Ketua AMIDA Jabar: Museum di Jawa Barat Didorong untuk Berorientasi Publik

1Para pengelola dan pegiat museum anggota AMIDA Jabar berfoto bersama Ketua Amida Jabar Koesnadi Andiwilaga usai acara Peningkatan Kompetensi SDM Permuseuman Anggota AMIDA Jabar di Ruang Sangga Buana Gedung Sate Jalan Diponegoro Bandung, Rabu (20/3/2019). (Sumber Foto: Dok. Museum KAA)

BANDUNG, AMIDA JABAR – Ketua AMIDA Jabar Koesnadi Andiwilaga mendorong seluruh pengelola dan pegiat museum di Jawa Barat untuk berkomitmen mewujudkan pelayanan museum berorientasi publik. Seiring itu, museum juga harus meningkatan kompetensi SDM.

“Kami di AMIDA Jabar sebagai payung museum di Jawa Barat berusaha memfasilitasinya. Itu sebabnya acara ini diharapkan sesuai keperluan anggota, terutama untuk peningkatan kompetensi anggota,” kata Koesnadi saat membuka acara Peningkatan Kompetensi SDM Permuseuman Anggota AMIDA Jabar yang digelar di Ruang Sangga Buana Gedung Sate, Jalan Diponegoro Bandung, Rabu (20/3/2019).

Kompetensi SDM permuseuman yang baik, lanjut Koesnadi, semata-mata untuk menunjang kapasitas museum agar bisa sejalan dengan keinginan publik yang makin berkembang.

“Ya, ujungnya semua pada pelayanan publik yang lebih baik,” terangnya.

Dalam kesempatan itu, Koesnadi menjelaskan, pihaknya mendapat dukungan penuh Pemerintah Provinsi Jawa Barat dalam pelaksanaan acara peningkatan kapasitas itu. Acara yang diikuti 40 orang peserta itu menghadirkan 5 orang narasumber yang memiliki kompetensi di bidang permuseuman.

1bNarasumber acara Peningkatan Kompetensi SDM Permuseuman Anggota AMIDA Jabar. (Sumber Foto: Dok. Museum KAA)

Mulai pukul 09.30WIB, Ardiansyah, pengurus AMIDA Jabar, menjadi moderator di antara sejumlah narasumber. Narasumber yang hadir adalah Bambang Subarnas (Workshop Pemetaan Persoalan Permuseuman di Daerah); Yunita Iriani (Peran Museum dalam Penanaman Nilai Budaya dan Nasionalisme); Aming D. Rahman (Kreatifitas Tata Pamer Koleksi Museum); Lutfi Yondri (Menggali Informasi dan Menginterpretasi Koleksi Museum), dan Desmond S. Andrian (Bimbingan Edukasi Permuseuman).

Workshop Pemetaan Persoalan Permuseuman di Daerah
Bambang Subarnas mengatakan, anggota AMIDA Jabar beragam. “Ada yang museumnya sudah maju. Tapi tak sedikit di daerah yang masih terkategori Rumah Penyelamatan Koleksi.” Sebab itu, penting bagi Amida Jabar memiliki peta permasalahan. Dengan begitu, Amida Jabar dapat mengoptimalkan perannya sebagai forum museum di Jawa Barat dalam mendampingi perkembangan museum.

Hal itu ia sampaikan saat membimbing peserta acara mengisi angket evaluasi museum yang dibagikan di awal acara. Melalui angket itu, sejumlah kendala yang dihadapi anggota Amida Jabar dapat dipetakan.

2Sekretaris Jenderal AMIDA Jabar Bambang Subarnas memandu jalannya ‘Workshop Pemetaan Persoalan Permuseuman di Daerah’. (Sumber Foto: Dok. Museum KAA)

“Saya melihat di Jawa Barat belum ada rujukan standarisasi museum. Mudah-mudahan hasil pemetaan hari ini bisa dikembangkan lebih lanjut oleh Amida Jabar sebagai rekomendasi penyusunan standarisasi museum,” imbuh Sekretaris Jenderal AMIDA Jabar itu.

Padahal, lanjutnya, AMIDA Jabar ingin agar museum-museum di Jawa Barat dapat berorientasi pelayanan publik supaya layak menjadi tujuan pariwisata. Sayangnya, lantaran absennya standarisasi museum, muncul hambatan komunikasi antara pemerintah daerah dan pengelola museum. “Akhirnya, ujung-ujungnya semua kembali jadi swadaya,” katanya.

Diakuinya saat ini telah hadir PP No.66 Tahun 2015 tentang Museum. “Pada pasal 3 tercantum 6 komponen persyaratan pendirian museum, angket yang dibagikan dan diisi ini sementara akan kami petakan menggunakan butir-butir persyaratan itu,” katanya.

Pendirian museum menurut peraturan pemerintah ini, terangnya, harus memenuhi persyaratan, seperti memiliki visi dan misi, memiliki koleksi, memiliki lokasi atau bangunan, memiliki sumber daya manusia, memiliki sumber pendanaan tetap, dan memiliki nama museum.

Peran Museum dalam Penanaman Nilai Budaya dan Nasionalisme
Siapa pun peserta acara ini, ujar Yunita Iriani, diarahkan pada pemahaman pengetahuan, keterampilan, dan kemauan untuk dapat memaksimalkan peran museum dalam internalisasi nilai budaya dan nasionalisme bagi pengunjung museumnya.

“Mengapa internalisasi nilai budaya dan nasionalisme melalui museum menjadi begitu strategis saat ini? Sebab, kita sedang menghadapi fenomena lunturnya nilai budaya,” kata Yunita yang juga seorang widyaiswara ahli madya itu.

3Widyaiswara Yunita Iriani memaparkan tema ‘Peran Museum dalam Penanaman Nilai Budaya dan Nasionalisme’. (Sumber Foto: Dok. Museum KAA)

Doktor alumnus Universitas Pendidikan Indonesia ini merinci, suka tidak suka sepuluh karakteristik negatif yang dirumuskan Thomas Lickona pada tahun 1992 sedang terjadi dan mengemuka di negara ini. Misalnya, peningkatan kekerasan di kalangan remaja, penggunaan bahasa yang buruk, dan pengaruh peer group yang kuat dalam tindakan kekerasan.

Selanjutnya, ia menambahkan, ada kecenderungan peningkatan perilaku merusak diri, semakin kaburnya pedoman moral baik dan buruk, semakin menurunnya etos kerja, dan semakin rendahnya rasa hormat kepada orang tua dan guru serta semakin rendahnya rasa tanggung jawab individu dan warga negara.

“Terakhir, juga muncul pembudayaan ketidakjujuran dan adanya rasa saling curiga dan kebencian antar sesama,” ucapnya.

Lantas, Yunita menjelaskan, museum memiliki peran strategis dalam menjawab tantangan karakteristik negatif itu. Sebab, museum memiliki potensi melalui internalisasi nilai budaya dan nasionalisme.

Yunita menguraikan langkah praktis internalisasi nilai oleh museum kepada pengunjungnya. Pertama, edukator museum mengkaitkan konteks pemanduan dengan tokoh sukses yang berada di balik keberadaan koleksi tersebut dalam kehidupannya. “Kisahkan riwayat hidupnya, temukan kiat-kiat sukses yang ditempuhnya,” katanya.

Kemudian, museum merumuskan dan menunjukkan manfaat jelas dan spesifik informasi yang akan disampaikan pada pengunjung. Misalnya, informasi koleksi yang disampaikan terkait dengan mata pelajaran sekolah yang memotivasi peserta didik untuk mengulang, dan utamanya mengkaitkan dengan kehidupan kesehariannya.

Setelah itu, museum dapat memberikan kebebasan untuk mengkonstruksi ilmu yang diterimanya secara subyektif. Alhasil, peserta didik menemukan sendiri cara belajar alamiah yang cocok dengan dirinya.

“Jangan lupa gali kekayaan emosi yang ada dan biarkan pengunjung mengekspresikannya dengan bebas. Bimbing mereka dengan menggunakan emosi dalam aktivitas pemanduan hingga dirinya penuh arti,” pungkas Yunita.

Kreatifitas Tata Pamer Koleksi Museum
Menurut Aming D. Rahman, kreativitas tata pamer harus berorientasi pada publik. “Sekarang era digital. Setiap orang membawa telepon genggam, alat yang melekat untuk menyatakan dirinya ada. Di mana? Lagi ngapain? Yang penting bahagia! Nah, apakah museum sudah masuk ke telepon genggam mereka untuk disebar ke seluruh dunia?” katanya mengingatkan para pengelola museum yang hadir pada acara pengingkatan kapasitas SDM itu.

Aming menjelaskan, agar tata pamer dapat berkomunikasi efektif dengan publik, tata pamer perlu memperhatikan sejumlah hal. Di antaranya, menentukan target pengunjung, metoda, dan strategi yang diambil.

4Kurator Aming D. Rahman memaparkan tema ‘Kreatifitas Tata Pamer Koleksi Museum’. (Sumber Foto: Dok. Museum KAA)

Tak hanya itu, bahkan menurutnya, perlu juga ada peta penataan tata pamer, jarak pandang, dan ukuran benda yang dipamerkan. “Sesuai kebutuhan saja, jarak pandang dan koleksi menjadi penting. Sebab, kalau pengunjungnya banyak, mungkin materinya jadi tidak terbaca,” jelasnya.

Aming yang mengkurasi sejumlah pameran, seperti ‘Kilas Balik Dokumentasi Budaya’ (2002), dan pameran fotografi ‘Kota Kita’ (2003) juga mencontohkan pentingnya pemilihan suara latar di ruang pamer, “Kalau suasana ruang pamer sayup-sayup, kira-kira musiknya apa yang cocok?”

Hal lain terkait tata pamer, Aming mengingatkan pentingnya bahasa visual. Sebab, bahasa visual merangkum jutaan kata. “Setiap manusia yang berteknologi menyatakan dirinya dengan bahasa visual dan yang paling mudah adalah berfoto. Tapi, apakah koleksi dan penataan (koleksi) kita bisa membuat mereka tertarik dan berminat untuk berfoto?” ulasnya.

Kendati begitu, Aming yang mengenakan ikeut sunda itu mengakui, “Untuk mengikuti perkembangan jaman, memang mahal.” Sebab, ia beralasan, semua serba teknologi dan tentu saja juga membutuhkan operator.

Tapi, lanjutnya, kehebatan otak manusia tak terkalahkan oleh komputer mana pun jika diaktifkan dengan baik, yaitu menyeimbangkan antara otak kiri dan kanan. “Kalau berhasil menyeimbangkannya, ia bernama kreativitas terukur,” tegasnya.

Menutup paparannya, Aming yang telah mengkurasi banyak pameran seni di tingkat nasional dan internasional itu mengingatkan, “Sesuatu bisa jadi bermanfaat jika ia hadir saat dibutuhkan. Kepintaran apapun tidak ada gunannya, jika ia tidak sesuai dengan konteksnya.”

Menggali Informasi dan Menginterpretasi Koleksi Museum
Pengunjung museum menyukai koleksi yang komunikatif. Sebab, makin komunikatif sebuah koleksi, makin interaktif koleksi museum di tangan edukator. Maka, edukator tak pelak lagi wajib memiliki kemampuan menggali informasi dan menginterpretasi koleksi museum.

Hal itu disampaikan Lutfi Yondri saat mengelaborasi interpretasi koleksi di museum. Menurut peneliti Gunung Padang di Cianjur itu, interpretasi merupakan kegiatan pendidikan yang bertujuan mengungkapkan berbagai makna dan hubungan melalui penggunaan objek asli. Caranya, bisa langsung maupun menggunakan media ilustratif. “Intinya, lebih dari sekedar menyampaikan informasi faktual,” kata Doktor alumnus Universitas Padjadjaran ini.

5Arkeolog Lutfi Yondri memaparkan tema ‘Menggali Informasi dan Menginterpretasi Koleksi Museum’. (Sumber Foto: Dok. Museum KAA)

Interpretasi koleksi, lanjutnya, merupakan seni mengungkapkan sebuah cerita. Dengan teknik interpretasi, edukator leluasa mengungkapkan makna dari fakta suatu objek. Bahkan, lebih dari itu edukator dapat membangun hubungan emosional dan intelektual antara minat pengunjung dengan makna objek. “Satu lagi, edukator bisa memprovokasi pengunjung untuk mengubah pola pikir dan perilaku terhadap objek,” imbuhnya.

Lutfi juga menekankan pentingnya interpretasi dalam pengelolaan cagar budaya. Sebab, tanpa interpretasi koleksi, pengunjung hanya akan mendapat fakta, data, informasi, pengetahuan tentang cagar budaya. Selebihnya, pengunjung tidak memahami makna dari cagar budaya. Malah, antara pengunjung dan cagar budaya tidak terbangun hubungan emosional dan intelektual.

Lantaran itu, arkeolog Balai Arkeologi Jawa Barat ini menganggap, interpretasi menjadi begitu penting. Setidaknya, ada dua alasan praktis. Pertama, interpretasi memberi manfaat untuk pengunjung karena menambah kualitas pengalaman kepuasan, wawasan terhadap hal yang belum banyak diketahui umum, dan memberi inspirasi serta perubahan sikap dan perilaku.

Kedua, interpretasi juga bermanfaat bagi destinasi pariwisata dan daya tarik wisata. Di antaranya, dapat meningkatkan apresiasi dan citra daya tarik wisata dan destinasi pariwisata sekaligus meningkatkan partisipasi publik dalam pelestarian cagar budaya.

Terakhir, Lutfi membagikan strategi perencanaan interpretasi melalui rumus TORE, yaitu tematik, organisasi, relevan, dan enjoyable.

Bimbingan Edukasi Permuseuman
Banyak Jalan Menuju Roma. Demikian pula halnya dengan teknik bimbingan dan edukasi di museum. Untuk itu, edukator Museum KAA Desmond S. Andrian mengulas tips dan trik seputar tur museum mulai dari media belajar hingga strategi belajar.

“Paling awal, edukator perlu menyadari kekuatan kisah di balik koleksi. Ini soal The Power of Story,” katanya.

Ia melanjutkan, kisah yang kuat minimal memenuhi tiga syarat. Ada sebab-akibat, eskalasi, dan relevan. Pengunjung menyukai kejutan-kejutan kisah di balik setiap koleksi. “Ya, perlu latihan yang teratur dan terukur supaya kisah itu disuguhkan dengan elegan,” ujarnya.

6Edukator Museum KAA Desmond S. Andrian memaparkan tema ‘Tip dan Trik Tur Museum’. (Sumber Foto: Dok. Museum KAA)

Selanjutnya, ia menjelaskan proses komunikasi antara edukator dan pengunjung museum. Merujuk pola komunikasi, edukator berada di posisi sebagai komunikator yang memproduksi pesan. Sedangkan, pengunjung museum sebagai komunikan yang menerima pesan. Idealnya, keduanya memiliki hubungan yang timbal balik. “Jika tidak (timbal balik), yang terjadi gagal komunikasi. Pengunjung tidak tergugah,” ucapnya.

Untuk menghindari itu, lanjutnya, edukator perlu mempelajari latar belakang budaya, usia, pendidikan, dan kebiasaan pengunjung museum. “Sajikan menu informasi sesuai kebutuhan pengunjung museum,” terangnya.

Ia mencontohkan kerepotan Museum KAA ketika menjelaskan konsep kemerdekaan dan kolonialisme kepada pengunjung usia dini. “Pada usia ini, semua informasi harus nyata, dapat dilihat, dirasakan, dan diperagakan. Hindari segala hal yang abstrak,” jelasnya.

Edukator wajib terus memutakhirkan diri sebagai komunikator yang kredibel. Siasatnya, pembicara yang baik adalah pendengar yang baik. Kemudian, pendengar yang baik adalah pembaca yang baik. Artinya, edukator dalam menjalankan tanggung jawabnya memiliki karakteristik kontemplatif sekaligus reflektif.

Hal lain yang tak kalah mendesak adalah soal durasi. Untuk mengatasinya, ia menyarankan agar edukator turut mempertimbangkan durasi yang sangkil dan mangkus. “Biasanya, dalam metode ceramah susun saja materinya menjadi sejumlah poin yang menarik. Teknik ini disebut time marker and sequence,” ujar alumnus Sekolah Pasca Sarjana Universitas Katholik Parahyangan ini.

Selain itu, gestur tak luput dari perhatian edukator. Pasalnya, gestur merupakan bentuk komunikasi non-verbal dengan aksi tubuh mengkomunikasikan pesan-pesan tertentu. “Kontak mata, gerak tangan, intonasi suara, dan gerak tubuh selaras dengan informasi yang sedang disajikan,” ujarnya menutup paparan.

Sumber: Amida Jabar