Peringati Hari Museum Indonesia 2018, Museum KAA Gelar Pameran Diplomasi Indonesia

1qPoster publikasi Hari Museum Indonesia yang diterbitkan Museum KAA. (Sumber: Dok. Museum KAA)

BANDUNG, MUSEUM KAA – Setiap Jumat Museum KAA melayani kunjungan publik mulai pukul dua siang. Kendati demikian, dalam peringatan Hari Museum Indonesia kali ini Museum KAA sengaja melayani publik sejak pukul delapan pagi. Dengan begitu, publik lebih leluasa berkunjung ke Museum KAA.

Hal itu dijelaskan Kepala Museum KAA Meinarti Fauzie menyangkut keterlibatan Museum KAA dalam acara Peringatan Hari Museum Indonesia pada Kamis (11/10/2018) di Museum KAA Jalan Asia Afrika Bandung.

Dalam acara peringatan itu, edukator Museum KAA telah menyiapkan kejutan untuk pengunjung. Sejumlah hadiah menarik siap dibagikan kepada pengunjung.

Kami menyambut pengunjung sejak pagi. Sudah ada sejumlah rombongan pengunjung yang melakukan reservasi pada hari itu,” ungkapnya.

Pameran Temporer ‘Indonesia: A True Partner for World Peace’

Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, peringatan Hari Museum Indonesia di Museum KAA tahun ini terasa lebih lengkap. Sebab, kali ini museum yang bernaung di bawah Kementerian Luar Negeri Ditjen IDP itu menyajikan pameran temporer untuk pengunjung museum. Pameran itu bertajuk Indonesia: A True Partner for World Peace. Menurut Kepala Museum KAA, pameran itu merupakan hasil kerja sama dengan Direktorat Kerja Sama Teknik Kementerian Luar Negeri.

Dalam pameran itu, jelasnya, informasi peran aktif Indonesia dalam mewujudkan perdamaian dunia disajikan dengan menarik. Dengan demikian pengunjung dapat dengan leluasa mempelajari kiprah diplomasi Indonesia secara utuh. Pasalnya, informasi itu dikemas secara diakronik, dimulai sejak tahun 1928 hingga 2018, dalam sepuluh panil terpisah di Selasar Tengah Museum KAA.

Melalui panil-panil itu, pengunjung museum kini bisa mengetahui banyak hal soal kiprah diplomasi Indonesia mulai masa awal kemerdekaan hingga terpilihnya Indonesia untuk yang keempat kalinya sebagai Anggota Tidak Tetap Dewan Keamanan PBB.

Ia merinci, ada enam kelompok panil dalam pameran temporer itu. Pertama dalam panil ‘Indonesia: A True Partner for World Peace’ pengunjung memahami doktrin politik luar negeri Indonesia yang bebas dan aktif. Selanjutnya, pada kelompok panil ‘Indonesian Diplomacy in Its Early Years’ pengunjung dikisahkan kiprah awal diplomasi Indonesia.

Pengunjung kemudian akan belajar banyak soal kiprah lanjutan diplomasi Indonesia melalui tiga kelompok panil, yaitu kelompok panil ‘Indonesia South-South Cooperation: Better Partnership for Prosperity’, kelompok panil ‘Indonesian Peacekeepers in Action’, dan kelompok panil ‘A True Partner for Development’.

Puncaknya informasi tentang terpilihnya Indonesia sebagai Anggota Tidak Tetap DK PBB menutup rangkaian panil pameran itu.

Pameran itu, seperti ia jelaskan, rencananya akan berlangsung selama sebulan. Pameran terbuka untuk umum dan tidak dipungut biaya. Pameran buka sesuai jam pelayanan Museum KAA.

Aktifitas Museum KAA pada peringatan hari museum itu, jelasnya, tetap mengutamakan dua pengalaman berkunjung, seperti leisure values dan personal history bagi setiap pengunjung Museum KAA.

Menurutnya, sejak penetapan Hari Museum Indonesia pada tahun 2015 Museum KAA telah beberapa kali turut merayakannya. Pihaknya menyambut baik penetapan hari museum Indonesia. Sebab, museum-museum di Indonesia sejak itu telah memiliki momen bersama secara nasional.

Hari Museum Indonesia 2018

Seperti dilansir Direktorat Pelestarian Cagar Budaya dan Permuseuman (PCBM) pada Selasa (18/9/2018) melalui surat pemberitahuan peringatan Hari Museum Indonesia, penetapan 12 Oktober sebagai Hari Museum Indonesia berdasarkan pada Deklarasi Penetapan Hari Museum Indonesia. Penetapan itu telah disepakati pada tanggal 26 Mei 2015 di Malang oleh seluruh organisasi museum di Indonesia dan Direktorat Jenderal Kebudayaan.

Dijelaskan dalam surat itu, tanggal ditetapkan karena pernah menjadi salah satu momen penting bagi sejarah permuseuman di Indonesia, yaitu ketika terselenggaranya Musyawarah Museum se-Indonesia pertama pada 12 -14 Oktober 1962 di Yogyakarta.

Sedangkan, peringatan secara nasional pada tahun 2018 ini dilaksanakan di Museum Balanga Provinsi Kalimantan Tengah mulai tanggal 12 hingga 18 Oktober sekaligus dilaksanakan pula pertemuan seluruh kepala museum se-Indonesia.

Adapun, tema Hari Museum Indonesia kali ini adalah ‘Museum Kebanggaan Milenial’ dengan tagline ‘Ke Museum Yuk!’. Hal ini mengingat, generasi milenial merupakan target utama museum saat ini.

Generasi milenial sangat mudah mendapatkan informasi, kapan saja dan di mana saja yang menjadi tantangan tersendiri bagi museum untuk bisa menawarkan sesuatu yang berbeda dengan dunia maya agar tetap dapat menarik minat generasi milenial.

Sedangkan logo yang dipilih untuk peringatan kali ini adalah Burung Enggang dan Museum di Hatiku. Burung Enggang sangat dihormati dan disakralkan oleh masyarakat suku Dayak dan dianggap sebagai lambang perdamaian dan persatuan.

Sumber: Museum KAA