Konservasi Preventif: Lebih Baik Mencegah Daripada Mengobati

30112020

Peserta mempraktikkan teknik konservasi preventif pada Senin, 30/11/2020 di Ruang Pertemuan Gunung Payung, Hotel Putri Gunung di Jl. Raya Tangkuban Parahu KM 16-17, Cibogo, Lembang, Kabupaten Bandung Barat. (Sumber Foto: Dok. Museum KAA)

BANDUNG, MUSEUM KAA – Sedia payung sebelum hujan. Peribahasa ini cocok dengan prinsip perawatan koleksi museum. Pasalnya, mencegah kerusakan koleksi jauh lebih baik daripada merestorasinya di kemudian hari. Meski dapat menyelamatkan koleksi, tindakan restorasi koleksi tidak memulihkan keadaan seperti semula. Alhasil, nilai otentisitas koleksi dipertaruhkan.

Demikian diungkapkan oleh konservator Museum Nasional Indonesia Maulidha Sinta Dewi kala memaparkan urgensi Konservasi Preventif di hadapan 25 peserta acara Workshop Konservasi Koleksi yang digelar Museum KAA pada Senin, 30/11/2020 di Hotel Putri Gunung di Jl. Raya Tangkuban Parahu KM 16-17 Lembang.

Maulida melanjutkan, konservasi telah diatur dalam Peraturan Pemerintah Nomor 66 Tahun 2015. Konservasi meliputi preventif yang dilakukan untuk mencegah, interventif yang dilakukan ketika koleksi sudah rusak alias deteriorisasi, dan restorasi yang dilakukan sebagai perbaikan koleksi.

Ia mengingatkan, konservasi harus dilakukan dengan tetap menghargai signifikansi dan sifat koleksi. “Jadi, ini bukan soal memperbaiki saja tapi juga tentang etika koleksi,” katanya.

Senada dengan Maulida, konservator Perpustakaan Nasional RI Aris Riyadi memulai presentasinya dengan mengajukan pertanyaan soal dilema antara isi koleksi dan fisik koleksi. “Mana yg lebih penting, isinya (red – manuskrip koleksi) atau fisiknya (red - koleksi)?” tanyanya kepada peserta workshop di awal paparan.

Ia menekankan, sebaiknya dalam konservasi koleksi para pengelola museum menghindari dikotomi antara fisik dan isi. Sebab, lanjutnya, keduanya ibarat dua sisi mata uang. Dalam kaitan itu, ia mencontohkan Supersemar. “Dalam sejarah kekuasaan bisa berpindah hanya karena selembar kertas,” terangnya. Ia juga menjelaskan, isi tanpa fisik bisa-bisa disebut hoax.

Aris yang pernah terlibat dalam upaya konservasi arsip pasca Topan Haiyan di Filipina tahun 2013 ini menerangkan perbedaan mendasar dalam tindakan konservasi koleksi di perpustakaan, pusat arsip, dan museum. Menurutnya, koleksi di museum lebih beragam sehingga memerlukan pengetahuan teknis yang memadai meliputi material, metode, pengalaman supaya koleksi terlindungi dengan baik dan terukur.

Dalam workshop itu, peserta juga berlatih mengoperasikan perangkat teknologi konservasi, seperti alat pengukur kelembaban udara, dan cahaya. Kemudian, peserta terlibat langsung mempraktikkan berbagai teknik konservasi yang diperagakan mulai dari teknik enkapsulasi hingga teknik konservasi peta.

Selain dihadiri oleh staf Museum KAA, workshop yang rutin digelar oleh Museum KAA setiap tahun ini juga mengundang perwakilan Pemerintah Provinsi Jawa Barat, perwakilan Amida Jabar, dan Sahabat Museum KAA.

Museum KAA menaruh perhatian serius terhadap kelestarian koleksinya. Pasalnya, sebagian besar koleksi museum yang berada di bawah Direktorat Jenderal Informasi dan Diplomasi Publik Kemlu itu terdiri atas arsip foto dan dokumen hasil Konferensi Asia Afrika 1955.

Dalam sambutannya ketika membuka resmi acara workshop, Kepala Museum KAA Dahlia Kusuma Dewi mengatakan, koleksi Museum KAA harus dirawat lantaran koleksi museum yang berdiri pada tahun 1980 silam itu sudah diakui sebagai bagian dari Memory of the World. Di samping itu, menurutnya inti sebuah museum adalah benda-benda koleksinya. Dengan begitu, koleksi harus terus dijaga supaya selalu bermanfaat baik untuk generasi sekarang maupun akan datang.

Itu sebabnya pekerjaan konservasi menjadi penting di Museum KAA. Konservasi tidak sederhana karena memerlukan keahlian, dan pengetahuan serta keterampilan dalam merawat koleksi,” pungkasnya.

Sumber: Museum KAA

Share