengikuti pertemuan perdana tadarussan buku The Bandung Connection, Rabu (16/10/2019) di Museum KAA , Jalan Asia Afrika Bandung.

Menurutnya, buku itu telah mengembalikan kadar nasionalisme yang kini mulai larut. “Saya dibuat malu dengan melihat kilas sejarah Konferensi Asia-Afrika. Begitu berani para ‘bapak’ kita dulu itu menentukan sikap negara-negara Asia-Afrika di mata dunia,” katanya.

Seolah mempertegas pengakuan Aga, akademisi hukum salah satu perguruan tinggi di Bandung Dr. Dian Andriasari yang tampil sebagai pembahas dalam pertemuan kedua rangkaian tadarussan menekankan soal pentingnya Semangat Bandung dalam buku karya Roeslan Abdulgani itu.

Ia beralasan, sang penulis yang merupakan saksi mata peristiwa lantaran bertugas sebagai Sekretaris Jenderal KAA kala itu piawai meramu fakta yang ia rasakan langsung, terutama perihal relevansi Semangat Bandung yang melekat pada hasil KAA Dasasila Bandung.

Alhasil, ia menyimpulkan, semangat itu faktanya memang belum mati lantaran masih relevan hingga kini, terutama untuk menjawab tantangan zaman. “Bandung masih pusat konektivitas bagi tumbuhnya pergerakan dan jangan sampai kota ini menjadi ‘disconnection’, terangnya.

Sebagai ilmuwan hukum, ia menilai, meski Dasasila Bandung hasil KAA sebagai asal usul Semangat Bandung bukan sumber hukum utama, sejatinya prinsip-prinsip yang termaktub di dalamnya sanggup menjadi penyelaras persoalan zaman hari ini.

Tadarussan buku, yang terbit pada tahun 1980 untuk menyambut para delegasi negara Asia-Afrika yang menghadiri Peringatan 25 Tahun KAA itu, sesuai rencana akan berlangsung hingga 8 kali pertemuan. Menurut Koordinator AARC Adew Habsta, dalam setiap pertemuan pihaknya berusaha menghadirkan pembahas multisipliner. Tujuannya, tak lain, supaya peserta tadarussan dapat memperdalam pemaknaan terhadap peristiwa KAA berdasar sudut pandang yang beragam.

Adew menambahkan, buku ini sengaja diulas kembali di penghujung tahun 2019 mengingat kini AARC tengah ramai dengan para pegiat anyar. “Ini untuk mengenalkan pengetahuan dan nilai-nilai penting Semangat Bandung. Sebab, nilai ini menjadi penguat sekaligus pembeda para pegiat Museum KAA, khususnya AARC,” ungkapnya.

Sebab itu, ia berharap agar lewat buku ini masyarakat dapat terus terinspirasi dan kemudian makin mencintai negeri ini dan Kota Bandung dengan segala hiruk-pikuknya. “Semoga kami tak berhenti dan terus mengenalkan dan menanam kembali nilai-nilai luhur  Semangat Bandung sebagai salah satu jantung kota peradaban Asia dan Afrika,” tukasnya.

Kepala Seksi Promosi dan Publikasi Nilai-Nilai KAA Asep Bahrimansyah Gunawan mengakui, buku The Bandung Connection menjadi rujukan utama para edukator Museum KAA dan Klab Edukator Sahabat Museum KAA dalam mempelajari Semangat Bandung selama ini sebelum kemudian bertugas melakukan bimbingan dan edukasi Nilai-nilai KAA di Museum KAA.

Kali ini melalui buku yang sama, AARC tengah mengedukasi Nilai-nilai KAA kepada para pegiat literasi,” katanya.

Sumber: Museum KAA

Share