Buka PLAA di Bandung, Direktur Infomed Kemlu Ingatkan Prinsip ‘Good Intention’ dalam Literasi Digital

pembukaan-plaa

Direktur Informasi dan Media selaku Plt. Direktur Diplomasi Publik Kemlu Listiana Operananta, Jumat pagi (4/10/2019) membuka resmi acara PLAA ke-6 di Museum KAA, Jalan Asia Afrika No.65 Bandung. (Foto: Dok. Museum KAA)

BANDUNG, MUSEUM KAA – Prinsip good intention harus dipegang teguh sebelum menyebarkan informasi secara digital. Hal itu ditegaskan oleh Direktur Informasi dan Media selaku Plt. Direktur Diplomasi Publik Kemlu Listiana Operananta, Jumat pagi (4/10/2019) kala membuka resmi acara Pekan Literasi Asia Afrika (PLAA) ke-6 di Museum KAA, Jalan Asia Afrika No.65 Bandung. Sebab menurutnya, dalam memanfaatkan teknologi, selain kecerdasan diperlukan juga kearifan digital.

Kearifan digital ini, jelasnya, menjadi begitu penting sebagai sebuah prinsip kala semua informasi kini tengah bergerak secara bebas dan cepat. Alhasil, melalui prinsip ini, semua dituntut agar teliti dan mau mempertanyakan segala informasi. “Informasi yang kita terima baiknya divalidasi dulu dengan data-data dukung yang cukup terutama apabila kita akan menyebarkan informasi itu secara digital,” imbuhnya.

Selain itu, ia juga mengutarakan alasan betapa pentingnya prinsip good intention di tengah tingginya penetrasi internet dan jumlah pengguna media sosial di Indonesia. Semua itu tidak akan membawa kebaikan berarti bagi negara jika perilaku pengguna internet dalam memanfaatkan teknologi tidak disertai dengan kecerdasan dan kearifan digital.

Terkait tingginya aktifitas warga Indonesia di dunia maya, ia merinci, dengan populasi lebih dari 200 juta jiwa pada tahun 2019, Indonesia menjadi salah satu negara dengan penetrasi internet yang tertinggi, yaitu 63%. Bahkan, lanjutnya, dalam hal pemanfaatan sosial media jumlah pengguna jaringan media sosial di Indonesia sangat signifikan. “Pengguna Facebook bahkan mencapai 130 juta jiwa. Pengguna Twitter sudah masuk jajaran kelima di dunia, sekitar 77% untuk pengguna aktif dan mengirimkan sekitar 4,1 milyar cuitan dalam setahun,” jelasnya.

Data statistik itu menunjukkan betapa besar hal-hal yang telah disampaikan warga Indonesia melalui media sosial. Akan tetapi, bagai dua sisi mata uang, ia mengingatkan perlunya kewaspadaan bersama akan keadaan itu. Pasalnya, besarnya akses terhadap informasi ini memang memberikan banyak hal, termasuk di satu sisi menjadi sumber persatuan tapi juga di sisi lain berpeluang sebagai sumber perpecahan.

Menyoal akses informasi itu, ia mengibaratkannya sebagai harta atau wealth of data yang lebih besar dibandingkan dari sekedar kepemilikan terhadap sumber daya, bahkan, sekaligus berpotensi mendorong Indonesia menjadi sebuah negara yang terdepan dalam menentukan arah kebijakan global.

Menutup sambutannya, ia menyampaikan acara PLAA merupakan salah satu kontribusi dari Kemlu melalui Museum KAA dalam mencerdaskan bangsa terutama generasi muda Indonesia yang memiliki eksposur sangat tinggi terhadap literasi digital.

Mereka juga para penggguna internet mengemban tugas membawa Indonesia sebagai negara terdepan dalam percaturan global”, pungkasnya.

Selanjutnya didampingi Kepala Museum KAA Meinarti Fauzie dan Ketua Asosiasi Museum Indonesia (AMIDA) Jawa Barat Koesnadi Andiwilaga, Direktur Informasi dan Media melakukan pengguntingan pita menandai secara simbolis peresmian acara PLAA dan berkeliling meninjau pameran literasi dan bazar di lingkungan Museum KAA.

Acara pembukaan dihadiri para pegiat literasi dari berbagai kementerian dan lembaga, pengelola museum di Jawa Barat, Asosiasi Museum Indonesia Daerah Jawa Barat serta berbagai komunitas mitra kerja Museum KAA dan Sahabat Museum KAA.

Acara akan berlangsung selama tiga hari, yaitu 4-6 Oktober 2019 mulai pukul 08.00-16.00WIB. Rangkaian acara terdiri atas pameran literasi dan bazar buku, diskusi film, diskusi buku, diskusi teknologi, dan mendongeng.

Sumber: Museum KAA

Share