Tiga Hal Ini Bikin Nyaman Anak-anak di Museum KAA

IMG-20190712-WA0019Anak-anak menemukan sendiri tempat paling menarik untuk belajar sejarah di setiap sudut Museum KAA. (Foto: Wulan)

BANDUNG, MUSEUM KAA – Dahulu bila mendengar kata museum, yang teringat dalam benak tentu kuno, serius, berdebu, dan membosankan. Lebih dari itu, ingatan kita juga tertuju pada suasana misterius dan menyeramkan lantaran segudang artifak terpajang dingin dan bisu.

Namun jangan salah, sejak tahun 2010 seiring kampanye Gerakan Nasional Cinta Museum (GNCM) museum mulai berbenah. Satu dekade terakhir secara umum museum sudah banyak mengalami perubahan signifikan. Perubahan itu mencakup konsep dan penataan ruang hingga pelayanan publik sebagai ujung tombak.

Tidak terkecuali Museum Konferensi Asia Afrika (MKAA), museum ini – yang bernaung di bawah Direktorat Jenderal Informasi dan Diplomasi Publik Kemenlu RI – mulai melakukan pembenahan secara bertahap pada tahun 2005, terutama fasilitas pelayanan publik. Ruang Pameran Tetap museum ini tak lagi sepi. Pasalnya, perangkat multimedia dan audiovisual yang nyaman mulai menghiasi setiap sudutnya. Selain fokus pada media belajar, pengelola museum ini juga mengembangkan strategi belajar yang inklusif bagi pengunjung museum dari segala usia.

Sejak itu, Museum KAA tampil jadi salah satu museum di Indonesia yang paling banyak dikunjungi wisatawan. Sejarah KAA mulai jauh dari kesan serius dan berat lantaran disajikan untuk segala usia. Alhasil, museum di bilangan kawasan Braga ini makin dekat dengan masyarakat.

IMG-20190712-WA0021Siapa saja bisa belajar sejarah dengan asyik di Museum KAA. Jari bocah bertopi biru ini sibuk menari di atas layar multimedia sejarah KAA di Ruang Pameran Tetap Museum KAA, Jumat, (12/7/2019). (Foto: Wulan)

Multimedia

Di sudut ruang pameran seorang anak dengan khidmat membaca kutipan pidato Presiden Sukarno kala membuka sidang KAA. Sayup-sayup dari pelantang suara yang tersembunyi di balik panil terdengar rekaman suara Presiden Sukarno tengah membaca pidato itu.

Sepuluh menit berlalu. Anak berbaju batik warna merah marun ini tetap tenang menyimak pidato itu. Sesekali kepalanya mengangguk-angguk seakan paham akan makna di balik pidato.

Sementara di beberapa titik lain multimedia tak sepi dari bocah-bocah yang penasaran dengan lagu kebangsaan negara-negara peserta KAA. Layar multimedia menjadi sasaran empuk tangan mungil para bocah itu sambil didampingi orang tua mereka. Sorot mata mereka tajam sambil memperhatikan dan membaca tulisan di multimedia.

Demikian pula dengan ruang audiovisual. Di sini anak-anak duduk rapi. Dengan tenang mereka memperhatikan film pendek sejarah KAA di layar lebar. Mata mungilnya tak lepas menatap layar. Film berdurasi sepuluh menit itu tak pernah gagal menyihir pengunjuk cilik Museum KAA.

IMG-20190712-WA0023Bocah lelaki dibalut kemeja batik ini rela merundukkan badan demi melihat lebih dekat kamera yang digunakan jurnalis saat meliput Konferensi Asia Afrika, Jumat, (12/7/2019). (Foto: Wulan)

Koleksi Tiga Dimensi

Bagi anak-anak, selain harus menyenangkan belajar juga disertai media konkret. Sebab, pada usia ini media pembelajaran seperti itu memiliki pengaruh yang besar. Dengan begitu, anak-anak lebih termotivasi, mudah memahami, dan mengerti.

Itu sebabnya koleksi tiga dimensi KAA disajikan menarik. Setiap koleksi terlindung di balik kaca tebal, disertai tata cahaya, dan keterangan yang informatif. Bukan hanya itu, koleksi dapat disaksikan dari beberapa sudut berbeda. Dengan demikian, pengunjung leluasa mengamati koleksi-koleksi ini.

Koleksi mesin tik dan perangko KAA, misalnya. Rerata anak-anak tak mengenal lagi fungsi kedua koleksi ini. Dalam setiap kunjungan anak-anak, dua alat komunikasi ini sukses menyedot perhatian mereka.

IMG-20190712-WA0020Edukator yang inspiratif akan menginspirasi anak-anak melalui kisah-kisah KAA, Jumat, (12/7/2019). (Foto: Wulan)

Edukator

Anak-anak bersukacita sambil berswafoto. Mereka menunjukkan kebanggaan. Pemandangan ini hampir setiap hari menghangatkan suasana Museum KAA. Sampai mereka melangkah di pintu keluar museum, yang tersisa hanya keceriaan, pengetahuan, dan rasa penasaran untuk kembali menyusuri sejarah KAA yang mendunia.

Kesan ini tak lepas dari peran edukator museum. Setiap edukator dibekali teknik ice breaking dan public speaking. Dua hal ini paling menentukan keberhasilan seorang edukator ketika membimbing pengunjung museum, khususnya anak-anak.

Koleksi yang detil saja tak cukup bagi para edukator Museum KAA. Lantaran, dua faktor tadi menjadi kunci cerita pesan koleksi yang menarik. Perilaku anak-anak yang gembira dan antusias selama berkeliling museum mencerminkan keberhasilan seorang edukator.

Sumber: Museum KAA

Share