Film ‘Timbuktu’ Tunjukkan Pentingnya Kerukunan Beragama

posterPoster film Timbuktu (2014) karya sutradara Abderrahman Sissako yang diputar dalam acara pemutaran dan diskusi film di Museum KAA pada Selasa (22/01/2019). (Sumber: www.imdb.com)

BANDUNG, MUSEUM KAAAlkisah di Timbuktu, sebuah kota di Mali negara di Afrika Barat. Teror mengancam. Pasalnya, kelompok radikal menguasai kota dan makin mengganggu. Sebuah keluarga, Kidane bersama istri dan kedua anaknya terpaksa berpindah-pindah demi keselamatan. Mereka sempat tinggal di gurun demi mencari ketenangan hidup. Namun, apa daya seketika nasib berubah. Nyawa mereka terancam tanpa disadari dari mana awalnya. Ketakutan tetap mengejar mereka.

Demikian salah satu penggalan kisah film ‘Timbuktu’ karya sutradara Abderrahman Sissako. Film yang dirilis pada tahun 2014 itu diputar di Ruang Galeri 1 Museum KAA pada Selasa petang (22/01/2019). Acara diskusi rutin itu digelar sebagai hasil kerja sama antara Museum KAA dan komunitas film Layarkita.

IMG_20190123_135035Koordinator komunitas film LayarKita Tobing, Jr. memoderasi diskusi film ‘Timbuktu’ di Ruang Galeri I Museum KAA pada Selasa, (22/01/2019). (Sumber Foto: akun Instagram @layarkita)

Koordinator komunitas film Layarkita Tobing, Jr mengatakan, film ini sengaja dipilih untuk diputar di awal tahun tahun 2019 lantaran dianggap relevan sebagai media belajar bagi para peserta diskusi, terutama terhadap situasi sosial yang sedang berkembang akhir-akhir ini.

Tobing melanjutkan, dari film ‘Timbuktu’ penonton belajar banyak hal. Misalnya, dengan mengatasnamakan agama tertentu sekelompok radikal penebar teror beraksi menguasai kota. Alhasil, di kota warga sengsara. Sebab, kelompok ini melarang berbagai aktivitas, termasuk musik, rokok, bahkan juga permainan sepak bola. Aturan dan hukuman dikenakan seenaknya kepada warga.

Tapi, ada ironi. Meski memaksakan aturan di sana sini, tapi kebanyakan anggota kelompok ini justru paling sering melanggarnya secara sembunyi-sembunyi,” kata Tobing.

Ia mengulas, film ini dengan apik menyajikan sisi buruk kelompok radikal dengan segala keganjilannya. Kelompok ini digambarkan tak lebih dari sekadar kelompok penebar teror yang gagal mempelajari agama dengan baik.

Peserta acara diskusi film yang juga anggota Klab Maghribi Sahabat Museum KAA Lynx Kenya Andini mengaku, film ini jadi media belajar yang bagus soal pentingnya toleransi dalam kehidupan sehari-hari. “Semoga kita dapat mengambil hikmahnya (red – peristiwa Timbuktu). Penting bagi kita agar tetap guyub dan rukun meski berbeda keyakinan,” ujarnya.

Senada dengan Lynx, peserta diskusi lain Yasmin N. Chaerunissa mengatakan, “Saya menyukai film ‘Timbuktu’. Hal yang diangkat dalam film itu memotret sedikit banyak yang terjadi pada realita saat ini.”

Tak hanya itu, Ketua Konferensi Mahasiswa Asia Afrika 2015 ini menyoroti perihal kelompok dengan identitas dan keyakinan tertentu, dalam hal ini agama, yang kemudian memaksakan cara pandang mereka kepada seluruh masyarakat, misalnya dalam segi hubungan sosial dan hukum.

Padahal, tambahnya, dalam masyarakat yang sesungguhnya multi-identitas, alangkah baiknya jika semua kelompok masyarakat dapat hidup dengan saling menghargai sehingga tercipta harmoni sosial.

Kepala Museum KAA Meinarti Fauzie mengatakan, melalui diskusi ini pihaknya berharap masyarakat dapat memahami pentingnya salah satu prinsip Dasasila Bandung, yakni Hidup Damai Berdampingan atau peaceful co-existance.

Tujuannya tentu tak lain agar terwujud kerukunan dan perdamaian dalam kehidupan,” himbaunya.

Prinsip itu, pungkasnya, disepakati 64 tahun silam dalam peristiwa KAA 1955 dan makin menemukan relevansinya pada hari ini.

Sumber: Museum KAA

Share