Surat Pak Ali Yang Mengubah Dunia

Colombo-01

PM Ali Sastroamidjojo tengah berdiskusi bersama para Perdana Menteri peserta Konferensi Kolombo lainnya di Kota Kolombo, Sri Lanka yang digelar mulai 28 April hingga 1 Mei 1954. (Sumber: Dok. Museum KAA)

BANDUNG, MUSEUM KAA – Awal tahun 1954 PM Indonesia Ali Sastroamidjojo yang akrab disapa Pak Ali itu melayangkan sepucuk surat kepada PM Sri Lanka Sir John Kotelawala. Surat itu kelak menentukan masa depan bangsa Asia Afrika.

Isi surat Pak Ali itu tak main-main. Sebab, isinya kemudian telah mengubah agenda pertemuan informal di Ibu Kota Sri Lanka Kolombo di minggu terakhir bulan April 1954. Pertemuan itu yang digagas PM Sir John Kotelawala kelak berubah di tangan Pak Ali menjadi ajang pemerintah Indonesia dalam meraih dukungan perdana terhadap usul Konferensi Asia Afrika (KAA) 66 tahun silam.

Awalnya, seperti ditulis Pak Ali dalam memoarnya ‘Tonggak-tonggak di Perjalananku’, PM Srilanka itu mengundang empat perdana menteri asal Burma, India, Indonesia, dan Pakistan ke Kota Kolombo di penghujung tahun 1953.

Itu sebabnya Pak Ali menerima sepucuk surat undangan asal PM Sir John Kotelawala. Kala itu, Pak Ali baru genap lima bulan menjabat sebagai Kepala Pemerintahan usai dilantik Presiden Soekarno di bulan Agustus 1953.

Surat itu bertujuan mengajak kehadiran Pak Ali supaya bersedia hadir dalam pertemuan informal yang rencananya akan digelar di akhir bulan April 1954. Dalam surat itu juga PM Sir John Kotelawala menjelaskan siapa saja yang kelak diundang.

Tujuannya, seperti dikisahkan Pak Ali dalam memoarnya, tak lain untuk membahas efek domino Perang Dingin yang semakin mengancam perdamaian di kawasan Asia Tenggara, terutama dalam konflik Indochina antara Perancis dan Viet Minh.

Pak Ali menulis dalam memoarnya, ”Daftar undangan dalam surat itu meliputi Perdana Menteri tapi disebut sebagai pertemuan informal. Kemudian, agendanya terdiri atas isu efek domino komunisme di Asia dan ancaman senjata pemusnah masal.”

Tak menunggu lama, Pak Ali – yang sejak awal dilantik sebagai Perdana Menteri ke-8 Indonesia itu telah mengumandangkan pentingnya arah politik luar negeri Indonesia pada kerja sama yang lebih erat dengan negara-negara di Asia dan Afrika – segera menulis surat menjawab undangan PM Sir John Kotelawala itu.

Dalam surat itu, Pak Ali bersedia hadir asal PM Sir John Kotelawala selaku inisiator sekaligus tuan rumah memenuhi persyaratan Indonesia. Pak Ali meminta supaya pertemuan Kolombo lebih mengutamakan topik kepentingan bersama. Sebab, ketegangan Pakistan dan India kala itu dikhawatirkan Pak Ali akan menyeret pertemuan itu pada isu bilateral.

Selain itu, Pak Ali juga mensyaratkan agar Indonesia mendapat kesempatan untuk menyampaikan usulan pentingnya Konferensi Asia Afrika. “Pertemuan sejenis Konferensi Kolombo tapi dengan cakupan yang lebih luas untuk mendorong kerja sama antar kawasan,” demikian ungkap Pak Ali dalam memoarnya soal suratnya kepada PM Sir John Kotelawal.

Pucuk dicinta ulam tiba. Pak Ali tak lama kemudian menerima tanggapan PM Sir John Kotelawala. Dua syarat Pak Ali disetujui. Sejak itu sejarah persiapan KAA mulai bergulir. Meski tak mudah lantaran diliputi keraguan soal kemampuan Indonesia, Pak Ali akhirnya berhasil meraih kepercayaan para Perdana Menteri soal pentingnya Konferensi Asia Afrika.

Di penghujung Konferensi Kolombo, kelima Perdana Menteri menyepakati Komunike Bersama Konferensi Perdana Menteri Asia Tenggara. Salah satu butir dalam komunike itu memuat dukungan Konferensi Kolombo kepada pemerintah Indonesia untuk segera menyelidiki kemungkinan terlaksananya Konferensi Asia Afrika.

PM Sir John Kotelawala mungkin tak pernah mengira pertemuan informal yang ia gagas lantaran kekhawatirannya akan ancaman konflik Indochina itu telah meletakkan fondasi paling kokoh bagi cita-cita Indonesia untuk mewujudkan Konferensi Asia Afrika kelak.

Sumber: Museum KAA