Cara Museum KAA Bekali Anggota Sahabat Museum KAA Sebagai Edukator Museum

foto-pembekalan-klab-edukatorHilda Kurnia menyampaikan materi pembekalan bertajuk ‘Diplomasi Publik dan Peran Edukator Sahabat Museum KAA’ di Ruang Galeri 1 Museum KAA, Sabtu (22/9/2018) di Museum KAA Jalan Asia Afrika No.65 Bandung. (Sumber Foto: Dok. Klab Edukator SMKAA)

BANDUNG, MUSEUM KAA – Menyambut anggota baru Klab Edukator Sahabat Museum KAA (SMKAA), Museum KAA dan Klab Edukator SMKAA bekerja sama melaksanakan serangkaian pelatihan edukasi publik bertajuk ‘Diplomasi Publik dan Peran Edukator SMKAA’. Ada 25 relawan edukator dari sejumlah perguruan tinggi di Kota Bandung yang mengikuti kegiatan itu di Ruang Galeri I Museum KAA, Sabtu (22/9/2018). Mereka adalah anggota baru SMKAA hasil rekrutmen pada bulan Agustus silam yang digelar oleh SMKAA.

Pelatihan ini bukan hal baru yang diterapkan Museum KAA bagi relawan edukator yang akan bekerja sama mengedukasi publik soal Nilai-nilai KAA. Mereka mendapat materi pembekalan yang terdiri atas permuseuman, diplomasi publik, Nilai-nilai KAA, dan pelatihan public speaking serta teknik interpretasi.

Kepala Museum KAA Meinarti Fauzie, mengatakan pembekalan teknik bimbingan dan edukasi menjadi tanggung jawab pihaknya untuk memastikan kesiapan para relawan edukator dalam menyampaikan Nilai-nilai KAA kepada masyarakat luas.

Pembekalan teknik bimbingan edukasi semacam ini sudah rutin kami lakukan melalui berbagai kegiatan bersama SMKAA di tiap angkatan. Akan tetapi, pada kesempatan ini kami sengaja merancang kegiatan pembekalan teknik bimbingan dan edukasi kepada relawan edukator agar diseminasi Nilai-nilai KAA semakin menjadi efektif,” ujarnya.

Hadir selaku fasilitator dalam sesi pembekalan itu adalah Hilda Kurnia. Perempuan yang sehari-hari bertugas sebagai diplomat di Kementerian Luar Negeri itu mengawali paparannya dengan mengenalkan konsep dasar diplomasi publik. Selanjutnya, para relawan edukator dibekali pengetahuan strategi diplomasi publik yang telah ditempuh selama ini, seperti partnership, networking, dissemination, dan people to people contact.

Kehadiran rekan-rekan Sahabat Museum KAA erat dengan strategi people to people contact. Kalian membekali diri tentang Nilai-nilai KAA. Lalu, selanjutnya diteruskan kepada masyarakat luas,” ujarnya sambil memberikan contoh.

Tak lupa, berbagai produk diplomasi publik, seperti Bali Democracy Forum (BDF), dan Beasiswa Seni dan Budaya Indonesia (BSBI) turut pula dijelaskan oleh diplomat perempuan asal tanah Minangkabau itu.

Pembekalan ini bertujuan agar setiap relawan edukator SMKAA dapat mengembangkan sumber belajar, media belajar, dan strategi belajar dalam mendukung Museum KAA menyebarluaskan Nilai-nilai KAA.

Pembekalan sesuai rencana akan berlangsung hingga delapan sesi. Selain dalam bentuk teori, pembekalan juga diberikan dalam sesi praktik agar relawan edukator dapat lebih memahami setiap tahapan teknik dan bimbingan edukasi saat memberikan informasi kepada pengunjung Museum KAA.

Sejak berdiri hampir delapan tahun silam di bawah naungan Administrator SMKAA, kiprah Klab Edukator yang awalnya bernama Public Educator Corps telah berkontribusi aktif dalam mengembangkan sumber belajar, media belajar, dan strategi belajar di Museum KAA.

Sumber: Museum KAA