AMIDA Jabar Gelar Diskusi Publik Ungkap Sosok Raffles

1Kurator The British Museum Dr. Alexandra R. Green dan principal cartographer Institut Teknologi Bandung Dr. Dicky A.S. Soeria Atmadja berfoto bersama Kepala Museum KAA Meinarti Fauzie dan Sekretaris Jenderal Amida Jabar Bambang Subarnas usai acara diskusi publik di Museum KAA, Sabtu (16/3/2019). (Sumber Foto: Dok. Museum KAA)

BANDUNG, AMIDA JABAR – Melalui sejumlah riset kartografi, Jawa terbukti pernah menjadi arena perang dagang antar imperium Eropa. Belanda dan Inggris berseteru hebat soal penguasaan kekayaan alam di pulau ini. Peristiwa ini kelak terkait erat dengan nasib Jawa sebagai sebuah daerah koloni.

Setelah diangkat sebagai Letnan Gubernur Jenderal, Raffles mendapat mandat dari Lord Minto, Viceroy (Raja Muda) Inggris di India. Hal itu menandai dimulainya pemerintahan Inggris di Jawa sejak tahun 1811. Pengangkatan ini menyusul keberhasilan ekspedisi militer Inggris merebut Jawa dari kekuasaan Prancis – Belanda.

Sebagai seorang Letnan Gubernur Jenderal, Raffles memiliki perhatian sangat besar terhadap budaya yang ada di Jawa. Indikasinya, banyak ekspedisi budaya yang dilakukan dalam kurun masa pemerintahannya sejak 1811 sampai ia ditarik kembali ke Inggris tahun 1816.

Hal itu diungkap principal cartographer Institut Teknologi Bandung Dr. Dicky A.S. Soeria Atmadja pada acara diskusi publik bertajuk “RAFFLES, Invasi Inggris ke Jawa & Artefak Kita yang ‘Kembali’” di Museum KAA, Sabtu, (16/3/2019), pukul 19.30-21.00WIB.

2Principal cartographer Institut Teknologi Bandung Dr. Dicky A.S. Soeria Atmadja saat menjelaskan hasil risetnya di bidang Historical Cartography. (Sumber Foto: Dok. Museum KAA)

Simbol-simbol ini bermakna jejak pertahanan militer pemerintah kolonial Belanda untuk menghadang invasi Inggris ke Pulau Jawa,” jelas Dr. Dicky sambil menunjuk ke sejumlah titik pada peta kuno dalam presentasinya “Raffles & the British Invasion of Java, a Historical Cartographic Approach.

Menurutnya, hasil risetnya selama ini dalam bidang Historical Cartography terbagi dalam tiga tahap mulai dari invasi, administrasi, hingga ekspedisi budaya. “Saat ini baru tahap invasi dulu,” kata Dr. Dicky yang mengenakan ikeut sunda petang itu.

Sebagai seorang kartografer, ujarnya, semua riset yang ia lakukan berdasarkan hasil kajian kartografi (red - gambar peta) Batavia pada abad ke-19.

Jejak-jejak Raffles, imbuhnya, masih terasa sampai saat ini walau 200 tahun telah berlalu. Di antaranya, keberadaan artifak-artifak dari Jawa di Inggris yang diperolehnya baik secara paksa maupun hasil jual beli.

Artifak-artifak itu saat ini tesimpan dan terawat dengan baik di The British Museum maupun The British Library di London,” terangnya.

Sementara itu, kurator bagian Asia Tenggara dari The British Museum Dr. Alexandra R. Green dalam paparannya “Raffles’, Javanese Collections: Evidence for European Ideas” mengungkap dan mempresentasikan berbagai kisah dan temuan tentang sejumlah artifak peninggalan Raffles.

Ini adalah hasil dari riset selama bertahun-tahun di Indonesia maupun di Inggris,” katanya sambil memperlihatkan sejumlah contoh artifak koleksi The British Museum yang dibawa Raffles dari Pulau Jawa.

Mungkin Raffles lebih dikenal sebagai sosok militer. Padahal, ia juga memperlihatkan minat yang besar terhadap kebudayaan, khususnya di Pulau Jawa,” kata Dr. Alexa yang meraih gelar doktor di Universitas London itu.

3Kurator bagian Asia Tenggara dari The British Museum Dr. Alexandra R. Green memperlihatkan sejumlah contoh artifak koleksi yang dibawa Raffles dari Pulau Jawa. (Sumber Foto: Dok. Museum KAA)

Ia menjelaskan, cara kerja Raffles saat itu terhadap koleksi bak kurator museum modern. “Sudut pandang Raffles ketika memutuskan pilihan obyek untuk koleksi persis seperti cara kerja kurator museum,” ucapnya.

Raffles, imbuhnya, dengan latar belakang cara pikir budaya Eropa modern, saat itu telah melihat kebudayaan dalam kategori budaya tinggi dan budaya rendah.

Peningkatan Kapasitas

Kepala Museum KAA Meinarti Fauzie mengatakan, sosok Raffles begitu lekat dengan sejarah Indonesia. Namanya dikenal sebagai penulis Sejarah Jawa. Bahkan, diabadikan sebagai nama Latin Bunga Bangkai, Raflessia Arnoldii.

Kendati begitu, faktanya tak banyak publik kini yang tahu siapa sosok ini dan bagaimana kiprahnya. Padahal, sejumlah karyanya dapat membantu menyingkap catatan sejarah di sejumlah daerah Indonesia pada masa kolonial.

“Jadi, kami mendukung acara diskusi ini. Sebab, acara ini kesempatan emas untuk meningkatkan wawasan dan kapasitas terutama bagi para pengelola museum, pengurus, dan anggota Amida Jabar serta pemerhati sejarah dan museum,” katanya.

4Suasana acara diskusi publik bertajuk “RAFFLES, Invasi Inggris ke Jawa & Artefak Kita yang ‘Kembali’” di Museum KAA. (Sumber Foto: Dok. Museum KAA)

Senada dengan itu, Sekretaris Jenderal AMIDA Jabar Bambang Subarnas mengatakan, buku tentang Raffles di Indonesia hadir belum terlalu lama. Alhasil, pengetahuan publik soal kiprahnya di Indonesia pada masa itu juga masih terbatas.

Untuk itu, ia mendorong agar pegiat AMIDA Jabar melalui acara itu dapat memperoleh kesadaran akan ‘kembali’-nya ingatan tentang artifak-artifak tersebut sebagai bagian dari warisan bangsa Indonesia.

Sebagai bangsa, diskusi publik ini tentu dapat memunculkan harapan, suatu hari nanti warisan itu akan benar-benar kembali,” pungkasnya.

Acara diskusi publik ini terselenggara berkat kerja sama antara Museum KAA dan Amida Jabar serta Center for Remote Sensing Institut Teknologi Bandung.

Sumber: Amida Jabar

Share