Buku Googling Gutenberg, Keresahan Akan Kemajuan Teknologi

bAtep Kurnia, penulis buku Googling Gutenberg mendaras sendiri bukunya Googling Gutenberg di Ruang Galeri 1 Museum KAA, Rabu, (24/7/2019). (Foto: AARC)

Judul :Googling Gutenberg |Penulis :Atep Kurnia | Penerbit :ITB Press | Diperbaharui :2019 | Kategori :Pendidikan

Atep Kurnia, penulis buku Googling Gutenberg hadir memenuhi undangan dari Asian-African Reading Club (AARC) dalam acara diskusi buku Googling Gutenberg di Ruang Galeri 1 Museum KAA, Rabu, (24/7/2019). Berbalut pakaian kasual lengkap dengan tas dipunggung, ia datang sore itu seraya mengumbar senyum manis dan candaan ringan menyapa sahabat literasi yang hadir.

Atep Kurnia yang akrab disapa Kang Atep itu membaca bukunya dengan nyaring di tengah-tengah peserta diskusi. Menurutnya, pengalaman itu memberinya rasa dan sensasi tersendiri. Seperti yang ia akui, “Membaca nyaring karya sendiri tadi malam di Museum KAA, rasa-rasanya kata-kata di atas kertas itu terus terngiang-ngiang di kepala. Kata-kata yang dilisankan memang bertuah”.

Buku Gooling Gutenberg merupakan serpihan tulisan yang berserakan (tayang) pada beberapa media cetak lokal dan nasional dalam rentang waktu beberapa tahun. Isinya banyak menyinggung masalah-masalah yang berkaitan dengan literasi, pengaruh internet terhadap budaya, sepak terjang media, media sosial, dan lain-lain.

aPeserta acara tadarussan buku Googling Gutenberg tengah mendaras buku di Glaeri 1 Museum KAA, Rabu, (24/7/2019. (Foto: AARC)

Perkembangan teknologi membuat semua hal berubah semakin cepat, termasuk mengubah gaya hidup. Terutama, semenjak kemunculan media sosial. Perkembangan literasi pun tak luput dari dampaknya. Demikian pula dengan kebudayaan Sunda. Ada kemungkinan kelisanan kedua yang turut dipengaruhi oleh keberadaan internet. Lantas, bagaimana kiranya kelisanan (orality) dan keberaksaraan (literacy) dalam transformasi kultural dan teknologis dari zaman Eyang Gutenberg hingga zaman Embah Google?

Tadarusan dan Diskusi Buku Googling Gutenberg berlanjut hingga minggu depan, Rabu 31 Juli 2019, pukul 16.45 – 20.00 WIB di Ruang Galeri 1 Museum KAA, Bandung. Jadi, sahabat yang belum mengikuti acara ini, masih ada kesempatan don’t miss it!

Kegiatan ini terselenggara atas kerja sama antara Museum KAA dan AARC, terbuka untuk publik, dan gratis.

Sumber: Museum KAA

Share