JANGAN BERKOMPROMI DENGAN PANDEMIK

18012021

Saya menulis artikel ini diiringi dengan rasa duka yang mendalam setelah kehilangan seorang Ibu, sahabat, dan juga rekan di Museum Konperensi Asia-Afrika, Ibu Hj. Ety Mulyati. Kami semua tahu, Ibu Ety memang sudah lama menderita sakit. Beliau ada riwayat diabetes, dan terakhir terserang darah rendah, hingga sempat dirawat di rumah sakit pada akhir tahun 2020. Dan keadaan sakit beliau nyatanya telah diperparah dengan serangan Covid-19, yang akhirnya membuat beliau harus kembali dirawat di rumah sakit pada awal Januari 2021, hingga akhirnya beliau meninggalkan kami semua untuk selama-lamanya.

Sejak kehilangan Ibu Ety, entah kenapa saya semakin tidak suka ketika melihat banyak warga Indonesia yang masih saja mengabaikan dan meremehkan protokol kesehatan. Dalam pikiran saya, mereka yang mengabaikan ataupun meremehkan protokol kesehatan, adalah orang-orang yang tidak bertanggung jawab, dan merupakan para penyumbang pandemik Covid-19. Alih-alih membantu Pemerintah untuk segera mengatasi pandemik dan memulihkan ekonomi, justru mereka ini memperburuk kondisi pandemik dan sekaligus memperlambat ekonomi.

Banyak di antara kita yang terbiasa menuntut hak, terlebih atas nama Hak Asasi Manusia, tetapi tidak tahu bagaimana menjalankan Kewajiban Asasi Manusia. Kalau mau menuntut hak, ya, lakukan juga kewajiban. Pemerintah tidak meminta apapun dari masyarakat dalam hal mengatasi pandemik Covid-19, kecuali satu, lakukan kewajiban kita menaati disiplin protokol kesehatan.

Jika kita masih punya hati, ingatlah berapa banyak saudara-saudari kita yang kehilangan nyawa karena pandemik ini. Apa kita masih tega untuk menambah angka kematian dari saudara-saudari kita sendiri, hanya karena kita tidak menerapkan protokol kesehatan dengan benar? Mungkin ada yang berkata, mati itu suratan takdir. Ya betul, kematian adalah takdir. Namun manusia diberikan akal sehat, kepandaian, dan kemampuan untuk berpikir dan berusaha, untuk menuju takdir yang lebih baik.

Kita sebagai bangsa yang beradab dan berperikemanusiaan, punya kesempatan memilih; apakah kita ikut serta membantu melawan pandemik ini, atau tidak peduli dan tetap tertawa di atas penderitaan para keluarga yang ditinggalkan oleh Ayah, Ibu, Saudara yang meninggal akibat Covid-19?

Saya masih menangis saat menuliskan ini semua…mungkin kedukaan saya kehilangan Ibu Ety masih akan berlanjut entah sampai kapan.

Melalui tulisan ini, saya ingin menyadarkan, membuka hati, dan menumbuhkan rasa peduli, baik dalam diri saya pribadi, maupun ke dalam sanubari semua masyarakat, saudara-saudari saya di manapun berada, bahwa jangan sampai sedetikpun kita berkompromi dengan pandemik Covid-19. Kita tidak perlu menjadi pahlawan yang mengangkat senjata untuk mempertahankan kedaulatan Indonesia, seperti yang dilakukan oleh para pahlawan nasional di masa lalu.

Mari kita menjadi pahlawan yang menyelamatkan Indonesia, dan bahkan dunia, dari penjajahan Covid-19. Tidak perlu kita meminta tanda jasa untuk kepahlawanan kita. Sikap kita yang taat dengan protokol kesehatan, adalah upaya kita menyelamatkan jiwa manusia. Dan biarlah Allah SWT, Tuhan Yang Maha Esa, yang akan menorehkan pahalanya untuk kita yang mampu menyelamatkan jiwa manusia ciptaan-Nya.

(Dahlia Kusuma Dewi, Kepala Museum Konperensi Asia-Afrika)