Menikmati Puisi dalam Film ‘Il Postino’ di Pekan Literasi Asia Afrika

layarkita

Poster publikasi acara pemutaran dan diskusi film ‘Il Postino’, Jumat (4/10/2019) di Museum KAA dalam rangkaian Pekan Literasi Asia Afrika. (Foto: Dok. Museum KAA)

BANDUNG, MUSEUM KAA – Siapa anak Indonesia yang tidak mengenal WS Rendra? Penyair ini kondang dengan sebutan Si Burung Merak. Namanya meroket berkat puisinya ‘Blues Untuk Bonnie’ ataupun kumpulan puisinya “Balada Orang-orang Tercinta”. Demikian Koordinator Komunitas Film LayarKita menjelaskan alasannya memutar film ‘Il Postino’, Jumat petang (4/10/2019) dalam rangkaian acara Pekan Literasi Asia Afrika (PLAA) di Ruang Audiovisual Museum KAA, Jalan Asia Afrika No.65 Bandung.

Kita punya banyak penyair yang kondang dengan puisi-pusinya. Misalnya, Goenawan Mohamad, Joko Pinurbo, Subagio Sastrowardoyo, atau sebut saja sang Presiden Puisi Indonesia Sutardji Calzoum Bachri,” imbuh Tobing.

Menurutnya, mungkin sebagian besar masyarakat lebih menyukai puisi dibandingkan prosa. Pasalnya, puisi di samping sajiannya lebih ringkas, penggunaan diksinya juga lebih luas dan ditambah lagi jangkauan emosinya lebih terasa.

Itu sebabnya, lanjut Tobing, dalam acara PLAA kali ini pihaknya sengaja mendapuk satu film yang mengambil secuplik kisah sastrawan Chili, Pablo Neruda. Melalui film ini, penonton dapat menikmati puisi yang keren di Amerika Latin. Dengan begitu, penonton merasakan perbedaan sensasi puisi di Indonesia dan Chili.

Tobing menjelaskan, film ini menggambarkan keadaan ketika Pablo Neruda diasingkan. Sebagaimana tercatat dalam sejarah, ia diasingkan akibat alasan-alasan politis di negerinya. Pasalnya, Pablo Neruda selain sebagai sastrawan juga sekaligus politikus di Chili. Tapi, ia lebih terkenal sangat fenomenal dengan karya-karya puisinya yang sangat membius.

Di film ini kita dibuat terpesona akan kekayaan diksi dari Neruda,” ujar Tobing.

Neruda memenangkan nobel di bidang sastra di tahun 1971. Itu semua tak lepas dari bakat dan kepiawaiannya merangkai kata. Publik umumnya mengenal karya-karya Neruda memiliki jalinan begitu renyah dan kadang mengejutkan.

Di sisi lain, karya-karya Neruda penuh dengan nuansa surealis. Tak jarang pula jargon-jargon manifesto politik kerap muncul dalam berbagai karyanya yang diramu dengan untaian sejarah. Selain itu, setiap karyanya penuh dengan muatan semangat perjuangan yang tak lekang dimakan waktu.

Walaupun sastrawan ini bukan dari benua Asia atau pun Afrika, namun ‘nafas’ puisinya identik dengan Asia Afrika, yakni semangat perjuangan,” tambah Tobing.

Senada dengannya, Kepala Museum KAA Meinarti Fauzie mengatakan, kehadiran film ‘Il Postino’ yang sarat puisi ini telah menambah nuansa sastra dalam acara PLAA kali ini. Nuansa ini, lanjutnya, wajib ada dalam setiap acara PLAA selain pameran, diskusi, dan bazar buku.

Film ini berdurasi nyaris dua jam. Dibuat di Italia pada tahun 1994, film ini disutradarai oleh Michael Radford dan pernah meraih Academy Award untuk Musik Orisinil Terbaik. Meskipun berlatar belakang Chili, film ini dibuat dengan latar belakang Italia pada sekitar tahun 1950.

Sumber: Museum KAA

Share