Jelang Peringatan KAA, Asian-African Reading Club Kupas Sosok Jose Rizal

poster-publikasi poster-publikasi2Poster publikasi acara diskusi buku El Filibusterismo karya Jose Rizal di Ruang Galeri 1 Museum KAA Jalan Asia Afrika No.65 Bandung. (Sumber: AARC)

BANDUNG, MUSEUM KAA – Komunitas literasi Asian-African Reading Club (AARC) menggelar rangkaian seri diskusi buku El Filibusterismo karya Jose Rizal untuk menyambut Peringatan 64 Tahun KAA yang digelar bulan April mendatang di Museum KAA.

Hal itu disampaikan Sekretaris Jenderal AARC Adew Habtsa ketika berlangsung diskusi buku yang terselenggara atas kerja sama Museum KAA dan AARC di Ruang Galeri 1 Museum KAA di Jalan Asia Afrika No.65 Bandung, Rabu (23/01/2019). Dalam diskusi itu, hadir para pegiat literasi. Sebagian besar berasal dari kalangan akademisi, komunitas, dan anggota Sahabat Museum KAA

Adew menjelaskan, pihaknya beralasan pemilihan judul buku El Filibusterismo bertujuan untuk menggali semangat pembebasan dari seorang pejuang kemerdekaan bangsa Filipina, Jose Rizal. El Filibusterismo sendiri, menurutnya, bermakna ‘Merajalelanya Keserakahan’.

Adew menuturkan, Jose Rizal adalah sosok inspiratif. Selain cerdas, ia juga mengusung semangat anti kolonial. Ia cerdas sejak kecil. Sosok yang lahir di Laguna tahun 1861 itu sudah pandai membaca sejak usia 3 tahun. Di usia 16 tahun ia berhasil meraih gelar sarjana muda. Tak lama setelah itu, dalam usia 24 tahun ia meraih gelar dokter sekaligus doktor di bidang ilmu filsafat dan sastra.

Pada usia 31 tahun, lanjutnya, Jose Rizal telah mendirikan ‘Liga Filipina‘. Di lembaga ini ia mengembangkan berbagai kegiatan, seperti pendidikan, industri, dan pertanian untuk bangsa Filipina. Sayangnya, pemerintah kolonial Spanyol yang kala itu tengah berkuasa di Filipina mencurigai kiprahnya. Lantas, ia ditangkap dan selama 4 tahun diasingkan di Zamboanga. Perjuangan Jose Rizal berakhir di hadapan regu tembak pada tahun 1896.

Menurut Adew, buku ‘El Filibusterismo kemungkinan akan selesai dibaca pada awal bulan April 2019. Dalam rangkaian diskusi itu, ia telah mempersiapkan sejumlah pembahas. Mereka akan memantik diskusi sekaligus mengupas pemikiran Jose Rizal.

Bukunya lumayan tebal. Tapi, membaca keroyokan boleh jadi mengasyikan. Dari novel ini, kami hendak mereguk semangat dan keberanian. Asyik kok kalau baca beramai-ramai,” ungkapnya.

Karenanya Adew mengajak lebih banyak lagi masyarakat datang ke acara diskusi buku ini. “Siapa pun boleh datang setiap Rabu petang. Mulai jam 16.30WIB hingga 20.00WIB. Tempatnya di Galeri I Museum KAA ya,” katanya.

aarc9Peserta diskusi buku secara bergantian membaca nyaring lembar demi lembar buku ‘El Filibusterismo’ dalam pertemuan perdana dari rangkaian diskusi buku ‘El Filibusterismo’ di Ruang Galeri 1 Museum KAA, Rabu (23/01/2019). (Sumber Foto: AARC)

Pernyataan Adew itu juga diakui oleh salah seorang peserta diskusi buku, WT Daniealdi. “Saya seperti sedang menyimak tulisan Pram (red-Pramoedya Ananta Toer). Jose Rizal dengan detail berhasil menggambarkan bagaimana proses penjajahan di Filipina terjadi”.

Tulisan itu, menurutnya, dengan jernih menjelaskan bagaimana struktur masyarakat terbentuk menjadi kelas-kelas sosial yang saling menekan satu sama lain. Di buku itu, sang penulis menjabarkan terjadinya konflik kelas dalam kasus-kasus yang umum kita saksikan hampir di seluruh dunia.

Dosen Hubungan Internasional ini berharap, dari Indonesia saat ini muncul penulis seperti itu. Tak lagi berkutat dengan teori-teori struktural, tapi telah bergeser menjelaskan secara rinci bagaimana modus operandi kapitalisme internasional itu bekerja.

(penjelasan) Rinci sekali. Bahkan, sampai ke ruang privat. Hingga akhirnya kelas-kelas itu terbentuk (seolah-olah) alamiah. Tapi, saya yakin di akhir kisah, dia (Jose Rizal) akan membuktikan semua itu terjadi by setting (rekayasa). Dan itu (modus operandi), terjadi secara telanjang di setiap belahan dunia. Di kehidupan kita sehari-hari malah,” terangnya.

Terkait tema diskusi buku jelang Peringatan KAA ini, Kepala Museum KAA Meinarti Fauzie mengaku, pihaknya menyikapi positif judul buku yang sedang dibedah oleh AARC.

Gagasan Solidaritas Asia Afrika yang dirumuskan Bung Karno dalam artikel Indonesianisme dan Pan Asianisme tak lepas dari kiprah para sosok pejuang anti kolonialisme di Asia dan Afrika di awal abad 20,” katanya.

Kiprah mereka telah mendorong persatuan nasib di kalangan bangsa terjajah di Asia dan Afrika yang kelak berujung pada persatuan perangai dan persatuan rasa di peristiwa KAA 1955.

Melalui acara ini, ia berharap, para pemantik diskusi dapat mengingatkan kembali masyarakat akan cita-cita kerja sama, kesetaraan, dan hidup damai berdampingan yang dicetuskan para tokoh bangsa Asia dan Afrika 64 tahun silam di Kota Bandung.

Sumber: Museum KAA