Membongkar Praktik Kebijakan Kolonialisme Lewat Media Bacaan

10Poster publikasi acara tadarussan buku ‘Bocah Sunda di Mata Belanda: Interpretasi atas Ilustrasi Buku Roesdi djeung Misnem’ karya Hawe Setiawan yang digelar komunitas literasi Asian-African Reading Club (AARC) di Museum KAA. (Desain Poster: AARC)

BANDUNG, MUSEUM KAA – Praktik kebijakan kolonialisme di era kolonial Hindia Belanda bukan cuma fisik belaka tapi juga bahkan pemikiran. Praktik itu dibongkar Dr. Hawe Setiawan melalui bukunya yang berjudul ‘Bocah Sunda di Mata Belanda: Interpretasi atas Ilustrasi Buku Roesdi djeung Misnem’. Buku ini diangkat dari hasil riset tesisnya sendiri yang mengkaji aspek ikonografis ilustrasi buku ‘Roesdi djeung Misnem’, terutama visualisasi manusia, alam, dan budaya Sunda oleh ilustrator Belanda W.K. de Bruin.

Dr. Hawe Setiawan – yang sehari-hari kerap disapa Kang Hawe – memerikan dengan tekun praktik itu dalam acara tadarussan buku yang digelar komunitas literasi Asian-African Reading Club (AARC).

Ilustrasi yang ditampilkan (dalam buku ‘Roesdi djeung Misnem’) seolah merendahkan martabat bocah Sunda. Sungguh, pemerintah kolonial membawa ideologi yang tak berimbang,” terangnya mengawali pembahasan.

Dalam buku itu, lanjut Kang Hawe, terdapat ilustrasi yang menggambarkan bocah Sunda sedang memegang pisang, seolah tak jauh beda dengan kera. Ilustrasi ini mengesankan sebagai ‘mata rantai’ yang hilang dan menganggap pertumbuhan yang belum sempurna. “Bocah Sunda ini terlihat seperti sudah tua dengan tingkah keseharian khas masyarakat Sunda saat itu,” simpulnya.

Diakuinya, buku ‘Roesdi djeung Misnem’ yang kaya akan gambar karya ilustrator Belanda W.K. de Bruin memang menyiratkan adanya observasi etnografis, sehingga terkesan realistis. Namun, di sisi lain ilustrasi tadi seolah menegaskan pandangan soal masyarakat pribumi yang tampil seperti kera, dan malas di lingkungan yang tampak liar. “Padahal, ilustratornya sendiri konon belum pernah menginjakan kaki di tanah jajahan,” kata Kang Hawe sambil tersenyum getir.

Dalam pandangan Kang Hawe, meski buku ‘Roesdi dan Misnem’ lebih banyak ilustrasi daripada teks, kekuatan ilustrasi sama pentingnya dengan kekuatan teks itu sendiri. Apalagi, buku ini menjelma sebagai bacaan wajib yang dititahkan pemerintah kolonial Hindia Belanda. “Sedikit banyak (buku ini) memberikan pengaruh pada laku budaya ketika itu,” jelasnya.

Lebih lanjut Kang Hawe mengatakan, ia meyakini pada masanya buku ‘Roesdi dan Misnem’ yang menjadi buku bacaan Sunda untuk murid sekolah dasar di Jawa Barat di masa kolonial Hindia Belanda berperan sebagai titik sambung budaya. “Dari tahun ke tahun, dari masa ke masa, setiap kurikulum selalu ada buku bacaan wajib. Dan, itu (buku ‘Roesdi dan Misnem’) seolah jadi penanda budaya,” ucapnya.

Selaras dengan Kang Hawe, Koordinator AARC Adew Habsta menerangkan, “Buku ini bagai hendak membongkar praktik kebijakan kolonialisme yang dimunculkan lewat media pembelajaran atau bacaan. (Dalam buku ‘Roesdi dan Misnem’) Terasa muatan pandangan yang picik tertuang pada sejumlah karya ilustrasi yang dijadikan bahan penelitian Kang Hawe. Misalnya, kadangkala gambar yang ada malah tak sesuai dengan teks narasi yang terlampir itu.”

Dengan demikian, imbuh Adew, buku ‘Roesdi dan Misnem’ tak dapat dipungkiri sangat kental dengan kebijakan pendidikan pemerintah kolonial Hindia Belanda untuk mendorong penduduk tanah koloni supaya berpihak pada pemikiran kolonial.

Itu sebabnya, menurut Adew, pihaknya sengaja memilih buku ‘Bocah Sunda di Mata Belanda’ yang ditulis dalam bahasa Sunda oleh pengarang Belanda A.C. Deenik dan pengarang Sunda R. Djajadiredja itu sebagai bahan diskusi AARC lantaran ingin mengetahui bagaimana kolonialisme berjalan dalam bidang pendidikan, terutama pada bahan ajar sekolah rakyat yang telah memberikan pengaruh sebelum Perang Dunia II di tanah Hindia Belanda.

Pegiat AARC yang aktif mengikuti diskusi buku ‘Bocah Sunda di Mata Belanda’ sejak awal Osel Resha mengaku, dari buku ini ia belajar kembali mengenal identitas diri. “Tak harus melulu percaya pada sumber pengetahuan Barat yang malah cenderung merendahkan eksistensi Timur,” tukasnya.

Senada dengan Osel, pegiat AARC Aga juga mengamini, “Melalui buku ini saya menyadari perlunya melatih berpikir kritis terhadap teks maupun terhadap gambar yang tercipta, (supaya) jangan sampai merusak kemuliaan diri.”

Buku setebal 184 halaman yang diterbitkan oleh Layung tahun 2019 itu selesai dibaca bersama-sama oleh para pegiat AARC dalam tiga kali sesi tadarussan setiap Rabu petang mulai 25 September hingga 9 Oktober 2019 di dua tempat, yakni Museum KAA dan Komunitas Celah-celah Langit di bilangan Ledeng, Bandung.

Terkait diskusi ini, Museum KAA melihat topik yang dibahas sejalan dengan visi Museum KAA dalam melestarikan Nilai-nilai KAA, khususnya spirit anti-kolonialisme yang didengungkan KAA 64 tahun silam di Kota Bandung. Spirit ini yang telah disebarkan secara konsisten oleh AARC melalui aktifitas literasi secara terus-menerus selama ini di Museum KAA,” jelas Kepala Seksi Pelestarian dan Dokumentasi Diplomasi Publik Museum KAA Teguh Adhi Primasanto.

Sumber: Museum KAA

Share