Meramu Gagasan KAA di Kolombo

BANDUNG, MUSEUM KAADalam Konferensi Kolombo yang digelar di Sri Lanka, usulan KAA awalnya ditanggapi skeptis. Akan tetapi, PM Ali Sastroamidjojo tidak mundur.

Sikap skeptis terhadap usul Indonesia itu terekam dalam memoar Roeslan Abdulgani The Bandung Connection. Meski tak hadir langsung dalam Konferensi Kolombo lantaran kala itu tengah menjabat Sekretaris Jenderal Kementerian Luar Negeri Indonesia, ia rajin mengikuti perkembangan Konferensi Kolombo mulai 28 April hingga 2 Mei 1954 melalui kawat-kawat sandi yang mengalir setiap hari ke Jakarta.

Senada dengan Cak Roeslan, PM Ali Sastroamidjojo dalam memoarnya Tonggak-tonggak di Perjalananku menuturkan alotnya meramu gagasan KAA di Konferensi Kolombo. Menurutnya, dalam konferensi yang berlangsung selama empat hari itu ia baru mendapat kesempatan mengajukan usul soal KAA pada hari Jumat, 30/4/1954, jam 15.00WIB.

Suatu konferensi yang sama hakikatnya dengan Konferensi Kolombo sekarang, tapi lebih luas jangkauannya dengan tidak hanya memasukkan negara-negara Asia, tetapi juga negara-negara Afrika lainnya,” demikian PM Ali mengutarakan gagasan KAA perdana dalam Konferensi Kolombo enam puluh lima tahun silam itu.

Usainya Pak Ali mengingat dengan baik respon peserta konferensi. Masih lekat dalam kenangannya para kepala pemerintahan yang hadir kala itu umumnya menyambut baik. Meskipun begitu, di sisi lain tak sulit bagi PM Ali untuk menangkap kesan kurang antusias yang terbit terhadap usulan Indonesia.

Kesan itu muncul dalam tanggapan yang dilontarkan. Sebagian besar tanggapan, tulis PM Ali, dalam halaman 512 hingga 514 memoarnya, mengkhawatiran soal besarnya perbedaan yang akan memicu kerumitan untuk mencapai kesepakatan. Pasalnya, negara di Asia dan Afrika begitu beragam.

Selain itu, isu lain yang juga paling mendapat sorotan terkait usul Indonesia itu adalah menyangkut penentuan negara mana saja yang akan diundang kelak. Misalnya, soal wilayah-wilayah di kawasan Afrika yang masih terjajah, dan tentu perihal konflik Indochina. Kedua hal itu dianggap tak akan mudah diputuskan begitu saja.

Melihat gelagat itu, PM Ali tidak mundur. Tak sedikitpun putra kelahiran Magelang ini berniat melepas usulnya. Menanggapi itu semua, ia lantas menegaskan semua pandangan itu tentunya tak dirumuskan langsung dalam Konferensi Kolombo. Setelah Konferensi Kolombo menyetujui usulan Indonesia itu, imbuh PM Ali, semua baru akan dibahas mendalam.

Pernyataan PM Ali soal itu kelak akan sangat menentukan sikap para perdana menteri Konferensi Kolombo, Saya akan merasa puas apabila Konferensi Kolombo dapat menyetujui bahwa Indonesia akan mensponsori sendiri Konferensi Asia Afrika demikian.

Cak Roeslan, seolah mencoba menginterpretasi pernyataan PM Ali itu, menulis dalam halaman 34 memoarnya, “Kalau tuan-tuan ragu-ragu, berikanlah kesempatan kepada Indonesia untuk merintis dan memelopori ikhtiar dan usaha ke arah Konferensi Asia Afrika itu! Jangan tuan halang-halangi!”

Ketetapan hati PM Ali itu ternyata berpengaruh. Sejurus kemudian semua terlihat mengangguk-angguk. Dengan demikian Indonesia mendapat dukungan moral untuk mensponsori konferensi yang dicita-citakan itu.

Dukungan itu tercantum pada pasal 14 Komunike Bersama Konferensi Kolombo, “Para Perdana Menteri membicarakan tentang baiknya mengadakan suatu konferensi negara-negara Afro-Asia dan menyokong usul supaya Perdana Menteri Indonesia mungkin dapat menjajaki kemungkinan diadakannya konferensi demikian itu.

Begitu delegasi Indonesia tiba kembali di tanah air, Kabinet Ali Sastroamidjojo II segera menentukan langkah-langkah selanjutnya. Kesibukan persiapan KAA sejak itu resmi telah dimulai.

Sumber: Museum KAA

Share