Museum KAA dan Unpar Gelar Diskusi Bertema Diplomasi Dijital

1Kepala Museum KAA Meinarti Fauzie bertukar cinderamata kepada Rektor Universitas Katholik Parahyangan Mangadar Situmorang pada acara Ramadan at the Museum: Diplomasi di Era Kemajuan Teknologi Informasi dan Komunikasi di Museum KAA pada Rabu, 30/5/2018. (Sumber Foto: MKAA)

BANDUNG, MUSEUM KAA – Tak dipungkiri banyak tempat favorit di Kota Bandung untuk ‘ngabuburit’ menjadi menyenangkan dan tanpa terasa waktu berbuka pun tiba. Museum KAA adalah salah satunya. Terbukti pada Rabu petang, 30 Mei 2018 sekitar 100-120 mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Kota Bandung memadati Ruang Pameran Tetap Museum KAA dalam acara Ramadan at the Museum: Diplomasi di Era Kemajuan Informasi dan Komunikasi (TIK).

Tema acara itu sengaja dipilih pada perhelatan acara Ramadan kali ini lantaran relevan dengan dunia diplomasi yang terus bertansformasi dan beradaptasi dengan perubahan dunia. Perubahan itu tak hanya terjadi pada isu tapi juga pada elemen dasar diplomasi, seperti aktor, instrumen, dan arena. Salah satu pemicu perubahan itu adalah kehadiran TIK yang terus berkembang pesat.

Untuk itu, Museum KAA bekerja sama dengan Universitas Katholik Parahyangan menggelar sebuah diskusi dengan menghadirkan tiga pembicara utama, yakni Direktur Informasi dan Media Kemenlu Listiana Operananta, dan dua dosen sekaligus peneliti pada program studi Hubungan Internasional Universitas Katholik Parahyangan Sukawarsini Djelantik, Ph.D., dan Sapta Dwikardana, Ph.D.

Diskusi Ramadan at the Museum merupakan bagian dari upaya yang dilakukan kami di Museum KAA untuk pelestarian Nilai-nilai KAA kepada masyarakat, khususnya kalangan generasi muda,” demikian dikatakan Kepala Museum KAA Meinarti Fauzie.

Ditambahkannya, diskusi ini diharapkan dapat meningkatkan pemahaman generasi milenial tentang diplomasi dijital pada komunitas yang lebih luas. Pasalnya, generasi milenial yang terpapar kemajuan TIK berpeluang turut serta sebagai agen diplomasi publik dalam mendukung terwujudnya citra positif Indonesia di mata dunia.

Hal ini sangat penting untuk diketahui tidak hanya oleh para diplomat yang terlibat langsung di bidang diplomasi saja tapi juga penting untuk masyarakat secara luas, terutama generasi milenial. Karenanya penelitian tentang diplomasi di era kemajuan TIK diperlukan untuk memperkuat fungsi diplomasi dijital Indonesia.

Membumikan Diplomasi Dijital

2Direktur Informasi dan Media Kemenlu Listiana Operananta menyampaikan presentasi bertajuk Membumikan Diplomasi Dijital dalam acara Ramadan at the Museum: Diplomasi di Era Kemajuan Teknologi Informasi dan Komunikasi di Museum KAA pada Rabu, 30/5/2018. (Sumber Foto: MKAA)

Diplomat kini hidup dalam era real time diplomacy, harus cepat tanggap dan dapat berkoordinasi dengan baik. Untuk itu para diplomat diharapkan dapat memaksimalkan pemanfaatan gadget dan memanfaatkan sosial media,” ujar Direktur Informasi dan Media Kemenlu Listiana Operananta mengutip pernyataan Menlu Retno L.P. Marsudi saat mengawali paparannya.

Listiana juga menyampaikan bahwa diplomasi dijital memiliki beberapa tujuan utama. Di antaranya adalah untuk meningkatkan citra Indonesia di mata publik, dan instrumen diseminasi informasi yang luas jangkauannya.

Menurutnya, diplomasi dijital kini menjadi kian strategis bagi Kemenlu. Pasalnya, ada kebutuhan tak terelakkan di mana pencapaian politik luar negeri dan diplomasi harus disampaikan kepada publik. Juga, diplomasi dijital menjadi bagian tak terpisahkan dari dua hal, yakni strategi diseminasi untuk membangun kepercayaan publik , dan akuntabilitas serta transparansi.

Dalam paparannya selama 20 menit itu, Direktur Informasi dan Media ini menguraikan dengan rinci jangkauan diplomasi digital Kemenlu. Hingga Mei 2018 dua akun media sosial milik Kemenlu yaitu Twitter @Kemlu_RI diikuti oleh 128.935 followers , dan Facebook Kemlu diikuti oleh 52.309 followers . Selanjutnya, akun Instagram Kemlu hingga Januari 2018 memiliki 45.244 followers . Di luar itu Kemlu TV telah menyiarkan lebih dari 217 video dan dilihat lebih dari 250.000 viewers.

Diplomat perempuan yang dilantik sebagai Direktur pada Januari 2018 ini memaparkan bahwa terkait diplomasi dijital Kemenlu telah meraih penghargaan TOP IT dan TELCO 2016 untuk tiga kategori, yaitu Top IT Implementation on Ministry 2016, Top IT Leadership 2016, dan Top Institution on Digital Transformation Readiness 2016.

Diplomasi pada Era Informasi

3Sukawarsini Djelantik, Ph.D. menyampaikan presentasi bertajuk Diplomasi di Era Infromasi dalam acara Ramadan at the Museum: Diplomasi di Era Kemajuan Teknologi Informasi dan Komunikasi di Museum KAA pada Rabu, 30/5/2018. (Sumber Foto: MKAA)

Sukawarsini Djelantik, Ph.D. yang akrab disapa Suke ini mengemukakan pandangan-pandangannya tentang Diplomasi pada Era Informasi. Menurutnya, hal ini sebenarnya telah diprediksi jauh-jauh hari oleh Alfin Toffler dalam bukunya yang berjudul Future Shock. Buku yang terbit pada tahun 1970 itu menjelaskan ada tiga gelombang perubahan dunia, yakni pertanian, industri massal, dan post -industrial society atau abad informasi.

Selama 20 menit Suke mengelaborasi pandangannya untuk menjawab pertanyaan penelitian, yaitu ‘Bagaimana revolusi teknologi dan informasi mempengaruhi diplomasi?’. Dalam paparannya, revolusi TIK terbukti telah mempengaruhi diplomasi. Akibat TIK aktor diplomasi telah melibatkan pemerintah dan non-pemerintah. Untuk aktor non-pemerintah, risetnya menunjukkan ada tujuh aktor yang paling berpangaruh. Mereka adalah individu, seniman, budayawan, akademisi, pemuka agama, pelaku bisnis, organisasi non- pemerintah .

Sedangkan untuk topik atau agenda diplomasi, isu keamanan non-tradisional cenderung mendominasi. Di antaranya adalah topik lingkungan, migrasi, gender, good-governance, pemanasan global, kejahatan transnasional, energi, dan e-government.

Masih ada dua lagi dampak dari revolusi TIK, yaitu lingkungan kerja diplomasi dan cara atau metoda baru diplomasi,” terang Suke yang meraih gelar doktor di University of South Australia itu.

Tranformasi Strategi Diplomasi di Era Digital

4Sapta Dwikardana, Ph.D. menyampaikan presentasi bertajuk Tranformasi Strategi Diplomasi di Era Digital: Identifikasi Postur Diplomasi Digital di Indonesia dalam acara Ramadan at the Museum: Diplomasi di Era Kemajuan Teknologi Informasi dan Komunikasi di Museum KAA pada Rabu, 30/5/2018. (Sumber Foto: MKAA)

Sejalan dengan Suke, paparan Sapta Dwikardana, Ph.D. yang memfokuskan diri pada analisa terhadap identifikasi postur diplomasi dijital di Indonesia mengungkapkan upaya tranformasi strategi diplomasi di era digital.

Sekaitan itu, Sapta Dwikardana, Ph.D. yang sehari-hari di kampus karib dipanggil Mas Sapta mengajukan pertanyaan penelitian dalam paparannya, yakni Bagaimana kesiapan Diplomasi Digital Indonesia dalam mencapai Visi Pembangunan 2015-2019 ‘Terwujudnya Indonesia yang berdaulat, mandiri dan berkepribadian berlandaskan gotong royong’ melalui visi Kementerian Luar negeri ‘Terwujudnya Wibawa Diplomasi guna Memperkuat Jati Diri Bangsa sebagai Negara Maritim untuk Kepentingan Rakyat’?

Untuk menjawabnya, Mas Sapta menggunakan seperangkat analisa, seperti indikator diplomasi dijital dan efektivitas pelaksanaan diplomasi dijital. “Untuk indikator diplomasi dijital, ada dua instrumen, yakni tujuan umum diplomasi dijital dan tingkatan implementasi diplomasi dijital,” urai Mas Sapta yang meraih gelar doktor di Katholieke Universiteit Leuven Belgia itu.

Sedangkan untuk efektivitas pelaksanaan diplomasi dijital, lanjut Mas Sapta, ada tiga langkah utama, seperti membandingkan dengan tujuan awal dari dilaksanakannya digital diplomasi, analisis respons masyarakat, dan memanfaatkan mekanisme respon yang disediakan oleh media sosial.

Di penghujung paparannya, Mas Sapta menjelaskan, “Berangkat dari perangkat analisa itu, ditemukan bahwa evaluasi terhadap indikator diplomasi dijital pada Kementerian Luar Negeri RI, Indonesia berada di tahapan menengah atau middle stage. Perlu satu langkah lagi untuk mencapai final stage, yaitu interaksi yang intensif.”

Sumber: Museum KAA