Ketika Raja dan Ratu Swedia Sambangi Museum KAA

IMG_1056

 

Usai diajak berkeliling museum, Raja dan Ratu Swedia berpose bersama Sekretaris Daerah Provinsi Jawa Barat, Walikota Bandung, dan Kepala Museum KAA di Ruang Utama Gedung Merdeka – Museum KAA, Rabu, 24 Mei 2017. (Sumber Foto: Dokumentasi Museum KAA)

BANDUNG, MUSEUM KAA – Raja Swedia Carl XVI Gustaf dan Ratu Silvia beserta rombongan mengunjungi Museum KAA di Kota Bandung, Jawa Barat pada Rabu, 24 Mei 2017. Wali Kota Bandung, Ridwan Kamil bersama istri, Atalia Praratya Kamil mendampingi kunjungan pemimpin Swedia itu. Kunjungan ke Museum KAA jadi bagian dari rangkaian agenda Raja dan Ratu Swedia itu di Kota Bandung.

Setelah singgah ke Pendopo Kota Bandung untuk makan siang bersama Wali Kota Ridwan Kamil, Raja dan Ratu Swedia bertemu dengan Viking Persib Club. Kemudian, rombongan kerajaan itu berjalan kaki menuju Gedung Merdeka untuk mengunjungi Museum KAA.

Sekretaris Daerah Provinsi Jawa Barat, Iwa Kartiwa dan Kepala Museum KAA, Meinarti Fauzie menyambut kedatangan Raja dan Ratu Swedia beserta rombongannya di halaman Gedung Merdeka. Selanjutnya, Raja dan Ratu Swedia dipersilahkan masuk ke Ruang Pameran Tetap Museum KAA. Selama berkeliling di Museum KAA Raja dan Ratu Swedia mendapat penjelasan dari edukator Museum KAA, Desmond S. Andrian.

Raja dan Ratu Swedia mengawali tur di Museum KAA dengan mengunjungi diorama sidang pembukaan KAA. Dalam diorama itu terlihat lima perdana menteri sponsor KAA dan Wakil Presiden RI M. Hatta sedang duduk menyimak Presiden RI Soekarno yang sedang berpidato membuka KAA.

Setelah itu, Raja dan Ratu Swedia melihat koleksi tanda tangan putri PM India Jawaharlal Nehru, Indira Gandhi saat menghadiri KAA 62 tahun silam. Tanda tangan itu tertoreh di secarik kertas tua bersama puluhan tanda tangan pemimpin negara Asia dan Afrika lainnya.

Kisah Raja Kamboja, Norodom Sihanouk di KAA mencuri perhatian Raja dan Ratu Swedia. Pasalnya, orang nomor satu di Kamboja itu adalah ketua delegasi termuda di KAA. Kala itu ia baru berusia 32 tahun. Alhasil, sejumlah media internasional menjulukinya sebagai ‘Pangeran Tampan di KAA’.

Koleksi lain yang tak kalah menarik bagi Raja Gustaf adalah potongan artikel surat kabar asal Swedia. Sebab, artikel berbahasa Swedia itu yang terbit pada tahun 1955 memberitakan peristiwa KAA. Raja Gustaf sejenak menyempatkan diri membaca hingga tuntas artikel itu.

Puncak kunjungan Raja dan Ratu Swedia di Museum KAA adalah ruang utama Gedung Merdeka. Raja Gustaf tampak menyimak penjelasan sejarah KAA sambil sesekali menyentuh kursi-kursi sidang KAA yang masih terawat apik. Raja Gustaf juga diberi penjelasan asal muasal Gedung Merdeka. Nama gedung itu berasal dari Presiden Soekarno saat meninjau persiapan KAA pada 7 April 1955. Sebelumnya, gedung itu sempat bernama Societeit Concordia di masa kolonial Belanda dan Dai Toa Kaikan di masa kolonial Jepang.

Sebelum meninggalkan Museum KAA, Raja Gustaf melalui Kedutaan Besar Swedia untuk Indonesia menyerahkan cinderamata sebuah buku bertajuk Royal Transport of Delight kepada Kepala Museum KAA.

Good Luck for the Museum,” kata Ratu Silvia sambil menjabat erat tangan Kepala Museum KAA sesaat sebelum berangkat menuju ke kampus ITB untuk menghadiri acara Triple Helix Meeting.

Sumber: Museum KAA