Ini Penyebab KAA Molor Sehari

BANDUNG, MUSEUM KAAMenurut rencana KAA ditutup pada Sabtu, 23 April 1955. Akan tetapi, ternyata ditunda sehari lagi hingga Minggu, 24 April 1955. Sebab, dua Panitia Perumus dalam Komite Politik di Gedung Dwi Warna yang membahas kolonialisme dan hidup berdampingan secara damai belum dapat merampungkan tugasnya.

Buku Sejarah Diplomasi Indonesia dari Masa ke Masa (Buku II Periode 1950-1960) mengungkapkan, perdebatan soal prinsip hidup berdampingan secara damai dan hubungannya dengan kehadiran pakta militer pada Jumat, 22 April 1955 masih berlanjut hingga Sabtu, 23 April 1955.

Dari pembicaraan pada hari itu, pernyataan Ketua Delegasi Filipina Carlos P. Romulo adalah yang paling mengemuka. Ia mengatakan, pandangan India yang menolak blok militer dan tidak mengandalkan kekuatan pada pihak lain adalah cocok untuk negara besar. India sebagai negara besar dapat mengandalkan diri sendiri untuk pertahanan

Namun demikian, Romulo mempertanyakan nasib negara kecil yang tidak mempunyai kekuatan cukup untuk membela dirinya sendiri, terutama terhadap kemungkinan serangan komunis. Sambil mencontohkan Filipina dan Thailand, ia berharap India hendaknya tidak menilai rendah negara kecil yang menjadi anggota sebuah pakta militer.

Selain Filipina, pernyataan menarik lainnya datang dari Ketua Delegasi RRT Perdana Menteri Zhou Enlai. Ia menjelaskan, jika istilah hidup berdampingan secara damai dianggap berbau komunis, ia tidak keberatan untuk mengubahnya. Misalnya, diubah dengan istilah yang sesuai Piagam PBB, yaitu menegakkan prinsip hidup bersama dalam perdamaian.

Selanjutnya, ia mengatakan, yang diperlukan adalah perdamaian secara kolektif untuk menciptakan kerja sama internasional. Perdamaian secara kolektif sama sekali tidak bermaksud menentang negara-negara di luar benua Asia dan Afrika. Sebaliknya, perdamaian secara kolektif di Asia malah menjadi langkah awal guna memperluas perdamaian dunia dan mencegah perang.

Itu sebabnya, ungkap Zhou Enlai, RRT sebagai negara komunis menentang blok-blok militer. Sebab, kehadirannya malah mempertajam krisis dunia. Pakta-pakta militer, seperti NATO di Eropa dan SEATO di Asia Tenggara termasuk yang tidak disetujui oleh RRT.

Selanjutnya, Zhou Enlai juga menanggapi pendapat Ketua Delegasi Pakistan Perdana Menteri Muhammad Ali dan Ketua Delegasi Filipina Carlos P. Romulo yang menganggap SEATO lebih bersifat defensif. Soal itu, ia mengatakan, sifat defensif sebuah pakta militer sulit dipercaya.

Roeslan Abdulgani dalam memoarnya The Bandung Connection menggambarkan suasana pertukaran pendapat pada hari itu diwarnai dengan keterbukaan. Alhasil, pertemuan itu telah memberi kesempatan kepada semua peserta untuk lebih mengenal pendapat dan pendirian masing-masing sekaligus mengenal masalah pemeliharaan perdamaian dunia dan hidup berdampingan secara damai.

Pada akhir perdebatan mengenai hidup berdampingan secara damai, disepakati untuk membentuk suatu Panitia Perumus. Negara-negara, seperti RRT, India, Mesir, Birma, Kamboja, Libanon, Jepang, Liberia, Sri Lanka, Pakistan, Turki, dan Filipina terlibat dalam Panitia Perumus itu. Ketua Delegasi Mesir Gamal Abdel Nasser ditunjuk sebagai ketuanya. Sedangkan Pangeran Wan dari Thailand bertindak selaku rapporteur.

Panitia Perumus ini terus bergulir hingga Minggu, 24 April 1955. Itu sebabnya KAA batal ditutup pada Sabtu, 23 April 1955.

Sumber: Museum KAA

Share