KAA Nyaris Digelar di Tenda

BANDUNG, MUSEUM KAA — Di tengah kesibukan persiapan KAA di awal tahun 1955, Muhammad Junus yang merupakan utusan khusus PM India Jawaharlal Nehru tiba di Jakarta. Kepada PM Ali Sastroamidjojo, ia mengusulkan agar KAA di Bandung kelak cukup digelar di bawah tenda di sebuah lapangan luas.

Menurut Junus, yang resmi mewakili pemerintah India di Sekretariat Bersama KAA, Partai Kongres di India sudah berpengalaman soal itu apabila menggelar kongres dengan ribuan peserta. Junus meyakinkan, dengan cara itu kesukaran yang tengah dihadapi Sekretariat Bersama KAA soal fasilitas konferensi dapat diatasi. Dengan mengadakan perkemahan besar-besaran di salah satu lapangan di Bandung semua peserta konferensi dapat ditampung di situ.

Akan tetapi, PM Ali Sastroamidjojo punya pandangan lain soal usul JunusPasalnya, di mata PM Indonesia ini usulan itu beresiko. Sebab, di antara delegasi terdapat para ketua delegasi yang berpangkat perdana menteri atau menteri luar negeri. Akomodasi untuk mereka di tenda tentunya kurang memadai.

Di sisi lain pula, belum sirna dari ingatan PM Ali Sastroamidjojo akan kritik majalah TIMES. Majalah ini mengkritik akomodasi Konferensi Bogor yang dianggap tidak layak. Media ini menyinggung buruknya akomodasi bagi delegasi, seperti air yang tak mengalir, gantungan pakaian yang tidak ada di kamar, dan listrik yang kedap-kedip.

Usulan Muhammad Junus itu kemudian hari diketahui rupanya tak lepas dari pengaruh PM India Jawaharlal Nehru. Kala itu kesukaran yang tengah dihadapi Sekretariat Bersama KAA dalam mencari gedung di Bandung terdengar sampai ke telinga PM Nehru.

Melalui duta besar India di Jakarta, PM Nehru menerima laporan soal kesukaran teknis yang tengah dihadapi pemerintah Indonesia dalam mencari gedung yang layak untuk perhelatan konferensi di Bandung.

Meski sedari semula PM Nehru memang meragukan kemampuan pemerintah Indonesia untuk menyelenggarakan konferensi internasional tetapi di sisi lain PM India itu juga berhasrat melihat suksesnya KAA. Sebab itu, melalui Muhammad Junus PM Nehru menyarankan agar KAA digelar di tenda saja.

Pasca Konferensi Bogor 1954, penetapan konferensi disepakati diserahkan kepada Perdana Menteri Indonesia. Lantas, PM Ali Sastroamidjojo memutuskan Bandung sebagai tempatnya. Sejak itu kesukaran mulai terasa, terutama soal gedungSementara waktu yang tersisa cukup mepet lantaran KAA akan dihelat di pekan terakhir bulan April 1955. Mereka hanya punya waktu efektif lima belas minggu untuk mendapatkan gedung itu.

Dalam memoarnya bertajuk Tonggak-tonggak di Perjalananku, PM Ali Sastroamidjojo mengungkapkan, jumlah gedung-gedung besar di Bandung pada waktu itu masih terbatas sekali. Gedung yang ada sudah dipakai semua untuk kantor pemerintahan. Padahal, panitia KAA harus menyediakan gedung yang cukup besar untuk rapat konferensi. Soal ini, diakuinya dalam memoar itu, sungguh menimbulkan kesulitan.

Di tengah kekhawatiran itu, PM Ali Sastroamidjojo memuji peran Gubernur Jawa Barat Sanusi Hardjadinata yang karib disapa Mang UciPasalnya, sebagai Ketua Panitia Lokal yang mempersiapan KAA di Bandung, Mang Uci menawarkan sebagai solusi dua gedung yang paling sesuai untuk KAAyaitu Gedung Societeit Concordia di Jalan Raya Timur dan Gedung Dana Pensiun di Jalan Diponegoro.

Dua gedung ini kelak pada 7 April 1955 resmi diubah namanya oleh Presiden Sukarno untuk menyambut KAA. Gedung Societeit Concordia menjadi Gedung Merdeka. Sedangkan, Gedung Dana Pensiun berganti Gedung Dwi Warna.

Sumber: Museum KAA

Share