Serunya Belajar Sejarah à la BHSG

bhsg1Poster publikasi acara BHSG 2019 di Museum KAA. (Desain: Publikasi MKAA)

BANDUNG, MUSEUM KAA – Fakta sejarah menunjukkan KAA 1955 bukan satu-satunya peristiwa terkait diplomasi perjuangan di Kota Bandung. Sayangnya, tak banyak warga kota yang menyadarinya. Padahal, sebagian besar peristiwa itu dapat ditelusuri dari sejumlah tempat, situs, dan monumen di sejumlah kawasan di Kota Bandung.

Demikian disampaikan Kepala Museum KAA Meinarti Fauzie Sabtu, (4/5/2019) di Gedung Dwiwarna di Jalan Diponegoro Bandung dalam acara pembukaan Bandung Historical Study Games (BHSG) 2019.

Ia melanjutkan, di masa Diplomasi Mempertahankan Kemerdekaan (1945-1950) banyak peristiwa heroik lain yang terjadi di Kota Bandung. Rentetan peristiwa itu terkait erat dengan dampak diplomasi perjuangan yang sedang dijalankan pemerintah Indonesia kala itu.

bhsg2Kepala Museum KAA Meinarti Fauzie membuka resmi acara BHSG 2019, Sabtu (4/5/2019) di Gedung Dwi Warna Jalan Diponegoro Bandung. (Foto: Dok. MKAA)

Di antaranya, ia contohkan, yang paling terkenal adalah peristiwa Bandung Lautan Api, kelahiran Negara Pasundan, Konferensi Negara Indonesia Serikat, Operasi Kraai, kemunculan DI/TII, peristiwa APRA, dan pembubaran Negara Pasundan. Semua peristiwa itu, menurutnya, meninggalkan jejak kolektif memori dalam sejarah Kota Bandung.

Berangkat dari itu, imbuhnya, Museum KAA yang bernaung di Direktorat Jenderal Informasi dan Diplomasi Publik Kemenlu bermaksud mempromosikan sejarah perjuangan diplomasi Indonesia secara lebih luas kepada warga Kota Bandung, khususnya peserta lomba sejarah BHSG 2019.

Itu sebabnya BHSG mengangkat tema ‘Diplomasi Perjuangan’. Tema ini sejalan dengan tujuan Peringatan 64 Tahun KAA yang dirancang sebagai strategi belajar yang ditempuh Museum KAA untuk Pelestarian Nilai-nilai KAA.

bhsg3Peserta acara BHSG 2019 sedang mengerjakan tantangan di situs bersejarah dalam lintasan lomba. (Foto: Dok. MKAA)

Menyinggung konsep BHSG, ia mengungkap, acara ini dirancang sebagai kegiatan pembelajaran sejarah dalam bentuk permainan yang bersifat edukatif dan rekreatif. Area permainan sendiri terbentang dari Gedung Dwi Warna (Jalan Diponegoro) sampai dengan Gedung Merdeka (Jalan Asia Afrika). “Pesertanya kami ajak menjelajah jejak sejarah Kota Bandung sambil menjawab kuis sesuai dengan petunjuk yang diberikan,” rincinya.

Tahun ini pihaknya membatasi peserta 400 orang. Akan tetapi, akunya, calon peserta sebenarnya membludak hingga 1116 orang. Pada acara BHSG kali ini terdapat peserta dengan usia paling tua 55 tahun dan peserta paling muda 15 tahun. Peserta tak hanya warga Kota Bandung tapi juga ada asal Jakarta.

Acara ini melibatkan 196 relawan yang direkrut Sahabat Museum KAA. Ini adalah kali ketujuh BHSG digelar Museum KAA sejak 2013. BHSG dari tahun ke tahun tidak pernah sepi dari peminat. Peminatnya malah cenderung meningkat dan makin beragam.

Sumber: Museum KAA