Dekan FIB Unpad Teken MoA Jadikan MKAA sebagai Mitra Prodi Sastra Perancis

foto1Pelaksana Tugas Kepala Museum KAA Devi Noviadi, M.M. dan Dekan FIB Yuyu Yohana Risagarniwa, M.Ed., Ph.D. menandatangani kesepakatan kerjasama di bidang peningkatan SDM di PSBJ FIB Unpad, Senin (30/10/2016). (Foto: Museum KAA)

BANDUNG, MUSEUM KAA – Terhitung sejak Senin, 30 Oktober 2016 lalu, Program Studi Sastra Perancis Fakultas Ilmu Budaya Universitas Padjadjaran dan Museum Konperensi Asia Afrika telah resmi bermitra.

Kemitraan itu tertuang dalam Nota Kesepakatan Kerjasama Nomor NK/DM/17/10/2016/71. Nota itu ditandatangani oleh Dekan Fakultas Ilmu Budaya Yuyu Yohana Risagarniwa, M.Ed., Ph.D. dan Pelaksana Tugas Kepala Museum KAA Devi Noviadi, M.M. pada momen Dies Natalis ke-57 Tahun Fakultas Ilmu Budaya di auditorium Pusat Studi Bahasa Jepang.

Dalam diktum nota itu disebutkan bahwa maksud perjanjian adalah pelaksanaan kegiatan bersama di bidang peningkatan mutu SDM dan pelaksanaan Tridharma Universitas Padjadjaran dengan mengoptimalkan potensi mahasiswa dan dosen.

Nota ini selanjutnya disebut sebagai Perjanjian dan mulai berlaku pada tanggal ditandatangani,” bunyi nota yang diteken pada 31 Oktober 2016 itu.

Disebutkan dalam nota itu, Museum KAA selaku pihak kedua memiliki kewajiban di antaranya melibatkan mahasiswa dalam kegiatan edukasi publik Museum KAA, seperti program Sahabat Museum, program kerelawanan dalam Peringatan KAA, dan bersama-sama mengembangkan Klab Budaya dan Bahasa Afrika Utara ‘Maghribi’ atau kerap disapa Klab Maghribi.

Devi Noviadi mengatakan dalam pidato sambutannya, “Secara historis Museum KAA dan Fakultas Ilmu Budaya memiliki jalinan erat. Sebab, Kepala Museum KAA pertama adalah Dekan Fakultas Sastra Unpad, yaitu Prof. Dr. Edi S. Ekajati.”

Devi juga menjelaskan, upaya penjajakan kerjasama telah dimulai Museum KAA sejak November 2015. “Pak Thomas (Kepala Museum KAA – red) melakukan audiensi bersama Pak Mumuh Muhsin (Wakil Dekan I FIB Unpad – red) dan Ibu Tania Intan (Koordinator Program Studi Bahasa dan Sastra Prancis – red). Hasilnya disambut baik dan didukung untuk segera diwujudkan,” urai Devi.

Menutup penjelasannya, Devi menyampaikan harapan agar kesepakatan itu dapat segera bermanfaat bagi kedua belah pihak.

Pada kesempatan yang sama Ketua Prodi Bahasa dan Sastra Perancis FIB Unpad Dr. Sri Rijati mengatakan, “Ini adalah kesepakatan kerjasama pertama dengan lembaga di dalam negeri. Sebelumnya, kami telah memiliki kesepakatan dengan beberapa lembaga di Perancis.”

Klab Maghribi, Penghargaan untuk Afrika Utara

Klab Maghribi awalnya dirintis pada tahun 2011. Idenya datang dari mahasiswa dan alumni Prodi Bahasa dan Sastra Perancis Unpad. Mereka saat itu tengah tergabung sebagai edukator Pameran 50 Tahun Perjalanan Gerakan Nonblok. Nama Maghribi sendiri terinspirasi dari negara-negara di Afrika Utara yang bertutur Bahasa Perancis.

Menurut inisiator Klab Magribi yang juga alumni Prodi Bahasa dan Sastra Perancis Unpad, Visarah N. Afridiani aktivitas para alumni dan mahasiswa Prodi Bahasa dan Sastra Prancis Unpad dimulai sejak tahun 2012. Bahkan, imbuh Visarah, ada beberapa di antaranya yang berhasil meraih beasiswa luar negeri atas rekomendasi Kepala Museum KAA.

Selain di Klab Maghribi, para mahasiswa dan alumni juga sudah lama aktif sebagai relawan di Peringatan KAA dan bahkan juga mengajukan magang mandiri di Museum KAA,” urai Visarah.

Sementara itu, Koordinator Eksekutif SMKAA Logika Anbiya mengungkapkan kegembiraannya perihal kesepakatan itu. Ia menjelaskan, “Asal muasal klab ini (Maghribi – red) adalah sebagai wadah kreatifitas dan inovasi para penstudi Bahasa dan Sastra Perancis di SMKAA.”

Di samping itu, imbuh Logika, SMKAA yang bermitra dengan MKAA dalam mempromosikan Pelestarian Nilai-nilai KAA memerlukan berbagai instrumen nilai untuk merekonstruksi Kesetiakawanan Rakyat Asia Afrika.

Di KAA 1955 ada sekelompok delegasi peninjau asal Afrika Utara. Mereka dijuluki ‘penyelundup’ semangat kemerdekaan di Afrika. Pasca KAA mereka mendukung dekolonisasi di penjuru Afrika. Di antara mereka ada tokoh bernama Yazid asal Aljazair yang pernah membela kepentingan Indonesia di berbagai forum multilateral,” kata Logika.

Yazid, Sang Juru Selamat asal Afrika Utara

Kisah Yazid adalah bukti kuat The We Feeling yang lahir dari KAA 1955.

Rabu, 11 November 1969 posisi Indonesia dalam persoalan Irian Barat terpojok oleh mosi Ghana dalam Sidang Umum PBB. Di saat genting itu, Indonesia mendapat pertolongan dari Ketua Delegasi Aljazair, yaitu Yazid. Yazid menawarkan bantuan kepada rombongan delegasi Indonesia untuk menjawab argumentasi Ghana. Awalnya penawaran itu memang sempat ditolak delegasi Indonesia karena tanggapan dari delegasi Indonesia akan disampaikan oleh Mr. Sudjarwo Tjondronegoro.

Yazid membangun argumentasi yang konstruktifis. Menurutnya, pendapat yang menuduh Indonesia telah mempraktikan kolonialisme Dunia Ketiga telah melupakan peran Indonesia di KAA 1955 yang membela dan memperjuangkan kemerdekaan di Dunia Ketiga, terutama di regional Afrika.

Argumentasi Yazid menuai hasil. Hasil pemungutan suara menunjukkan bahwa ada delapan puluh suara yang bersikap mendukung Indonesia, nihil suara yang bersikap menolak, dan tiga puluh suara yang bersikap abstain. Perolehan suara itu tertera pada dokumen PBB Nomor UNGA A/PV 1803 tertanggal 19 November 1969.

Akan halnya sikap Aljazair, dukungan Aljazair terhadap posisi Indonesia dalam persoalan Irian Barat lebih banyak diwarnai oleh faktor historical ties KAA 1955. Yazid adalah salah satu delegasi peninjau pada peristiwa KAA 1955. Di masa perang kemerdekaan Aljazair (1953-1960), Yazid dan para pejuang kemerdekaan asal Maroko dan Tunisia lainnya mendapat perlindungan di Indonesia.

Sumber: Museum KAA