Buku ‘Sepatu Orang Lain': Inspirasi untuk Mulai Berani Menulis

mia

Sekretaris BPPK Kemlu Eko Hartono, penulis buku Mia Saadah, dan Kasubag Perpustakaan Diplomasi Kemenlu Wahyu Kumoro dalam acara bedah buku ‘Sepatu Orang Lain’, Sabtu (5/9/2019) di Ruang Audiovisual Museum KAA. (Foto: Dok. Museum KAA)

BANDUNG, MUSEUM KAA – Buku ‘Sepatu Orang Lain’ karya Mia Saadah dibedah di Museum KAA, Sabtu (5/10/2019) dalam rangkaian acara Pekan Literasi Asia Afrika (PLAA). Acara bedah buku ini digawangi oleh Perpustakaan Diplomasi Kemlu.

Acara bedah buku ini terasa makin istimewa lantaran sang penulisnya sendiri Mia Saadah turut hadir mengupas langsung buku yang ia tulis setebal 192 halaman itu. Apalagi, Sekretaris BPPK Kemlu Eko Hartono sengaja datang ke Bandung untuk membuka sendiri acara bedah buku ini.

Setiap peristiwa pasti mengandung makna. Tidak jarang kita bisa menangkap makna dari setiap peristiwa itu dalam bingkai hikmah, meski sering juga berlalu begitu saja,” ujar Mia mengawali paparannya di hadapan para peserta bedah buku di Ruang Audiovisual Museum KAA di Jalan Asia Afrika No.65 Bandung.

Lantas, ia menambahkan, “Allah mengirimkan pesan dan inspirasi melalui celoteh anak, sapaan tetangga, obrolan saat berkumpul dengan kawan, bahkan melalui sehelai daun jatuh dari pohon saat kita melintasi jalan.”

Kemudian ia mengajukan pertanyaan retoris, “Bagaimana jika hidup ternyata cuma sebentar? Apakah kau akan memilih mengisinya dengan keluh atau memilih menghabiskannya dengan syukur penuh?”

Makin mendalam lagi, ia kembali bertanya sambil mencoba menjawabnya sendiri, “Apa itu definisi hidup bahagia? Bagaimana mengukurnya? Karena bukankah kadar bahagia tiap orang itu berbeda? Lalu, mengapa kita masih saja sering kali mengukur kaki sendiri delam sepatu orang lain?”

Rentetan pertanyaan itu, ia akui, yang telah melatari kemunculan buku yang ia bedah kali ini.

Mia menjelaskan, bukunya merupakan kumpulan tulisan yang terinspirasi dari kehidupan sehari-hari sebagai ibu, anak, sahabat, perempuan, dan istri seorang diplomat. “Kisah-kisah dalam buku ini merupakan kisah yang sederhana tapi bermakna sangat mendalam,” imbuhnya.

Sebagai istri diplomat ketika mendampingi tugas suami di Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Damaskus ketika konflik Suriah bergejolak tahun 2016, kemudian dipindah-tugaskan ke KBRI Bern-Swiss tahun 2017, tulisan Mia merekam banyak hal yang terbagi menjadi 24 tulisan. Tak heran, ungkap ibu dua orang anak ini, tulisan-tulisan itu berwujud catatan harian ringan soal kehidupan.

Tulisan Mia ini sendiri sebelum terbit resmi pada 1 September 2017 sempat viral dibagikan di banyak media sosial 1,5 tahun sebelumnya atau tepatnya pada Mei 2016. Tapi sayangnya tanpa menyebutkan nama penulis aslinya. Sejak itu, bukunya banyak beredar di jaringan toko buku besar di seluruh Indonesia.

Kepala Museum KAA Meinarti Fauzie mengatakan, bedah buku ini bisa menginspirasi siapa pun untuk dapat menulis dari hal-hal sederhana dalam kehidupan sehari-hari. “Inspirasi itu yang penting bagi peserta bedah buku ini. Mudah-mudahan peserta PLAA kali ini ada yang mulai tergerak untuk mulai menulis lantaran terkena inspirasi Ibu Mia,” katanya.

Sumber: Museum KAA

Share