Calendar

Share
Apr
23
Tue
Pemutaran dan Diskusi Film Nobody Knows (2004) @ Galeri I Museum KAA
Apr 23 @ 16:00 – 20:00
layarkita
Nobody Knows (2004)
Selasa, 23 April 2019
Pukul 16.00-20.00WIB
di Ruang Galeri 1 Museum Konferensi Asia Afrika
Kerjasama komunitas LayarKita dengan Museum Konferensi Asia Afrika
 
Nobody Knows menceritakan tentang sebuah keluarga yang terdiri dari seorang anak dan ibunya yang baru saja pindah ke apartemen baru. Anak-anak hidup di apartemen itu secara sembunyi-sembunyi tanpa ada yang mengetahui, dan penghuni resmi apartemen itu hanyalah sang ibu dan anak sulung yang berusia 12 tahun.
 
Suatu hari sang ibu menghilang begitu saja dan hanya menitipkan uang dan menyuruh si sulung untuk bertanggung jawab. Mereka berusaha bertahan hidup dengan uang yang dititipkan sang ibu sebelum mereka pergi. Dan tentu saja uang itu akan habis.
Film Nobody Knows (Dare Mo Shiranai) disutradarai oleh Hirokazu Koreeda, dirilis tahun 2004. Dan telah menyabet beberapa penghargaan.
 
Setelah pemutaran film akan dilanjutkan dengan diskusi santai.
 
GRATIS DAN TERBUKA UNTUK UMUM.
Share
Jul
16
Tue
Pemutaran dan Diskusi Film ‘The Chef of South Polar (2009)’ @ Galeri I Museum KAA
Jul 16 @ 16:00 – 20:00

layarkita“Ini Stasiun Dome Fuji. Sekitar 10.000 kilometer dari Pantai Showa. Terletak di atas gunung pedalaman. Suhu rata-rata -54 derajat celsius. Ketinggian sekitar 3.800 meter lebih tinggi dari gunung Fuji. Tidak ada pinguin dan anjing laut. Bahkan bakteri tidak dapat hidup disini. Area yang sangat dingin.”

Berikut narasi pembuka dalam film komedi karya sineas Jepang, Shuichi Okita ini. Berkisah tentang sebuah tim penelitian Ekspedisi Antartika berisi 8 (delapan) personel, yang harus tinggal selama satu setengah tahun di Kutub Selatan. Ada Taichou si ketua yang ceroboh, Nii-yan anggota termuda dalam tim, Hira-san si Aerolog, Bon sebagai penganggung-jawab komunikasi, seorang ahli medis pemabuk yang mereka panggil ‘Dokter’, Shunnin si pemelihara kendaraan, Moto-san si ilmuwan es dan salju, serta Jun si chef yang berperan sebagai pencerita utama dalam film.

Diangkat dari tulisan otobrigrafi Jun Nishimura, seorang chef coast guard dari Hokkaido yang berkesempatan untuk bergabung dalam Team Ekspedisi Antartika milik Jepang di tahun 1989 dan 1997 –film ini menunjukkan hal-hal jenaka, kejadian menyentuh, serta peristiwa luar biasa yang dilewati tim Observasi Antartika 38. Dari krisis eksistensi yang muncul karena stock mie instan yang habis, sampai kerja keras tim untuk menyuling air tawar dari salju agar bisa makan malam lobster goreng -film ini membangun cerita nya di sekitar meja makan. Makanan digambarkan sebagai satu-satunya ikatan stabil yang dimiliki para anggota tim dengan peradaban dan normalitas, dalam kondisi hidup mereka yang jauh dari normal.

Dalam perjuangan mereka melawan sulitnya beradaptasi, rasa rindu, dan iklim yang tidak bersahabat -terbentuk suatu jalinan solidaritas yang unik. Setiap hari, tantangan baru muncul untuk tim, tetapi selama ada makanan enak di atas meja, nampaknya mereka akan baik-baik saja. Meskipun film ini berlatar di tempat dengan iklim terdingin di dunia, The Chef of South Polar merupakan sebuah film feel-good yang dapat menghangatkan hati siapapun yang menonton nya. Pastikan saja, jangan ditonton dengan perut kosong!

Setelah pemutaran film ini akan dilanjutkan dengan diskusi santai.

Gratis dan terbuka untuk umum. Sangat disarankan untuk membawa cemilan.

Share
Jul
17
Wed
Diskusi Buku ‘Rasta dan Perlawanan (2009)’ @ Galeri I Museum KAA
Jul 17 @ 16:45 – 20:30

IMG-20190716-WA0037Rambut gimbal, musik Reggae, dan Ital food merupakan lambang yang memiliki tujuan. Namun di Indonesia, ada kesalahan persepsi tentang hal ini. Selain atribut yang digunakan oleh penggemar musik Reggae, musik ini juga identik dengan Rasta dan ganja. Oleh karena itu, melalui Buku ‘Rasta dan Perlawanan’ karya Horace Campbell komunitas literasi Asian-African Reading Club (AARC) akan membedah tentang perjuangan Rasta dengan ideologi dan tujuan untuk melepaskan diri dari perbudakan.

Buku ini menceritakan asal-usul gerakan Rastafari, perkembangan dan dinamikanya yang memaksa jutaan warga Afrika bermigrasi ke Amerika untuk menjadi budak perkebunan tebu pada abad ke-18. Selain itu, buku ini juga mengupas tentang bagaimana melepaskan diri dari tuduhan Eskapis, Cultist, dan Repatriasi sebelum akhirnya mendapat status konsultatif dari PBB tahun 1996.

Mendunianya gerakan Rastafarian tidak lepas dari peran Bob Marley penyanyi asal Jamaika melalui musiknya yang bergenre Reggae dan berhasil menyedot jutaan orang menjadi Rastafarian. Musik ini kini tidak hanya didominasi orang kulit hitam tetapi orang kulit putih. Bahkan, Thailand, Indonesia, dan Maori pun ikut dalam gerakan ini.

Sahabat literasi, Rabu 17 Juli 2019, AARC akan menggelar acara Tadarusan dan Diskusi Buku ‘Rasta dan Perlawanan’ karya Horace Campbell pkl 16.45 sd 20.00WIB di Ruang Galeri 1 Museum Konferensi Asia Afrika, Jalan Asia Afrika No.65 Kota Bandung.

Acara ini merupakan kegiatan rutin mingguan yang diselenggarakan oleh AARC untuk sahabat literasi dan gratis serta terbuka untuk umum.

Buat kalian yang merupakan bagian dari gerakan Rastafarian, datanglah untuk berbagi dan berdiskusi, dont miss it!

Share
Aug
6
Tue
Pemutaran dan Diskusi Film DRACULA (1931) @ Galeri I Museum KAA
Aug 6 @ 16:00 – 20:00

layarkita

DRACULA (1931)
Selasa, 06 Agustus 2019
Pukul 16.00 – 20.00 WIB
di Ruang Galeri 1 Museum Konperensi Asia Afrika
Kerjasama Museum Konperensi Asia Afrika dengan Komunitas LayarKita

Didasarkan dari buku gothic-horor terkenal karya Bram Stroker dengan judul yang sama, Dracula merupakan salah satu adaptasi pertama dari cerita tersebut dalam bentuk karya sinema. Juga merupakan film horor pertama yang direkam dengan suara sinkron, film ini dikenal sebagai karya klasik yang diakui di kalangan pencinta film.
Bercerita tentang Count Dracula (Bela Lugosi), seorang bangsawan Transylvania dan upayanya untuk bergabung dengan komunitas kelas atas London, untuk mencari mangsa dan mendatangkan malapetaka.

Cerita diawali dengan agen real-estate Renfield yang melakukan perjalanan ke Transylvania untuk mengadakan pertemuan bisnis dengan Count Dracula (Bela Lugosi) – seorang bangsawan misterius, yang tertarik untuk menyewa dan menempati bangunan Carfax Abbey di London. Dalam pertemuan mereka, Renfield dihipnotis oleh Count Dracula – yang sebenarnya seorang vampir, untuk menjadi budak nya. Sekarang terikat dalam hubungan tuan-pelayan, keduanya pun pergi ke London. Tak lama setelah sampai, Count Dracula segera mencari mangsa – menghisap darah wanita-wanita muda dan mengubah mereka menjadi mayat hidup, yang membawa malapetaka ke Kota London.

Tetapi ketika ia mengarahkan pandangannya kepada Mina (Helen Chandler), putri dari seorang dokter terkemuka –Count Dracula akhirnya menemukan saingannya. Ilmuwan dan pemburu vampir bernama Abraham Van Helsing (Edward Van Sloan) bertekad untuk membantu Mina dan menghentikan kejahatan-kejahatan Dracula.
Seperti biasa, pemutaran film akan dilanjutkan dengan diskusi santai.

Gratis dan terbuka untuk umum.

Share
Sep
17
Tue
Pemutaran dan Diskusi Film MONSTERS (2010) @ Galeri I Museum KAA
Sep 17 @ 16:00 – 20:00

lk

MONSTERS (2010)
Selasa, 17 September 2019
Pukul 16.00 – 20.00 WIB
Di Museum Konferensi Asia Afrika (Jl. Asia Afrika No. 65)
Kerja sama Museum Konferensi Asia Afrika dengan Komunitas LayarKita

Pesawat NASA yang membawa sampel kehidupan dari luar angkasa terjatuh di sekitar Meksiko yang berakibat sampel terlepas dan mulai menghuni sebagian daerah tersebut. Pihak militer lalu mengkarantina daerah tersebut dan menamainya “Infected Zone”. Enam tahun berlalu, manusia harus hidup berdampingan dengan makhluk-makhluk tersebut.
Sementara itu, Andrew Kaulder, seorang jurnalis ditugaskan oleh atasannya untuk menjaga dan membawa sang putri yang bernama Samantha Wynden keluar dari Meksiko dan pulang ke Amerika. Namun perjalanan pulang harus melewati banyak rintangan.

“Bagaimana jika Manusia dan Alien hidup berdampingan?”
Sebuah premis yang menarik untuk diangkat dan jarang ditemui dalam film bertema “Alien Invasion”. Monsters mengingatkan dengan District 9, sama-sama film Sci-Fi yang tidak memiliki dana besar serta memiliki kesamaan premis. Yang membuat Monsters berbeda dengan film sejenisnya ialah melakukan pendekatan yang lebih membumi, dimana manusia harus beradaptasi dengan kehadiran makhluk luar angkasa.

Setelah pemutaran film ini akan dilanjutkan dengan diskusi santai. Gratis dan terbuka untuk umum.

Share
Sep
18
Wed
Diskusi Buku @ Galeri I Museum KAA
Sep 18 @ 16:45 – 20:00

aarc

{Undangan Asian African Reading Club}

Sahabat, ikutilah Tadarus buku Diplomasi Indonesia: Realitas dan Prospek, karya Agus Haryanto & Isman Pasha. Insyaallah pada Rabu, 18 September 2019, mulai jam 16.45 s.d 20.00, bertempat di Ruang Galeri 1 Museum KAA, jalan Asia Afrika 65 Bandung. Terbuka untuk umum, gratis. Mari. Salam Asia Afrika.

Sumber: AARC

Share
Oct
4
Fri
Pekan Literasi Asia Afrika @ Museum KAA
Oct 4 @ 08:00 – Oct 6 @ 16:00

Haloposter-plaa6 Sahabat Museum!

Masih seputar Pekan Literasi Asia Afrika, nih.

Bagi Sahabat yang penasaran dengan rangkaian acara Pekan Literasi Asia Afrika (PLAA) ke-6 pada tanggal 4-6 Oktober 2019 ini, ayo catat jadwal masing-masing kegiatannya, ya.

Sampai bertemu di Pekan Literasi Asia Afrika 2019.

Salam museum di hatiku!

#museumkonferensiasiaafrika
#museumkaa #inidiplomasi #PLAA2019
————————–————————–——
Reservasi kunjungan Museum KAA dapat dilakukan melalui pos-el: reservasi.mkaa@kemlu.go.id ————————–————————–——
– IG @AsiAfricaMuseum
– Twitter @AsiAfricaMuseum
– Facebook @AsiAfricaMuseum
– Website: www.asianafricanmuseum.org / www.sahabatmkaa.com

Share
Oct
16
Wed
Tadarussan Buku AARC: The Bandung Connection @ Galeri I Museum KAA
Oct 16 @ 16:00 – 20:00

aarc

{Undangan Asian African Reading Club}

Sahabat, ikutilah Tadarus buku The Bandung Connection, karya Roeslan Abdulgani. Insyaallah pada Rabu, 16 Oktober 2019, mulai jam 16.45 s.d 20.00, bertempat di Ruang Galeri 1, Museum KAA, jalan Asia Afrika No. 65, Bandung. Ada Dian Andriasari (Dosen Hukum, Aktivis Perempuan, Penulis) sebagai pembahas, dengan tema; aspek perkembangan politik hukum nasional dan pengaruhnya ke Bandung. Terbuka untuk umum, gratis. Mari. Salam Asia Afrika.

Sumber: AARC

Share
Oct
29
Tue
Pemutaran dan Diskusi Film ‘The Others (2001)’ @ Museum KAA
Oct 29 @ 16:00 – 20:00

lk

The Others (2001)
Selasa, 29 Oktober 2019
Pukul 16.00-20.00 WIB
Di Museum Konferensi Asia Afrika (Jl. Asia Afrika No. 65)
Kerja sama Museum Konferensi Asia Afrika dengan Komunitas LayarKita

Pada 1945, di Pulau Jersey, Kepulauan Channel, Selat Inggris, Grace (Nicole Kidman) tinggal bersama kedua anaknya, Anne dan Nicholas, di sebuah rumah besar yang gelap dan sunyi di pulau yang hampir tak berpenghuni tersebut. Suaminya pergi untuk berperang melawan Jerman, namun tak kunjung kembali meski perang telah berakhir. Kedua anak Grace memiliki alergi yang parah terhadap cahaya; karena itulah setiap jendela dan pintu di rumah besar itu harus selalu ditutup untuk melindungi mereka dari cahaya matahari. Grace mendidik anak-anaknya dengan tegas dan disiplin, berpegang teguh pada ajaran agama. Namun, Anne menceritakan seorang anak laki-laki, Victor, yang kerap menerornya dan Nicholas. Tidak hanya itu, kejadian-kejadian aneh lainnya terus terjadi, berlawanan dengan kepercayaan Grace tentang Tuhan, Alkitab, dan akhirat. Semakin lama, keberadaan sosok-sosok misterius yang tak diundang semakin terasa di dalam rumah. Grace berupaya menguak kenyataan tentang rumahnya dan para penyusup itu.

The Others (Spanyol: Los Otros) adalah film horor psikologis supernatural gothic, serta film berbahasa Inggris pertama arahan sutradara asal Spanyol, Alejandro Amenábar, yang sekaligus berperan sebagai penulis dan komposer dalam film ini. Amenábar menyajikan atmosfir layaknya sebuah mimpi buruk yang panjang dan melelahkan, dan Kidman sangat meyakinkan sebagai ibu rumah tangga biasa yang terjebak di situasi mencekam di luar kendalinya.

Pemutaran film ini akan dilanjutkan dengan diskusi santai.

GRATIS DAN TERBUKA UNTUK UMUM

Share
Nov
22
Fri
Jelajah Malam Museum KAA @ Museum KAA
Nov 22 @ 18:30 – 22:00

natm

Halo, Sahabat Museum!

Masih ingat dengan kegiatan Jelajah Malam Museum KAA?

Dalam rangka memperingati Hari Sumpah Pemuda dan Hari Pahlawan, Jelajah Malam Museum KAA akan kembali hadir untuk Sahabat pada hari Jum’at, 22 November 2019.

Kali ini, tema yang diangkat adalah “Sentuhan Diplomasi Era Kerajaan”. Sahabat akan diminta menggunakan kostum pakaian daerah dan membawa senter untuk penerangan karena selama acara berlangsung lampu-lampu di Museum KAA akan diredupkan.

Seperti di Jelajah Malam sebelumnya, Museum KAA juga menyiapkan hadiah menarik untuk peserta dengan kostum terbaik, loh!

Tunggu apalagi?

Segera daftarkan diri dan kelompokmu ke asianafrican.museum@kemlu.go.id.

Acaranya GRATIS dan terbatas untuk 350 pendaftar pertama.

Sampai bertemu di keseruan Jelajah Malam Museum KAA!! Salam museum di hatiku!

#museumkonferensiasiaafrika
#museumkaa #inidiplomasi #jelajahmalammuseumkaa
———————————————————-
Reservasi kunjungan Museum KAA dapat dilakukan melalui pos-el: reservasi.mkaa@kemlu.go.id ———————————————————-
– IG @AsiAfricaMuseum
– Twitter @AsiAfricaMuseum
– Facebook @AsiAfricaMuseum
– Website: www.asianafricanmuseum.org / www.sahabatmkaa.com

Share