Edukator Museum KAA Ini Raih Predikat ‘Peserta Terajin’ dari Disbudpar Kota Bandung

foto5Edukator Museum KAA Wisnu Azi Firdaus bergambar bersama para peserta penerima predikat terbaik lainnya dalam acara Pelatihan Pemandu Wisata Budaya Museum di Hotel Best Western Premier La Grande, Kamis, 11 Juli 2019. (Foto: Wisnu)

BANDUNG, MUSEUM KAA – Edukator Museum KAA Wisnu Azi Firdaus yang karib disapa Wisnu itu dianugerahi sebagai ‘Peserta Terajin’ dalam acara pelatihan Pemandu Wisata Budaya Museum di Hotel Best Western Premier La Grande selama tiga hari mulai tanggal 9 hingga 11 Juli 2019. Atas prestasinya itu, Wisnu berhak mendapat piagam penghargaan yang diterbitkan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Bandung dan Asosiasi Museum Indonesia Daerah Jawa Barat (Amida Jabar).

Alumni Program Studi Pendidikan Bahasa Arab UPI Bandung itu mengaku perkara penghargaan bukan soal biasa baginya, “Saya tidak menyangka bakal menerima penghargaan ini. Padahal, saya merasa biasa-biasa saja.” Sebab, menurutnya, kriteria penghargaan ‘Peserta Terajin’ tidak mudah, yaitu hadir tepat waktu, tidak melakukan pelanggaran tata tertib pelatihan, dan mempersiapkan diri pada setiap kegiatan.

Selain penghargaan itu, terang Wisnu, terdapat dua pengargaan lain, yaitu ‘Peserta Terbaik’ yang diraih peserta dari Museum Pendidikan Nasional UPI, dan ‘Peserta Terapi’ yang diraih peserta dari Museum Mandalawangsit.

foto2Edukator Museum KAA Wisnu Azi Firdaus tengah mempraktikan model interpretasi koleksi di Museum Sri Baduga kepada peserta acara Pelatihan Pemandu Wisata Budaya Museum pada Kamis, 11 Juli 2019. (Foto: Wisnu)

Selama pelatihan, ia mengatakan, banyak ilmu dan pengalaman baru. Semuanya sangat bermanfaat menunjang tugasnya selaku edukator di Museum KAA. Bukan saja karena materinya yang tepat, tapi juga para narasumbernya yang berlatar belakang profesional di bidang pramuwisata.

Ia mencontohkan teknik ice breaking dan public speaking. Dua hal ini paling menentukan keberhasilan seorang edukator ketika membimbing pengunjung museum. “Selain detil koleksi, dua faktor tadi bila kurang dipahami akan menyebabkan edukator kurang menarik menceritakan pesan koleksi, intinya bagaimana seorang edukator atau pemandu menginterpretasi sebuah cerita atau koleksi di Museum” ujarnya.

foto1Peserta acara Pelatihan Pemandu Wisata Budaya Museum tengah menerima materi tentang Peran dan Fungsi AMIDA Jawa Barat dari Sekretaris Jenderal Amida Jabar Drs. Bambang Subarnas (Foto: Wisnu)

Acara ini digelar atas kerja sama antara Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Bandung (Disbudpar), Asosiasi Museum Indonesia Daerah Jawa Barat (Amida Jabar), dan Himpunan Pramuwisata Indonesia (HPI) Jawa Barat di Hotel Best Western Premier La Grande Jalan Merdeka Bandung. Dalam acara itu panitia mengundang 40 peserta. Semua berasal dari museum yang berada di wilayah Kota Bandung. Menurut Ketua Amida Jabar Koesnadi Andiwilaga dalam pidato sambutannya, melalui pelatihan itu pihaknya berharap kualitas SDM museum di Jawa Barat dapat makin terasah demi kualitas pelayanan yang lebih baik.

Wisnu dikenal sebelumnya sebagai relawan Sahabat Museum KAA sejak tahun 2011. Sejak pertama kali bergabung, ia sudah akrab dengan akitifitas pemanduan museum. Pasalnya, sebagai relawan ia memilih bergabung pada Klab Edukator Sahabat Museum KAA.

Selama itu, ia dibekali teknik bimbingan dan edukasi layaknya edukator museum. Dalam berbagai kesempatan, ia tampil menyajikan kisah-kisah inspiratif KAA kepada para pengunjung Museum KAA. Sebelum menahkodai Sahabat Museum KAA periode 2013-2014, ia juga sempat mendirikan dan aktif mengembangkan kajian bahasa dan budaya di Klab Nahnu Arabiyyun Sahabat Museum KAA.

Tepat di tahun 2018 ia resmi bergabung sebagai edukator Museum KAA.

Sumber: Museum KAA

Share