Kerap Dianggap Negatif, Sisi Positif Sosial Media Terungkap di Pekan Literasi Asia Afrika

6Penulis buku Astrid Savitri mengupas manfaat positif media sosial dalam acara diskusi literasi bertajuk ‘Menggali Pundi-pundi Lewat Tren Media Sosial’, Sabtu pagi (5/10/2019) yang digelar dalam rangkaian acara PLAA ke-6 di Museum KAA, Jalan Asia Afrika No.65 Bandung. (Foto: Dok. Museum KAA)

BANDUNG, MUSEUM KAALebih baik menyalakan lilin daripada mengutuk kegelapan. Peribahasa ini agaknya cocok menggambarkan keadaan yang dipaparkan penulis buku Astrid Savitri dalam acara diskusi literasi bertajuk ‘Menggali Pundi-pundi Lewat Tren Media Sosial’, Sabtu pagi (5/10/2019) yang digelar dalam rangkaian acara PLAA ke-6 di Museum KAA, Jalan Asia Afrika No.65 Bandung.

Menurut Astrid, sulit ditampik media sosial hampir selalu dikaitkan dengan pengaruh negatif, terutama di kalangan generasi Z dan generasi Alfa. Padahal, generasi ini lahir ketika teknologi telah mencapai kemajuan tertinggi dalam sejarah peradaban manusia.

Artinya, lanjut penulis buku kelahiran Bandung yang kini menetap di Yogyakarta itu, teknologi, internet, dan media sosial tidak dapat dipisahkan dengan kehidupan generasi yang lahir berselimut kecanggihan gadget ini.

Menilik itu semua, keluhan banyak orang tua dan pendidik akan ketergantungan generasi sekarang terhadap perangkat teknologi rasanya sudah tidak terlalu relevan lagi, juga tidak akan dapat membendung keingintahuan mereka atau menyelesaikan masalah,” katanya kepada peserta diskusi di Ruang Pameran Tetap Museum KAA yang dimoderatori oleh Edukator Museum KAA Desmond S. Andrian.

Sebaliknya, imbuh Astrid, daripada terus mengeluh tentang pengaruh negatif yang jelas tidak akan terlalu membantu, akan lebih baik jika generasi muda diarahkan kepada sisi positif media sosial saja. Misalnya, ia memberikan contoh, membantu menentukan karir, mendapatkan penghasilan, dan menyejahterakan sekitar.

Astrid tidak hanya berwacana soal itu tapi juga telah melakukan riset. Hasil risetnya soal sisi positif media sosial ia telah tuangkan dalam bukunya bertajuk ‘Menggali Pundi-pundi Lewat Tren Media Sosial’.

Riset Astrid juga mengungkap sejumlah pertanyaan mendasar terkait perilaku pengguna media sosial. Risetnya menunjukkan ada kecenderungan masyarakat terobsesi pada media sosial. Kecenderungan itu terlihat pada ketertarikan generasi sekarang untuk menjadi YouTuber dan IG Influencer. Berangkat dari dua temuan itu, Astrid melengkapi bukunya dengan penjelasan bagaimana media sosial berpengaruh secara positif dan tak lupa pula kiat-kiat menghasilkan pundi-pundi dari tren media sosial.

Kita bisa menambah pengetahuan akan dunia bisnis, memotivasi diri untuk mendapatkan pengakuan positif dari orang lain, dan berkreativitas dengan teknologi,” rinci penulis buku yang telah menerbitkan lima belas buku non fiksi dan dua novel digital ini menjelaskan berbagai cara positif untuk memanfaatkan media sosial.

Kepala Museum KAA Meinarti Fauzie menanggapi positif diskusi ini. Pasalnya, topik ini senafas dengan tema acara PLAA kali ini, yakni Literasi di Era Internet. Melalui diskusi ini, ia berharap peserta diskusi dapat mengembangkan sisi positif internet.

Contoh-contoh positif media sosial yang dibagikan tadi dalam diskusi sangat relevan dengan generasi muda, khususnya para anggota Sahabat Museum KAA yang umumnya sangat aktif di media sosial,” ujarnya.

Sumber: Museum KAA

Share