Museum KAA Bekali Mahasiswa Afrika Nilai-nilai KAA

yaaa

Kepala Museum KAA Meinarti Fauzie berpose bersama mahasiswa Afrika dan anggota Klab Angklung Guriang serta Klab Edukator dalam acara pembekalan mahasiswa baru Afrika pada Jumat, 27 Oktober 2017 di Museum KAA Jalan Asia Afrika No.65 Bandung. (Foto: Museum KAA)

BANDUNG, MUSEUM KAA – Museum KAA dan YAAA (red-Young African Ambassadors in Asia) bekerja sama membagikan pengetahuan soal Nilai-nilai KAA. Pengetahuan ini menjadi bekal puluhan mahasiswa Afrika untuk mempromosikan Nilai-nilai KAA. Promosi itu tak hanya menyasar mahasiswa di perguruan tinggi tempat mereka berkuliah di Indonesia tapi juga diharapkan kepada masyarakat di negara asal mereka saat kembali kelak ke Afrika.

Kepala Museum KAA Meinarti Fauzie dalam sambutannya mengatakan, peristiwa KAA 62 tahun silam di Bandung telah mewariskan prinsip kesetaraan, kerjasama, dan hidup damai berdampingan yang tercantum dalam Dasasila Bandung. Prinsip-prinsip itu sebangun dengan cita-cita persahabatan, dan persaudaraan bangsa Asia dan Afrika.

“Lebih separuh abad yang lalu di sini (red-Gedung Merdeka) para pemimpin Afrika asal Liberia, Ghana, Ethiopia, Sudan, Mesir, dan Libya serta perwakilan wilayah Afrika Utara, seperti Aljazair, Maroko, dan Tunisia duduk bersama merumuskan cara-cara mencapai kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial bagi masa depan bangsa Asia dan Afrika,” kata Meinarti di Museum KAA – Gedung Merdeka pada Jumat, (27/10).

Ia juga menghimbau, mahasiswa Afrika selama berada di Indonesia dapat mengembangkan ide-ide konstruktif dan memanfaatkan sebaik mungkin jejaring yang ada. Tujuannya adalah tercipta jejaring global di antara alumni Indonesia. Sebab, tak dipungkiri di masa depan mereka berpeluang tampil sebagai pemimpin masa depan di negara masing-masing.

“Tak hanya ijazah yang dibawa pulang ya. Tapi juga pengalaman dan nilai-nilai positif dari Indonesia, terutama Semangat Bandung. Sehingga, mereka dapat menceritakan bagaimana KAA kepada dunia,” tuturnya.

Mengenai pembekalan ini, Koordinator YAAA Rashida Nakanwagi Orashida mengatakan, pihaknya mengapresiasi upaya Museum KAA. Menurutnya, pembekalan itu penting bagi mahasiswa Afrika yang baru tiba untuk menempuh studi di Kota Bandung.

“Setiap tahun kami rutin mengundang rekan-rekan mahasiswa asal Afrika untuk mempelajari Nilai-nilai KAA di Museum KAA. Ini adalah program tetap kami,” ucap perempuan asal Uganda yang kini tengah berkuliah di Sekolah Pascasarjana ITB itu.

Bahkan, pada tahun 2015 silam, imbuh Rashida, sejumlah mahasiswa asal Afrika bekerjasama dengan mahasiswa Asia dan anggota Sahabat Museum KAA menginisiasi pelaksanaan Konferensi Mahasiswa Asia dan Afrika di Museum KAA. Acara itu mendapat dukungan penuh Museum KAA.

Rashida melanjutkan, mahasiswa asal Afrika juga memiliki agenda rutin membagikan pengalaman dan pengetahuan sosial dan budaya Afrika kepada anggota Sahabat Museum KAA. Misalnya, mahasiswa asal sejumlah negara frankofoni di Afrika, seperti Madagaskar, Aljazair, Maroko, dan Tunisia kerap menjadi fasilitator Klab Maghribi yang mempelajari Bahasa Perancis.

Dalam acara pembekalan itu, Klab Angklung Guriang Sahabat Museum KAA memperkenalkan Angklung kepada mahasiswa Afrika. Angklung dianggap memiliki pesan kerjasama, dan keharmonisan sosial. Puluhan mahasiswa Afrika yang memadati Ruang Galeri I Museum KAA dibuat terpesona dengan alunan musik angklung itu. Di penghujung acara Klab Edukator Sahabat Museum KAA mengajak mahasiswa Afrika berkeliling mengunjungi Museum KAA.

Sumber: Museum KAA