Diplomasi PM Ali di India untuk KAA

BANDUNG, MUSEUM KAA – Meski telah resmi mendukung usul Indonesia soal KAA di Konferensi Kolombo, keraguan terhadap kemampuan Indonesia masih menggelayuti para Perdana Menteri peserta Konferensi Kolombo, terutama PM India Jawaharlal Nehru.

Buku Sejarah Diplomasi Indonesia dari Masa ke Masa (1950-1960) dengan gamblang merekam ketegangan itu di tengah persiapan KAA. Menurut buku terbitan Kementerian Luar Negeri RI tahun 1997 itu, pendirian PM India Jawaharlal Nehru dianggap sangat penting oleh PM Ali Sastroamidjojo.

Kesan itu tercermin dari pernyataan PM Ali dalam memoarnya Tonggak-tonggak di Perjalananku. Ia menjelaskan, “Pengaruhnya waktu itu terhadap politik tetangga India di Asia bisa dikatakan besar sekali sehingga sedikit banyak tergantung pada sikap Nehru apakah negara-negara Asia lainnya akan mendukung usaha pemerintah Indonesia agar gagasan tentang KAA itu menjadi kenyataan.”

Tepat sehari usai peringatan sembilan tahun proklamasi kemerdekaan Indonesia, pada Rabu, 18 Agustus 1954 PM Nehru melayangkan sepucuk surat kepada PM Ali. Murid Mahatma Gandhi ini mengabari PM Ali batal berkunjung ke Indonesia lantaran kesibukannya di bulan September hingga Oktober 1954.

Masih di surat itu juga, PM Nehru sebaliknya mengundang PM Ali agar berkunjung ke India. Pucuk dicinta ulam pun tiba. Kesempatan itu tak disia-siakan PM Ali. Pasalnya, seperti yang ia akui, itu sudah sejak lama ia tunggu-tunggu.

Akhir September 1954 PM Ali didampingi pejabat tinggi Kementerian Luar Negeri RI berkunjung ke New Delhi, India. Pertemuan pertama antara PM Ali dan PM Nehru digelar di Rashtrapati Bhavan, tempat PM Ali menginap. Dalam pertemuan ini, menurut PM Ali, sikap PM Nehru masih berhati-hati terhadap usulan KAA meski PM Ali telah mengemukakan sekali lagi soal pentingnya KAA untuk meredakan ketegangan dunia.

Selain berjumpa PM Nehru, selama di India PM Ali berkesempatan bertemu Parlemen India. Dalam pidatonya di hadapan anggota parlemen itu, PM Ali menekankan masih ada cara lain untuk merawat perdamaian di tengah ancaman pecahnya Perang Dunia III. Tak lain dan tak bukan cara itu, menurut PM Ali, adalah dengan bekerja sama dan hidup berdampingan secara damai.

Sebab, lanjut PM Ali, kerja sama Asia dan Afrika yang erat harus segera diwujudkan. Dengan begitu, dalam pandangannya, akan lahir kekuatan dahsyat yang menuju ke arah perdamaian dunia. “Hari depan umat manusia ada pada kita, terutama di antara negara Asia dan Afrika, bangsa Asia dan Afrika. Kita tidak dapat mengingkari tanggung jawab itu,” pungkas PM Ali dalam pidatonya.

Di luar dugaan PM Ali, sambutan anggota parlemen itu luar biasa. Mereka bertepuk tangan lama seolah menyetujui gagasan KAA. Akan tetapi, PM Nehru masih tetap berhati-hati.

Sambutan positif soal KAA di India tak hanya datang dari Parlemen India, tapi juga dari Council of World Affairs di New Delhi. Pidato PM Ali sekali lagi soal gagasan perdamaian dunia melalui KAA kembali mendapat tanggapan antusias.

Sejak itu pendirian PM Nehru tak lagi terlihat ragu-ragu dan mulai yakin usulan KAA mendapat dukungan luas rakyat India. Puncaknya, PM Nehru dan PM Indonesia menyepakati sebuah Pernyataan Bersama pada Sabtu, 25 September 1954.

Dalam Pernyataan Bersama itu, kedua Perdana Menteri ini membicarakan usul untuk mengadakan KAA. Mereka sependapat konferensi itu sangat perlu lantaran akan sangat membantu usaha memperkokoh perdamaian dunia sehingga seyogianya diadakan selekas mungkin.

Pernyataan Bersama ini sangat penting bagi Indonesia yang kala itu tengah gencar menjajaki kemungkinan pelaksanaan KAA ke negara-negara Asia dan Afrika.

Sumber: Museum KAA

Share