Dasasila Bandung Lahir di Awal Ramadan

BANDUNG, MUSEUM KAAMinggu pagi, 24 April 1955 Ketua Komite Ekonomi KAA Rooseno dan Ketua Komite Kebudayaan KAA M. Yamin datang menyambangi Komite Politik KAA di lantai dua Gedung Dwi Warna di Jalan Diponegoro Bandung. Mereka melaporkan hasil pembahasan di kedua komite itu untuk mendapat pengesahan Ketua KAA Perdana Menteri Ali Sastroamidjojo.

Sementara itu, Sekretariat Bersama KAA telah resmi mengumumkan Sidang Pleno Terbuka KAA akan diadakan pada Minggu sore, 24 April 1955, pukul 15.00WIB di Gedung Merdeka. Sidang pleno terbuka itu merupakan rangkaian sidang pleno terakhir sekaligus juga sebagai sidang penutupan KAA.

Ketika dua komite KAA sudah rampung, satu komite lagi tengah berjalan, yakni Komite Politik. Komite yang dikenal paling panas ini sedang berdebar-debar menunggu hasil konsensus dua Panitia Perumus. Panitia Perumus soal kolonialisme digawangi oleh diplomat Indonesia LN Palar. Sedangkan, Panitia Perumus soal peaceful coexistence dikawal oleh Ketua Delegasi Mesir Gamal Abdul Nasser. Keduanya bersidang di lantai dua Gedung Dwi Warna.

Hingga minggu siang kedua panitia perumus itu belum juga selesai. Malah, hingga pukul 15.00WIB situasi masih tegang di kedua Panitia Perumus itu. Padahal, di Gedung Merdeka jajaran menteri, undangan, dan tentu saja wartawan telah hadir menantikan sidang pleno terbuka KAA.

Akibatnya, Roeslan Abdulgani selaku Sekretaris Jenderal KAA atas persetujuan Perdana Menteri Ali menelepon panitia di Gedung Merdeka supaya menunda sidang pleno sekitar dua jam lamanya.

Perdana Menteri Ali, menurut keterangan Roeslan Abdulgani dalam memoarnya The Bandung Connection, lantaran kelelahan kala itu beristirahat sejenak di ruang kerja Roeslan Abdulgani yang berada tak jauh dari ruang sidang pleno Komite Politik. Sementara Roeslan Abdulgani sendiri memantau kedua Panitia Perumus di ruang lain di lantai yang sama.

Jam sudah menunjukkan pukul 16.00WIB. Panitia Perumus soal kolonialisme mulai ada kemajuan. Perdana Menteri RRT Zhou Enlai sudah menerima rumusan, “Colonialism in all its manifestation”. Akan tetapi, Panitia Perumus soal peaceful coexistence menemui jalan buntu.

Usulan Ketua Panitia Perumus Gamal Abdul Nasser tidak mencapai konsensus. Isi usulan rumusan itu, “Hendaknya menerima hak bela diri kolektif dalam blok militer, asal tidak digunakan untuk kepentingan negara besar”.

Konsensus terhambat lantaran dua kelompok pro dan anti blok militer tetap bertahan. Alhasil, Gamal Abdul Nasser putus asa dan bergegas menutup rapat Panitia Perumus. Ia akan melaporkan itu kepada Panitia Politik, “Konsensus peaceful coexistence tidak tercapai.”

Melihat itu, Roeslan Abdulgani berlari kencang menemui Perdana Menteri Ali. Ia memintanya supaya segera menengahi keadaan. Sejurus kemudian Perdana Menteri Ali bergegas ke ruang rapat Panitia Perumus soal peaceful coexistence.

Melihat kedatangan Ketua KAA itu, para delegasi anggota Panitia Perumus peaceful coexistence yang sudah bergegas meninggalkan ruang rapat akhirnya bersedia duduk kembali.

Buku Sejarah Diplomasi Indonesia dari Masa ke Masa (Buku II Periode 1950-1960) melukiskan dengan baik suasana kritis yang menggelayuti penghujung KAA. Dihadapan para delegasi itu, Perdana Menteri Ali dengan penuh wibawa berkata supaya mencoba sekali lagi dan jangan lekas putus asa, “Sukses konferensi ini sungguh hanya tergantung pada tuan-tuan! Haraplah tuan-tuan sekali lagi saling memberi toleransi demi kepentingan kita bersama, kepentingan Asia Afrika!”

Ternyata pernyataan itu mengenai hati para delegasi yang merupakan tokoh negarawan dan pemimpin Asia Afrika. Lantas, para delegasi itu segera mengeluarkan kembali kertas dan dokumen. Maka, perundingan siap dimulai kembali.

Setelah keadaan reda, Perdana Menteri Ali melangkah meninggalkan ruang itu setelah sebelumnya sempat berbicara sejenak dengan Ketua Delegasi Thailand Pangeran Wan yang kala itu bertugas sebagai rapporteur. Perdana Menteri Ali minta bantuan Pangeran Wan yang dinilai sebagai negarawan yang bijaksana dan disegani untuk mendukung suksesnya pembahasan panitia perumus terakhir ini.

Perundingan Panitia Perumus yang awalnya diperkirakan selesai dalam 30 menit ternyata kemudian berkembang hingga 90 menit. Sekitar pukul 17.00WIB Pangeran Wan masuk ke ruang sidang pleno Panitia Politik. Ia tersenyum. Perdana Menteri Ali menilai semuanya sudah diatasi. Segera suasana sidang pleno Panitia Politik menjadi gembira.

Di hadapan sidang pleno Panitia Politik, Ketua Panitia Perumus Gamal Abdul Nasser melaporkan telah berhasil menyelesaikan tugas. Ia lantas mempersilahkan Pangeran Wan selaku rapporteur membacakan rumusannya. Rumusan itulah yang kemudian dikenal sebagai Dasasila Bandung.

Roeslan Abdulgani menulis, rumusan itu lahir pada hari Minggu sore, 24 April 1955, pukul 17.00WIB di Gedung Dwi Warna. Tanggal itu juga bertepatan dengan 1 Ramadan 1374 saat puasa sudah dimulai.

Sumber: Museum KAA

Share