Urgensi Teknologi Digital Bagi Disabilitas Netra Dibahas dalam Pekan Literasi Asia Afrika

8Suasana diskusi literasi bertajuk ‘Literasi Digital di Dunia Disabilitas Netra’, Minggu pagi (6/10/2019) dalam rangkaian acara PLAA ke-6 di Ruang Audiovisual Museum KAA, Jalan Asia Afrika No.65 Bandung. (Foto: Dok. Museum KAA)

BANDUNG, MUSEUM KAA – Di tengah pesatnya kemajuan teknologi informasi saat ini, sisi inklusifitas sebuah perpustakaan modern melalui penyediaan buku braille, buku bicara, seperti kaset, cd, dan digital talking book bagi disabilitas netra sudah makin tak terelakkan.

Hal itu disampaikan Ahmad Nawawi selaku salah satu narasumber diskusi literasi bertajuk ‘Literasi Digital di Dunia Disabilitas Netra’, Minggu pagi (6/10/2019) yang digelar dalam rangkaian acara PLAA ke-6 di Ruang Audiovisual Museum KAA, Jalan Asia Afrika No.65 Bandung.

Ia mengakui, literasi bagi disabilitas netra memiliki sejarah perkembangan yang tidak singkat. Awal mulanya adalah simbol braile. Simbol ini sudah mulai dikembangkan sejak abad ke-16 hingga akhirnya terciptanya tulisan braile.

Proses pembuatan tulisan braile sendiri dikembangkan oleh Louis Braile di tahun 1809 di Paris, Perancis. Ia terinspirasi titik-titik dan garis-garis yang diciptakan Charles Barbier. Melalui percobaannya, titik-titik timbul lebih cocok untuk diraba oleh jari-jari dari pada garis timbul.

Sejak itu pula, lanjut dosen Jurusan Pendidikan Khusus UPI ini, teknologi komunikasi terkait braille terus berkembang. Perkembangan itu ditandai dengan adanya kriteria standar agar mudah diproduksi, permanen, mudah dipahami, dan mudah dibawa-bawa.

Senada dengan Ahmad Nawawi, Ketua Mata Hati Indonesia (MHI) Ipan Hidayatulloh yang juga hadir sebagai narasumber diskusi menekankan pada pemanfaatan teknologi dijital dalam proses pendidikan netra.

Ipan yang juga seorang penyandang disabilitas netra mengatakan, para disabilitas netra saat ini terbantu dengan teknologi yang berkembang begitu pesat untuk kebutuhan komunikasi atau pencarian informasi. Misalnya, JAWS (Job Access With Speech), NVDA (Non Visual Desktop Accessible), Talk Back, Voice Over, Screen Reader berbasis Android, iOS, atau Windows.

Sebagai contoh, disabilitas netra bisa menggunakan screen reader. Aplikasi ini berfungsi mengidentifikasi objek yang tampil di layar. Lantas, aplikasi ini kemudian mampu mengubahnya dalam bentuk suara,” ujar Ipan yang kini berpofesi sebagai seorang guru di sebuah sekolah umum di Sumedang itu mencontohkan pentingnya aplikasi screen reader bagi disabilitas netra.

Diskusi yang dimoderatori Koordinator Komunitas Literasi Asian-African Reading Club Adew Habsta ini dihadiri 50 peserta tak hanya dari kalangan disabilitas netra tapi juga umum. Dengan demikian, masyarakat mengetahui pentingnya teknologi dijital bagi disabilitas netra dan akhirnya, diharapkan dapat turut serta mendukung pengembangan perangkat dijital bagi disabilitas netra di berbagai pelayanan publik.

Dalam kesempatan itu, Kepala Museum KAA Meinarti Fauzie mengungkapkan, pihaknya secara bertahap terus berupaya mengupayakan agar Perpustakaan Museum KAA menjadi makin inklusif bagi disabilitas netra.

Kami sudah menjalin kerja sama dengan berbagai pihak, termasuk Rotary, MHI dan Balai Penerbit Braille Abiyoso sejak beberapa tahun terakhir guna meningkatkan inklusifitas Museum KAA, khususnya Perpustakaan Museum KAA,” katanya.

Kehadiran Braille Corner di Perpustakaan Museum KAA sejak tahun 2009 merupakan wujud sinergi Museum KAA dengan berbagai pihak yang peduli terhadap peningkatan aksesibilitas disabilitas netra terhadap informasi dan ilmu pengetahuan.

Sumber: Museum KAA

Share