Anak-anak Belajar Daur Ulang Sampah Lewat Dongeng di Pekan Literasi Asia Afrika

storytelling

Siswa-siswi SLBN A Kota Bandung tengah menyimak kisah ‘Samsi dan Kotak Daur Ulang’, Jumat petang (4/10/2019) dalam acara PLAA di Museum KAA. (Foto: Dok. Museum KAA)

BANDUNG, MUSEUM KAA – Gilby Maleeq (7 tahun), salah satu siswa SLBN A Kota Bandung bergeming, sambil duduk bersila, menyimak dengan tenang kisah ‘Samsi dan Kotak Daur Ulang’. “Senang di sini (red-Museum KAA). Ini pertama kali ke sini. Saking senangnya saya pengen nginep dua hari di sini,” ujar Gilby sambil tersenyum.

Kisah ‘Samsi dan Kotak Daur Ulang’ dituturkan edukator relawan Sahabat Museum KAA Fitri, Jumat petang (4/10/2019) di Ruang Oval Museum KAA, Jalan Asia Afrika No.65 Bandung. Fitri petang itu tengah bertindak sebagai juru dongeng dalam acara storytelling yang digelar dalam rangkaian acara Pekan Literasi Asia Afrika (PLAA). Ia tak sendiri. Bersamanya, masih ada 10 pendongeng lainnya.

Mereka mendampingi sedikitnya 130 siswa usia Sekolah Dasar asal 11 sekolah di Kota Bandung yang datang ke Museum KAA untuk menghadiri acara storytelling. Mereka terbagi menjadi 11 kelompok dan tersebar di sejumlah titik di dalam Museum KAA.

Setiap kelompok ditemani seorang pendongeng. Pendongeng dan anak-anak sama-sama duduk bersila di tikar sambil membentuk setengah lingkaran. Pendongeng duduk di depan menuturkan kisah ‘Samsi dan Kotak Daur Ulang’. Tangan sang pendongeng bergerak lincah memeragakan tokoh-tokoh dalam kisah itu. Suara sang pendongeng berganti-ganti intonasinya menirukan karakter setiap tokoh.

Sesekali terdengar tawa riuh rendah anak-anak mentertawakan tingkah laku tokoh yang diperagakan sang pendongeng. Kadang pula mulut mereka tertutup rapat, mata menatap tajam, dan hening lantaran terpapar ketegangan kisah sang pendongeng. Demikian suasana storytelling di Museum KAA di hari pertama pelaksanaan acara PLAA pekan ini.

storytelling2

Siswa-siswi peserta acara storytelling tengah berswafoto bersama Kepala Pusat Pendidikan dan Pelatihan Kemenlu Yayan G.H. Mulyana dan Kepala Museum KAA Meinarti Fauzie, Jumat petang (4/10/2019) dalam acara PLAA di Museum KAA. (Foto: Dok. Museum KAA)

Seperti yang dituturkan oleh para pendongeng petang itu, kisah ini berawal ketika Samsi memungut sampah-sampah dari sebuah taman ria. Lantas, ia membawa pulang sampah-sampah itu dalam sebuah kotak kardus. Di dalam kardus itu terdapat kertas, kaleng, botol plastik, kemasan plastik, botol teh, dan botol pembersih.

Di tengah perjalanan menuju rumah, terjadi kejadian aneh. Sampah-sampah dalam kotak kardus itu dapat berbicara satu sama lain. Samsi tak menyadari itu. Sampah-sampah itu mengkhawatirkan nasibnya kelak di rumah Samsi. Mereka merindukan kehidupan mereka yang dulu. Di tengah rasa putus asa itu, kardus menyapa para sampah. Ia mencoba menenangkan mereka.

Menurut sang kardus Samsi nanti mengubah mereka jadi cantik dan menawan kembali. Sayangnya, botol plastik tak mempercayainya begitu saja dan kemudian melarikan diri. Botol plastik kembali ke tempat asalnya dulu di sebuah saluran air yang dingin, gelap, dan pengap. Ia membendung saluran air itu supaya air menggenang dan akhirnya menenggelamkan manusia. Botol plastik rupanya masih menyimpan dendam akibat merasa dicampakkan begitu saja oleh manusia dahulu.

Di tengah ketegangan itu, kawan-kawan botol plastik dari rumah Samsi datang menemuinya. Botol plastik tercengang melihat botol teh yang tampil cantik. Nyaris saja ia tak mengenalinya. Botol teh kini tampil berubah menjadi botol hidroponik berkat tangan dingin Samsi.

Akibatnya, botol plastik berubah pikiran. Botol plastik ingin kembali ke rumah Samsi. Botol plastik ingin berubah jadi lebih baik seperti botol teh. Botol plastik ingin kembali gagah dan dihargai manusia kembali.

Usai mendengarkan dongeng, para pendongeng lantas mengajak anak-anak untuk belajar mendaur ulang sampah. Di antaranya mengubah cangkir minum plastik menjadi tempat alat tulis atau wadah serba guna.

Menurut Kepala Museum KAA Meinarti Fauzie, kisah ‘Samsi dan Kotak Daur Ulang’ sengaja dipilih dalam acara kali ini lantaran memuat pesan edukasi yang baik bagi anak-anak agar turut peduli terhadap upaya mengelola dan mengurangi sampah.

Dalam setiap gelaran PLAA sejak tahun 2014 silam, acara storytelling sudah rutin digelar. “Melalui acara ini, pihaknya berharap anak-anak makin dekat dengan literasi,” terang Kepala Museum KAA Meinarti Fauzie.

Sumber: Museum KAA

Share