Museum KAA di Gedung Merdeka

GM 1

Museum KAA berlokasi di Gedung Merdeka sebagai situs sejarah KAA. (Dok: Museum KAA)

BANDUNG, MUSEUM KAA – Tidak banyak museum di negeri ini yang beruntung seperti Museum KAA (MKAA). Pasalnya, museum ini berada tepat di situs sejarah KAA, yaitu Gedung Merdeka. Peristiwa KAA di gedung bercorak artdeco itu bak oase di tengah ketegangan ancaman Perang Dunia III. Oase yang menawarkan sumber nilai baru bagi perdamaian dunia.

Nilai itu yang kelak dikenal sebagai Nilai-nilai KAA. Tak dipungkiri, Nilai-nilai KAA adalah ruh kreatif koleksi MKAA yang berperan menyokong museum ini sebagai instrumen diplomasi publik Indonesia yang berbasis pada nilai-nilai unggul Indonesia.

Gedung Merdeka: Koleksi Masterpiece MKAA

Berbeda dengan museum-museum lain yang bertumpu pada eksistensi koleksi, MKAA dalam klasifikasi museum di Indonesia terkategori museum peristiwa sejarah. Dengan demikian, visi MKAA dibangun dari konstruksi nilai yang dirumuskan dan dihasilkan dari peristiwa sejarah di masa silam.

Dalam hal ini adalah peristiwa sejarah KAA. Semua itu merupakan prestasi besar yang dicapai bangsa Indonesia dan bangsa Asia Afrika pada umumnya.

Jiwa dan semangat KAA menjadi pegangan, modal dasar, dan motivasi, baik bagi aktivitas politik luar negeri Indonesia maupun negara-negara Asia Afrika pada umumnya dalam memperbesar volume kerja sama antar bangsa Asia Afrika, sehingga peranan dan pengaruh mereka dalam hubungan internasional meningkat dan disegani.

Selain itu, jiwa dan semangat itu pula berguna untuk mendorong generasi mendatang bangsa Indonesia dan bangsa Asia Afrika lebih berperan dan berprestasi.

Untuk mewujudkan itu, adalah penting dan tepat KAA beserta peristiwa, masalah, dan pengaruh yang mengitarinya diabadikan dalam sebuah Museum, yang tempatnya pun berada di lokasi konferensi itu berlangsung, yaitu Gedung Merdeka di Kota Bandung.

Nilai-nilai KAA dan Soft Power

Merujuk Nye (2008), preferensi pihak lain dalam diplomasi dapat dipengaruhi melalui pemanfaatan soft power. Terlebih lagi sisi efektifitasnya makin signifikan bila soft power dipadukan dalam hard power. Kombinasi keduanya ia sebut sebagai smart power.

Soft power, menurutnya, sangat mengandalkan aset-aset intangible yang meliputi sifat atraktif, budaya, nilai-nilai politik, dan institusi, kebijakan sah, serta otoritas moral. Dengan demikian, soft power suatu negara terletak pada sumber daya kebudayaan, nilai, dan kebijakannya.

Dalam konteks ini, Nilai-nilai KAA yang dilestarikan oleh MKAA di Gedung Merdeka yang bersumber dari warisan intelektual KAA adalah aset intangible yang terbukti dalam catatan sejarah politik internasional telah sukses memperkuat kehadiran Indonesia di berbagai arena multifora. Kepemimpinan Indonesia di aras Anggota Tidak Tetap Dewan Keamanan (ATT DK) PBB, misalnya, tidak lepas dari catatan kiprah Indonesia selama ini melalui KAA dan berbagai konferensi lanjutannya.

GM 2

Sisi timur Gedung Merdeka tempat Ruang Pameran Tetap yang menyajikan memorabilia sejarah KAA. (Dok: Museum KAA)

Selain itu, MKAA sebagai UPT Direktorat Diplomasi Publik Kementerian Luar Negeri merupakan aset potensial dalam diplomasi publik. Pasalnya, nilai-nilai KAA yang bersumber dari koleksi peristiwa Konferensi Asia Afrika adalah instrumen soft power diplomasi publik Indonesia yang dikembangkan dalam strategi smart power.

Saat perhelatan KTT Asia Afrika tahun 2005 yang menandai Peringatan Emas Konferensi Asia Afrika tahun 1955, mata dunia menyaksikan 106 negara Asia dan Afrika berkumpul kembali di Gedung Merdeka, Kota Bandung, Indonesia.

Sedasawarsa pasca itu, dalam perhelatan KTT Asia Afrika tahun 2015, tercatat 109 negara Asia dan Afrika kembali hadir di Gedung Merdeka di kota yang sempat dijuluki PM India Nehru sebagai Ibu Kota Asia dan Afrika itu.

Belum pernah ada dalam berbagai peristiwa multilteral di dunia – di luar Sidang Umum (SU) PBB – terdapat demikian banyak negara yang berkumpul untuk kembali menyuarakan pentingnya merawat solidaritas dalam kerja sama internasional, selain di Indonesia, yaitu di Gedung Merdeka, Bandung.

Gedung Merdeka, Benda Cagar Budaya Peristiwa KAA

Signifikansi keberadaan MKAA di Gedung Merdeka bukan saja merujuk pada bukti otentik tempat terjadinya peristiwa sejarah KAA, tapi juga pada sejumlah dokumen kerja sama yang telah dituangkan dalam perjalanan sejarah MKAA di Gedung Merdeka.

Dalam Peraturan Daerah Kota Bandung No.19 Tahun 2009 tentang Bangunan Cagar Budaya (BCB), Gedung Merdeka resmi dinyatakan sebagai BCB atas tiga pertimbangan, yakni situs tempat aktivitas Societeit Concordia di era kolonial Belanda, Dai Toa Kaikan di era kolonial Jepang, dan berganti sebagai Gedung Merdeka oleh Presiden Soekarno sebagai tempat Konferensi Asia Afrika 1955. Plakat penanda BCB itu dipasang di sisi selatan facade Gedung Merdeka yang menghadap Jalan Asia Afrika Kota Bandung.

Pertimbangan Gedung Merdeka sebagai BCB itu tidak lepas, salah satunya, adalah dari dampak peristiwa KAA.

Raihan Prestasi MKAA

MKAA dalam visinya untuk melestarikan Nilai-nilai KAA telah meraih berbagai prestasi di tingkat nasional, yakni Friendly Museum (2014), Fun Museum dan Museum Terbaik di Tingkat Kementerian/Lembaga/BUMN/TNI dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (2015), Museum Peduli Bahasa dari Balai Bahasa Propinsi Jawa Barat (2016), Museum Menyenangkan (2017), Inovasi Pelayanan Publik TOP 99 dan TOP 40 untuk Inovasi Jarum Pentul (2018), dan Penghargaan Wilayah Bebas dari Korupsi (Kemenpan RB, 2019).

Sederet prestasi itu adalah pengakuan publik terhadap upaya yang telah ditempuh Museum KAA yang dikenal sebagai trend setter pelibatan publik melalui Sahabat Museum KAA (SMKAA) dalam pengembangan museum di Indonesia.

Selain itu, melalui SMKAA, Museum ini juga telah berhasil mengembangkan audiens diplomasi publik, baik audiens nasional maupun internasional.

Pasalnya, Sahabat Museum KAA selain terdiri atas 11 program edukasi yang dikelola oleh klab-klab belajar, juga terdapat dua komunitas internasional, yaitu YAAA (Young African Ambassadors in Asia) dan ASAI (Asian Students Association in Indonesia).

Tak berlebihan rasanya, keberadaan MKAA di Gedung Merdeka dapat diibaratkan semacam pertalian jiwa dan raga. MKAA adalah jiwa pada raga Gedung Merdeka.