Demi Kualitas Koleksi, Museum KAA Gelar Bengkel Kerja Konservasi

112A3173Kasubdit Perawatan dan Perbaikan Bahan Pustaka Perpustakaan Nasional RI Dra. Made Ayu Wirawati, M.I.Kom sebagai narasumber bengkel kerja tengah memperagakan teknik laminasi dokumen di hadapan para peserta bengkel kerja Konservasi dan Koleksi Museum dan Perpustakaan pada Rabu, (8/11) di Museum KAA – Gedung Merdeka Jalan Asia Afrika No.65 Bandung. (Foto: Museum KAA)

BANDUNG, MUSEUM KAA — Sehari selembar benang, setahun selembar kain. Ungkapan ini cocok untuk Museum KAA yang tengah membenahi koleksinya melalui bengkel kerja bertajuk Konservasi Koleksi Museum dan Perpustakaan pada Rabu (8/11) di Ruang Galeri I Museum KAA Jalan Asia Afrika No.65 Bandung. Alasannya, upaya pelestarian Nilai-nilai KAA yang tengah gencar dilakukan Museum KAA bergantung pada ketersediaan koleksi sebagai sumber primer yang terawat baik.

“Suatu pekerjaan yang dilakukan dengan keyakinan dan kesabaran akan membuahkan hasil yang baik. Sebab itu, secara bertahap kami terus konsisten merawat koleksi. Salah satunya adalah melalui peningkatan kapasitas pengelola koleksi melalui bengkel kerja ini,” kata Kepala Museum KAA Meinarti Fauzie.

Menurut Meinarti, kendala yang dihadapi Museum KAA dalam perawatan koleksi tak hanya soal fasilitas tapi juga kapasitas SDM di bidang koleksi. Sebab itu, pihaknya mengundang pemateri pakar perawatan koleksi asal Perpustakaan Nasional RI Kasubdit Perawatan dan Perbaikan Bahan Pustaka Dra. Made Ayu Wirawati, M.I.Kom sebagai narasumber bengkel kerja itu. Meinarti menerangkan, diundangnya pemateri itu untuk memperkuat aspek perawatan koleksi di lingkungan Museum KAA. Alhasil, bengkel kerja dirancang menerapkan teori dan praktik perawatan koleksi sekaligus.

Made Ayu Wirawati yang karib disapa Ayu itu menjelaskan, seluruh peserta dibimbing untuk dapat meningkatkan kemampuan merawat dan memperbaiki kerusakan koleksi. “Perawatan koleksi adalah tindakan pencegahan kerusakan koleksi. Tindakan ini (red-perawatan) lebih baik daripada memperbaki. Soalnya, perbaikan terhadap kerusakan koleksi lebih rumit dan beresiko,” tegasnya.

Ayu pula mengingatkan dalam bengkel kerja yang berlangsung selama hampir dua jam itu, sebagian besar koleksi Museum KAA berwujud dua dimensi dan berbahan kertas. “Tadi saya sudah observasi sejumlah koleksi asli dua dimensi yang dipamerkan di Ruang Pameran Tetap Museum KAA. Saya sarankan perlu tindakan enkapsulasi dan laminasi untuk mencegah kerusakan. Selanjutnya adalah upaya replika koleksi. Jadi, nanti replikanya saja yang dipamerkan. (red-koleksi) Yang asli disimpan saja,” himbaunya.

Tantangan lain dalam upaya perawatan dan perbaikan koleksi adalah ketersediaan bahan konservasi, seperti tisu Jepang dan plastik polimer. Sebab, menurut Ayu, sebagian besar bahan itu masih belum tersedia di dalam negeri. Akibatnya, bahan harus diimpor. Akan tetapi, Ayu menawarkan solusi untuk itu. Pasalnya, setiap tahun Perpustakaan Nasional rutin memesan bahan-bahan tersebut untuk kebutuhan perawatan dan perbaikan koleksi.

112A3193Dalam sesi praktik Ayu sempat mendemonstrasikan perawatan koleksi dua dimensi dengan teknik yang aman untuk usia koleksi. Praktik ini dilakukan di hadapan puluhan peserta bengkel kerja. “Perlu diperhatikan dalam laminasi dokumen adalah sirkulasi udara. Supaya tetap netral. Ancaman dokumen seperti ini adalah sifat asam dan basa,” urai Ayu.

Di akhir acara Arsiparis Museum KAA M. Reza saat diwawancara mengatakan, ”Saya berharap di masa depan bengkel kerja ini bisa berkelanjutan. Ada banyak manfaatnya bagi kami dalam merawat koleksi di Museum KAA”.

Sumber: Museum KAA