Museum KAA Dorong Anak-anak Hemat Air Sejak Dini Lewat Dongeng Afrika

112A3000Anak-anak mengikuti gerak-gerik pendongeng Pantai Gading Adama Adepoju dalam acara mendongeng ‘Conteur d’eau’ Minggu pagi, (24/3/2019) di Ruang Pameran Tetap Museum KAA. (Sumber Foto: Dok. Museum KAA)

BANDUNG, MUSEUM KAAAlkisah di suatu negeri di Afrika. Ramata datang dari desanya untuk mengunjungi sepupu-sepupunya di kota besar. Pada kunjungan itu, mereka sampai di sebuah bundaran. Di sana, ada air mancur yang sangat indah. Ramata sangat kagum melihatnya. Namun, sesaat kemudian, ia sadar. Itu air limbah.

Kepada Ramata, para sepupunya menjelaskan, air mancur itu hanya untuk mempercantik kota. Airnya tidak dapat diminum. Ramata kemudian membalas, “Di desa, kami perlu berjalan berkilometer-kilometer jauhnya untuk berharap menemukan seember air yang bahkan tidak dapat diminum. Bagiku itu adalah limbah!”

Demikian Adama Adepoju berkisah. Pendongeng kondang asal Pantai Gading di Afrika Barat itu menuturkan dongeng tadi di hadapan 100 siswa Sekolah Dasar dari 10 sekolah di Kota Bandung serta 50 orang dari kalangan umum dalam acara ‘Conteur d’eau, Minggu pagi, (24/3/2019) di Ruang Pameran Tetap Museum KAA.

Melalui dongeng-dongengnya, Adama Adepoju mengenalkan pentingnya air bagi kehidupan kepada anak-anak. Selama hampir dua jam, Adama yang pagi itu mengenakan kemeja casual lengan panjang bercorak hitam putih menampilkan 1 peribahasa dan 4 dongeng. Semuanya bertema air. Pasalnya, di Afrika air jadi isu paling relevan.

Dibantu interpreter Annisa Rasyidihartanti, Adama yang bercakap dalam Bahasa Perancis itu piawai memeragakan tokoh-tokoh dalam dongeng-dongengnya. Alhasil, perbedaan bahasa tak menjadi rintangan berarti bagi penonton yang sebagian besar anak-anak. Tak jarang tingkah Adama mengundang gelak tawa mereka.

112A2850Kepala Museum KAA Meinarti Fauzie memberikan sambutan sesaat sebelum sesi mendongeng dimulai. (Sumber Foto: Dok. Museum KAA)

Dalam kisah ‘Proverbes’, ia memperkenalkan sejumlah peribahasa bertema air dalam kehidupan. Adama yang telah menjalani profesi sebagai pedongeng selama hampir 19 tahun ini menekankan pentingnya air. “Perkara air, perkara kehidupan!tuturnya dengan gestur pantomimik.

Lalu, dalam kisah Mali Sadjo‘, Adama menyampaikan dongeng persahabatan antara seorang anak gadis bernama Sadjo dengan seekor kuda nil. Kisah ini dibumbui cinta dan tragedi. Latar cerita ini terjadi di Sungai Bafoulabé. “Nama sungai ini kelak menginspirasi nama Desa Bafoulabé di perbatasan negara Mali dan Senegal,” ujar pendongeng yang pernah menerima penghargaan mendongeng dari Presiden Pantai Gading ini.

Selanjutnya, ‘Chacun a son probleme d’eau‘ berisi cerita-cerita mengenai beragam masalah yang terjadi pada sistem penyebaran air bersih di lingkungan masyarakat. Tak kalah menarik pula, ‘Etoile Filanteyang bertutur asal mula bintang jatuh yang dimulai dengan cerita hidup sepasang suami istri yang saling mencintai. Terakhir, ‘La Danse de l’eau‘, yaitu cerita pentingnya air dalam kehidupan mahluk hidup yang dibungkus dalam fabel kerajaan satwa.

Dua siswa SR Iboe Inggit Garnasih Agil dan Sansan mengaku senang dengan acara ini. “Senang. Ceritanya bagus. Yang mendongeng juga keren. Terus, bisa mengenal Bahasa Perancis,” ucap Agil yang masih duduk di Kelas 6 Sekolah Dasar ini.

Acara dibuka resmi Kepala Museum KAA Meinarti Fauzie. Dalam sambutannya, ia mengatakan acara ini digelar di Museum KAA dalam rangkaian Peringatan 64 Tahun KAA. “Ada enam mata acara. Salah satunya ini (Conteur d’eau). Kehadiran pendongeng asal Afrika dalam acara ini merupakan sebuah keistimewaan tersendiri,” katanya.

112A2809

Direktur Institute Français d’Indonésie–Bandung Mélanie Martini – Mareel memberikan sambutan sekaligus memperkenalkan Bahasa Perancis kepada peserta acara mendongeng. (Sumber Foto: Dok. Museum KAA)

Senada dengannya, Direktur Institute Français d’Indonésie–Bandung Mélanie Martini – Mareel menerangkan, “Acara ini jarang ada. Seniman asal Afrika datang ke Asia. Harusnya lebih sering ke Bandung. Sebab, Bandung adalah Ibukota Asia Afrika. Dalam hal ini, IFI jadi penghubung.”

Acara mendongeng bertajuk ‘Conteur d’eau’ ini terselenggara berkat kerja sama antara Museum KAA dan Institute Français d’Indonésie – Bandung.

Sumber: Museum KAA