Pekan Literasi Asia Afrika Membahas Sastra Sebagai Jalan Damai

7Suasana diskusi buku ‘Silang Cahaya Kearifan Budaya’ bersama Osel Resha, Soeria Disastra, dan Rameli Agam, Sabtu petang (5/10/2019) di Ruang Audiovisual Museum KAA, Jalan Asia Afrika No.65 Bandung. (Foto: Dok. Museum KAA)

BANDUNG, MUSEUM KAA – “Kok mereka sering bertengkar? Jangan-jangan karena ga pernah baca novel,” ungkap narasumber diskusi literasi Osel Resha yang akrab disapa Kang Osel dalam diskusi buku bertajuk ‘Silang Cahaya Kearifan Budaya’ karya Soeria Disastra Sabtu petang (5/10/2019) yang digelar dalam rangkaian acara Pekan Literasi Asia Afrika (PLAA) di Ruang Audiovisual Museum KAA, Jalan Asia Afrika No.65 Bandung.

Meski terasa satir, lanjut Kang Osel, sastra berperan memperhalus perasaan. Hal itu ia sampaikan saat mengulas pentingnya unsur sastra dalam buku ‘Silang Cahaya Kearifan Budaya’. Menurutnya, setelah membaca buku itu, siapa pun akan terbuka wawasannya tentang kesusastraan Peranakan Tionghoa di Indonesia.

Dengan begitu, akan saling mengenal kebudayaan dan selanjutnya terjalin saling pemahaman,” imbuh pegiat literasi di Komunitas Literasi Asian-African Reading Club (AARC) ini.

Senada dengan Kang Osel, Koordinator AARC Adew Habsta mengatakan, “Dari sisi bahasa saja, karya sastra ditulis dengan selektif oleh penulisnya. Sehingga, bukan saja muncul suasana dan nuansa tapi juga rasa. Dengan begitu muncul sisi bunyi yang menyentuh perasaan.”

Menurut Adew, buku ini sengaja dipilih dalam acara PLAA untuk memperlihatkan pentingnya sastra dalam menciptakan hubungan yang harmonis di tengah keragaman budaya yang dihadapi masyarakat. Pasalnya, buku ini merekam dengan baik hubungan antara ketiga kesusastraan, yakni kesusastraan Peranakan Tionghoa, Sastra Tiongkok, dan Sastra Indonesia.

Hubungan harmonis itu dalam buku ini, jelas Adew, direkam dalam bentuk esai-esai yang disusun dengan apik oleh penulisnya Soeria Disastra. Selain sastra, sang penulis juga melengkapi bukunya dengan gagasan intelektual dan politik terutama yang pernah ditayangkan dan diterbitkan oleh pers peranakan.

Malah salah satu di antaranya koran Sin Po. Koran ini rajin memberitakan peristiwa KAA 1955. Klipingnya ada di ruang pameran museum ini kalau ga salah,” tutur Adew.

Adew merinci, buku ini tebalnya 202 halaman. Selain menyajikan peran pers peranakan mulai masa kolonial Hindia Belanda hingga kolonial Jepang, buku ini juga menghimpun esai mengenai kebudayaan. “Ada puisi, bahasa, sastra, etnis Tionghoa. Tambahan juga soal intelektual dan politik. Malah, dua budayawan Ahda Imran dan Acep Iwan Saidi ikut mengedit dan memberikan kata pengantarnya,” terangnya.

Selain Kang Osel, turut hadir dalam acara diskusi buku ini penulisnya sendiri Soeria Disastra, dan wartawan HU Galamedia Rameli Agam serta selaku moderator mentor Klab Ni Hao SMKAA Sri Retnoningsih.

Dalam kesempatan terpisah, Kepala Museum KAA Meinarti Fauzie mengatakan, melalui buku ini publik yang hadir di acara PLAA dapat mengenal lebih jauh kesusastraan Peranakan Tionghoa di Indonesia.

Tak kenal, maka tak sayang. Mendorong kerukunan dan hubungan yang harmonis dengan saling mengenal satu sama lain,” pungkasnya.

Sumber: Museum KAA

Share