DIRGAHAYU BANDUNG, IBUKOTA ASIA AFRIKA!

BANDUNG, MUSEUM KAA — Bandung memiliki tempat tersendiri dalam sejarah perjuangan diplomasi Indonesia. Bandung seakan menjadi mercusuar politik luar negeri Indonesia di masa depan. Tak akan lekang ditelan zaman. Delapan puluh tahun silam, gagasan Solidaritas Rakyat Asia Afrika didengung-dengungkan Bung Karno di Lapangan Tegallega Kota Bandung. Solidaritas ini kelak bermuara pada lahirnya Sepuluh Prinsip Bandung (Semangat Bandung / Bandung Spirit) pada KAA 1955. Selanjutnya, hingga saat ini Bandung Spirit diakui sebagai sumber inspirasi perdamaian dunia yang paling hakiki.

Di masa perjuangan diplomasi Indonesia, Kota Bandung menjadi saksi perjuangan salah satu tokoh diplomasi perjuangan Indonesia, Dr. Ide Agung Anak Gde Agung. Dalam upayanya guna memperjuangkan pengakuan kemerdekaan dan kedaulatan Indonesia, di Kota Bandung Dr. Ide Agung Anak Gde Agung sukses menelurkan skema perjuangan diplomasi khas Indonesia yang kelak dikenal sebagai Prinsip Bandung. Skema “Prinsip Bandung” inilah yang menghantarkan Indonesia ke Konferensi Meja Bundar di Den Hague, Belanda pada tahun 1949.

Pada tahun 1955, atas instruksi Presiden Soekarno, Kota Bandung terpilih sebagai tuan rumah perhelatan dunia. Untuk pertama kalinya dalam sejarah umat manusia, bangsa kulit berwarna bersatu di bawah panji-panji Kesetiakawanan Bangsa Asia Afrika (KAA 1955). Di masa penting itu, patut rasanya kita mengenang kembali jasa perjuangan dua tokoh penting asal Jawa Barat. Walikota Bandung (1949 – 1956) R. Enoch dan Gubernur Jawa Barat (1951 – 1957) Sanusi Hardjadinata telah berperan penting mensukseskan KAA 1955.

Perdana Menteri India, Jawaharlal Nehru menaruh hati atas suksesnya KAA 1955 di Kota Bandung. Pada Sidang Penutupan KAA 1955, Minggu, 24 April 1955 di Gedung Merdeka, Nehru dengan bangga menyebut Bandung sebagai Ibukota Asia Afrika. Pasca KAA 1955, nama Bandung berkumandang ke penjuru dunia.

Pada tahun 1957, terinspirasi dari Bandung Spirit, Vera Micheles Dean dalam bukunya The Land of Bandungia, The Nature of the Non-Western World menandai era baru kebangkitan dunia ketiga sebagai Bandungia. Bahkan, pada tahun 2005 nama Bandungia kembali disinggung Sondlo Mhlaba dalam bukunya yang berjudul Incentive Based Franchise: A New Model For World Governance. Pada Bab ke-4 yang membahas tentang Diplomasi Abad ke-20, Mhlaba secara eksplisit mengakui dampak Bandungia terhadap peningkatan kemampuan diplomasi negara-negara Asia Afrika.

Di belahan benua Afrika, Kota Bandung terekam dalam artifak sosial masyarakat. Nama Bandung diabadikan dalam sebuah lagu perjuangan “Al Muktamar min Bandung” di Sudan dan, bahkan, menjadi nama jalan di Maroko dan Libya. Di Amerika Serikat, Malcolm X dalam pidatonya A Message from Bandung (10 November 1963) menyebut Bandung sebagai peletak nilai-nilai dasar perjuangan bangsa kulit berwarna yang terpenting.

Pasca KAA 1955, Kota Bandung dipercaya kembali menjadi tuan rumah berbagai perhelatan konferensi lanjutan, di antaranya; Konferensi Mahasiswa Asia Afrika (1956), Sidang Dewan Setiakawan Rakyat Asia Afrika (1961), Konferensi Islam Asia Afrika (1965), dan Kongres Pertama Organisasi Islam Afrika Asia (1970), dan masih banyak lainnya.

Hingga kini, berbagai skema kerangka kerja sama berbasis Bandung Spirit terus menerus dikembangkan dan berkelanjutan, misalnya New Asian-African Strategic Partnership (NAASP) yang disepakati di Kota Bandung pada Sabtu, 24 April 2005.

Dirgahayu Bandung, Ibukota Asia Afrika! (spnkaa/dsa)

Share