Peristiwa KAA Dijadikan Contoh Bentuk Musyawarah dalam Pameran Hari Museum Indonesia

9Dirjen Kebudayaan Kemendikbud Hilmar Farid saat membuka pameran bersama museum bertajuk ‘Beda Rupa Banyak Cerita’ yang digelar oleh Direktorat PCBM Kemendikbud RI mulai tanggal 7 hingga 13 Oktober 2019 dalam rangkaian acara Peringatan Hari Museum Indonesia tahun 2019, di Taman Fatahillah kawasan Kota Tua Jakarta. (Foto: Instagram Dit. PCBM)

BANDUNG, MUSEUM KAABerbagai bentuk musyawarah dikenal di banyak daerah di Nusantara dengan nama yang berbeda. Di Bima dinamai Mblolo Weki, sementara di Lampung disebut dengan Buhippun. Sedangkan Konferensi Asia Afrika merupakan contoh musyawarah di tingkat dunia.

Penggalan kalimat ini tertera di sektor 4 pameran ‘Beda Rupa Banyak Cerita’ yang digelar Direktorat PCBM Kemendikbud RI mulai tanggal 7 hingga 13 Oktober 2019 dalam rangkaian acara Peringatan Hari Museum Indonesia tahun 2019, di Taman Fatahillah kawasan Kota Tua Jakarta. Museum KAA adalah salah satu dari 17 museum yang ditampilkan dalam pameran itu.

Sektor ini dalam storyline pameran sengaja dirancang untuk merepresentasikan sila ke-4 Pancasila. Itu sebabnya informasi yang disajikan terkait wujud musyawarah di Nusantara.

Sektor ini, seperti dilansir oleh kurator pameran, berjudul ‘Berdebat Buat Sepakat’ untuk menerangkan bahwa bangsa Indonesia telah mengenal siasat dan taktik untuk mencapai kesepakatan melalui berbagai bentuk diskusi yang telah ada sejak jaman prasejarah.

Sopan santun kadang menjelma jadi rasa sungkan. Tapi perbedaan perlu selalu dibicarakan,” demikian tulis sang kurator pameran sebagai pengantar sektor 4.

Setiap pengunjung yang menyambangi sektor ini dapat membaca jelas keterangan sang kurator soal KAA. Informasi ini terpampang secara horizontal memanjang dan diterjemahkan juga ke dalam Bahasa Inggris. Menurutnya, KAA pertama kali diadakan tahun 1955 di Bandung ketika peran negara non-Barat dalam penegakan hak asasi manusia masih dianggap sebelah mata.

Keterangan soal KAA tak berhenti sampai di situ. Masih dijelaskan dalam panil yang dibalut warna putih itu, Presiden Sukarno sendiri menyebut KAA sebagai konferensi antar benua negara-negara kulit berwarna yang pertama dalam sejarah manusia. Sebab itu, hak asasi manusia dan penentuan nasib sendiri adalah agenda utama konferensi ini.

Di penghujung panil, pengunjung yang akan meninggalkan sektor 4 membaca kalimat pamungkas sang kurator sebagai pesan pamungkas, “KAA tonggak utama terbentuknya kerjasama negara-negara Selatan dalam proses dekolonisasi melawan berbagai bentuk penjajahan baru pasca Perang Dunia II. Maka, KAA dipandang sebagai titik tertinggi diplomasi luar negeri Indonesia.”

Museum KAA sendiri dalam pameran ini memajang 5 buah buku koleksi istimewa tentang sejarah KAA. Selain itu, seorang edukator Museum KAA turut pula ditugaskan selama sepekan dalam pameran ini untuk membantu membimbing pengunjung.

Di antara buku yang dipamerkan, buku ‘Pictorial Record of The Asian-African Conference‘ paling banyak menyita perhatian pengunjung. Pasalnya, buku ini sesuai judulnya kaya akan foto-foto dokumenter yang melukiskan lebih dekat peristiwa KAA. Salah seorang pengunjung kepada edukator Museum KAA mengaku, foto-foto itu selain memiliki resolusi yang tinggi juga bercerita banyak hal yang umumnya ia belum ketahui sebelumnya.

Terkait KAA yang dijadikan salah satu contoh bentuk musyawarah, Kepala Museum KAA Meinarti Fauzie mengatakan, KAA memang sebagaimana dijelaskan oleh Sekretaris Jenderal KAA Roeslan Abdulgani dalam bukunya yang berjudul The Bandung Connection sukses digelar lantaran menerapkan prinsip musyawarah mufakat.

Bayangkan dalam usianya yang baru satu dasawarsa, pemerintah Indonesia bukan saja berhasil jadi tuan rumah yang baik tapi juga memimpin musyawarah 29 negara Asia dan Afrika yang jelas-jelas berasal dari sistem politik dan ideologi yang sangat berbeda untuk mencapai kesepakatan soal cara terbaik mencapai perdamaian dunia kala itu yang terancam oleh polarisasi Perang Dingin antara Blok Barat dan Blok Timur,” pungkasnya.

Sumber: Museum KAA

Share