Sahabat Museum KAA Belajar Bersama di SR Iboe Inggit Garnasih

foto1Siswa SR Iboe Inggit Garnasih berfoto bersama anggota Sahabat Museum KAA berlatar peace of wall 109 bendera negara peserta KAA di Jalan Liogenteng Kelurahan Nyengseret Kecamatan Astana Anyar Bandung pada Minggu, (3/2/2019). (Sumber Foto: Klab Journativist SMKAA)

BANDUNG, MUSEUM KAA – Budi pekerti dan semangat kebangsaan yang ditanamkan pada siswa SR Iboe Inggit Garnasih ternyata menginspirasi para anggota Sahabat Museum KAA yang berkunjung ke Sakola Ra’Jat (SR) Iboe Inggit Garnasih di Jalan Liogenteng Kelurahan Nyengseret Kecamatan Astana Anyar Bandung pada Minggu (3/2/2019).

Rombongan itu terdiri atas dua puluh lima orang anggota Sahabat Museum KAA. Mereka perwakilan dari berbagai klab yang bernaung di Sahabat Museum KAA. Dalam kunjungan itu turut pula hadir Koordinator Harian Sahabat Museum KAA Sagia Hutmaira serta dua anggota dewan pembina Sahabat Museum KAA Sri Retnoningsih dan Iis T. Pandi.

Kami kagum dengan pelajaran budi pekerti dan kebangsaan yang dipelajari siswa di sekolah ini. Kami belajar banyak dari adik-adik di sini,” terang Sagia.

Itu sebabnya, lanjut Sagia, di awal tahun ini Sahabat Museum KAA yang mengusung Nilai-nilai KAA sebagai visinya memutuskan menyambangi sekolah di lingkungan Liogenteng itu. Dengan begitu, para anggota Sahabat Museum KAA dapat berkenalan dengan siswanya sekaligus merasakan langsung suasana belajarnya.

Dalam kunjungan itu, para anggota Sahabat Museum KAA akrab membaur bersama siswa SR Iboe Inggit Garnasih. Mereka bermain sambil belajar sejarah, termasuk sejarah dan Nilai-nilai KAA. Melalui dialog interaktif di antara mereka, pesan sejarah yang sarat dengan nilai-nilai keteladanan mengalir santai.

foto2Siswa SR Iboe Inggit Garnasih bermain bersama anggota Sahabat Museum KAA pada Minggu, (3/2/2019). (Sumber Foto: Klab Journativist SMKAA)

Salma, salah satu siswa SR Iboe Inggit Garnasih mengungkapkan antusiasmenya atas acara ini. Gadis yang masih duduk di kelas 4 SD ini sangat ingin kegiatan serupa berlangsung di kemudian hari, terutama karena teman-teman dari Sahabat Museum KAA datang dengan membawa games seru.

Koordinator SR Iboe Inggit Ganarsih Gatot Gunawan tak luput pula merasakan hal yang sama. Pria berkacamata yang karib disapa Kang Gatot ini mengatakan, masyarakat sekitar menyambut positif kegiatan ini. Menurutnya lagi, kegiatan Museum KAA ini patut dicontoh museum-museum lain sehingga museum bukan lagi menjadi hal yang asing bagi khalayak.

Sementara itu, Koordinator Klab Heiwa Sahabat Museum KAA Siti Hajar Linmas Fatimah – yang karib disapa Lin – turut belajar bersama di Minggu siang itu mengatakan, ia terkesan akan semangat kebangsaan yang ditularkan siswa dan siswi di SR Iboe Inggit Garnasih. Kepada mereka, Lin yang pernah menuntaskan program magang di Museum KAA di tahun 2017 ini berpesan, “Selalu ingat ya untuk menjaga rasa persaudaraan dan solidaritas. Dengan itu, kita dapat mempertahankan perdamaian.”

Sri Retnoningsih berharap agar semangat persahabatan antara anggota Sahabat Museum KAA dan SR Iboe Inggit Garnasih terus terjalin selamanya. “Bersilaturahmi dengan sahabat-sahabat cilik di SR Iboe Inggit Garnasih menyenangkan dan bermanfaat,” akunya.

Kesan mendalam juga dialami salah seorang anggota Klab Guriang Sahabat Museum KAA Ary Maulana. Alumni UIN Sunan Gunung Djati itu mengungkapkan, “Saya senang bisa bertemu, berkenalan, dan bercakap-cakap dengan teman-teman cilik di sini. Semangat yang terpancar dari mereka memberikan semangat dan motivasi tersendiri bagi saya.”

Ary yang juga aktif sebagai pegiat di Sekolah Damai Indonesia ini rupanya tak hanya terkesan tapi juga terinspirasi. Ia memaparkan lebih jauh, bercakap-cakap dengan mereka seakan mengingatkan dirinya agar tidak pernah lelah untuk bermimpi, bercita-cita, dan menggapainya. Di antara mereka, ia merinci, ada yang bercita-cita menjadi seorang guru, pemain sepakbola, arsitektur, dokter hewan, dan lain sebagainya.

Di penghujung kegiatan, anggota Sahabat Museum KAA dan siswa SR Iboe Inggit Garnasih berfoto bersama berlatar lukisan mural bendera-bendera negara peserta KAA. Usai berfoto, Koordinator Harian Sahabat Museum KAA menyerahkan seperangkat alat keperluan belajar kepada pengelola SR Iboe Inggit Garnasih.

foto3Koordinator Harian Sahabat Museum KAA Sagia Hutmaira menyerahkan seperangkat alat keperluan belajar kepada Koordinator SR Iboe Inggit Garnasih pada Minggu, (3/2/2019). (Sumber Foto: Klab Journativist SMKAA)

SR Iboe Inggit Garnasih

SR Iboe Inggit Garnasih didirikan dua tahun silam, tepatnya 17 Maret 2017. Kala itu beberapa pemuda, seperti Sandi, Gatot Gunawan, dan beberapa pemuda lainnya tergerak untuk mewadahi anak-anak yang berkemauan belajar di lingkungan Liogenteng. Mereka menginginkan sekolah khusus tempat anak-anak belajar berbagai keterampilan mulai dari menari, menyanyi, hingga Bahasa Belanda.

Ternyata anak-anak di lingkungan menyambut baik gagasan itu,” terang Kang Gatot.

Semua kegiatan yang berlangsung di sekolah ini, imbuhnya, dibimbing para relawan. Mereka datang dari berbagai komunitas dan universitas di Bandung.

Yang menarik, di sekolah ini siswa belajar mendalami soal sejarah melalui berbagai kegiatan yang mendalam. Pelajaran budi pekerti, dan ejaan lama turut juga diperkenalkan. Selainnya, tentu saja mereka mendapat materi pelajaran seperti umumnya di sekolah.

Menjelang Peringatan 63 Tahun KAA setahun silam, Kepala Museum KAA Meinarti Fauzie mengunjungi SR Iboe Inggit Garnasih sebagai wujud apresiasi. Pengenalan sejarah yang ditempuh pengelolah sekolah ini, menurut Meinarti, sejalan dengan tujuan Museum KAA yang berkomitmen melakukan pelestarian Nilai-nilai KAA, seperti kerja sama, kesetaraan, dan hidup damai berdampingan.

Fellowship Sahabat Museum KAA

Ary Maulana mengaku bersyukur dirinya bisa hadir dan mengikuti rangkaian acara fellowship Sahabat Museum KAA di SR Iboe Inggit Garnasih. Ia beralasan, “Selain berjumpa dengan teman-teman di sekolah ini, saya pun dapat lebih mengenal dan akrab lagi dengan teman-teman dari berbagai Klub di Sahabat Museum KAA.”

Pengakuan Ary soal fellowship itu diamini Sri Retnoningsih. Dewan Pembina Sahabat Museum KAA yang sehari-hari menjabat sebagai Ketua Program Studi di sebuah perguruan tinggi di Bandung itu membenarkan, “Salut pada 25 orang Sahabat Museum KAA yang hadir pada kegiatan siang tadi. Mereka terdiri dari beberapa klab yang ada di Sahabat Museum KAA. (Anggota) Antar klab bertemu, berbincang, tertawa, dan berkegiatan bersama.”

foto4Anggota Sahabat Museum KAA berfoto bersama di depan mural wall of peace 109 bendera negara peserta KAA di SR Iboe Inggit Garnasih pada Minggu, (3/2/2019). (Sumber Foto: Iis T. Pandi)

Kunjungan Sahabat Museum KAA ke SR Iboe Inggit Garnasih merupakan bagian dari program fellowship Sahabat Museum KAA yang rutin digelar tiap tahun. Kegiatan ini digagas para pegiat Sahabat Museum KAA untuk meningkatkan jalinan kerja sama antara anggota Sahabat Museum KAA yang tergabung di berbagai klab.

Kepala Museum KAA Meinarti Fauzie menerangkan, pihaknya mendukung program fellowship Sahabat Museum KAA yang digelar di SR Iboe Inggit Garnasih. Seperti ia jelaskan, “Museum KAA dan Sahabat Museum KAA mengusung nilai-nilai yang senafas dengan pendidikan budi pekerti dan kebangsaan yang ditanamkan SR Iboe Inggit Garnasih selama ini.”

Ia berharap, melalui program fellowship ini akan terjalin kekompakan tak hanya di antara Sahabat Museum KAA dan SR Iboe Inggit Garnasih tapi lebih jauh lagi ke dalam klab-klab yang dikoordinir oleh Administrator Sahabat Museum KAA.

Dengan begitu, pungkasnya, Sahabat Museum KAA akan makin kokoh sebagai mitra Museum KAA dalam melestarikan Nilai-nilai KAA kepada masyarakat, khususnya kalangan generasi muda di Kota Bandung.

Sumber: Museum KAA