Usai Raih ZI WBK, Museum KAA Kini Bidik ZI WBBM

BANDUNG, MUSEUM KAA — Museum KAA (MKAA) kini tengah bersiap-siap maju sebagai Zona Integritas Wilayah Birokrasi Bersih dan Melayani (ZI WBBM). Sebelumnya, museum yang bernaung di Direktorat Diplomasi Publik, Direktorat Jenderal Informasi dan Diplomasi Publik Kemenlu itu pernah sukses meraih penghargaan Zona Integritas Wilayah Bebas dari Korupsi (ZI WBK) pada 2019 yang digelar Kemenpan-RB.

MKAA nampak tak main-main dengan ZI WBBM. Pasalnya, sejak diganjar penghargaan ZI WBK dua tahun silam, Museum yang berdiri empat dekade silam ini terus berbenah diri.

Sebelum ZI WBK

Paling mencolok adalah pengalaman Museum KAA kala menghadapi ZI WBK. Pengalaman itu selain mengajarkan banyak hal tentang urgensi kualitas pelayanan publik, juga telah menuntun pengelola museum untuk memperbaharui paradigma pelayanan publik.

Soal persepsi tentang pengunjung, misalnya. Dalam kurun waktu antara tahun 2016 hingga 2018, Museum yang berada di pusat Kota Bandung ini masih dibayang-bayangi paradigma lama pelayanan publik. Pasalnya, Museum merujuk persepsi pengunjung luring. Dalam persepsi ini, pengunjung Museum adalah publik yang menyambangi Museum secara fisik dan memanfaatkan langsung berbagai fasilitas tersedia di Museum. Alhasil akibat persepsi itu, publik belum memanfaatkan optimal fasilitas tur virtual di laman situs museum. Padahal, Museum KAA ini sejatinya termasuk Museum perintis layanan tur virtual pertama di Indonesia sejak tahun 2012.

Di sisi lain, Museum dengan ribuan koleksi buku langka tentang Asia dan Afrika ini juga belum memiliki pustakawan yang mengelola secara khusus pelayanan publik di Perpustakaan MKAA. Padahal, tak sedikit publik yang berkunjung ke perpustakaan museum ini untuk tujuan penelitian dan studi khas lainnya. Keadaan itu tentu saja memerlukan kehadiran seorang pustakawan.

Puncaknya terungkap bahwa MKAA hingga tahun 2018 ternyata belum memiliki laporan kinerja tahunan secara mandiri. Faktanya, kala itu laporan kinerja museum ini masih menjadi bagian kecil dari laporan kinerja Direktorat Diplomasi Publik Kemenlu yang menaunginya.

Penghargaan ZI WBK Tahun 2019

Akan tetapi bertolak dari itu, mulai tahun 2019 MKAA mulai gencar mengembangkan tur virtual. Pasalnya, pengunjung luring bukan lagi satu-satunya indikator. Bagi Museum ini alih-alih luring, penerima manfaat produk pelayanan publik terbentang luas, terutama di aras daring.

Itu sebabnya, fasilitas tur daring itu mulai dilengkapi wahana interaktif berupa audio dan video. Tak hanya itu, dari ujung jarinya publik juga dapat bebas membaca daring sejumlah koleksi buku langka sejarah KAA yang telah didigitalisasi.

Tak berhenti di situ, MKAA juga merekrut sejumlah Pamong Budaya. Kehadiran mereka penting untuk mendukung penguatan sumber daya manusia di museum. Dengan demikian, publik dapat lebih leluasa memanfaatkan fasilitas pelayanan publik museum.

Akan halnya laporan kinerja, sejak tahun itu juga MKAA telah mulai memiliki laporan kinerja mandiri. Laporan ini, yang sebelumnya selalu menjadi bagian dari laporan organisasi penaungnya, kini telah memuat secara khusus laporan kinerja MKAA yang komprehensif.

Puncaknya, pucuk dicinta ulam tiba. MKAA akhirnya meraih penghargaan ZI WBK. Selasa, (10/12/2019) Menteri PAN-RB Tjahjo Kumolo menyerahkan penghargaan itu di Ruang Birawa Hotel Bidakara Jakarta Selatan.

Membidik ZI WBBM

Keberhasilan meraih penghargaan ZI WBK tak membuat MKAA berpuas diri. Terbukti sepanjang tahun 2020 hingga kini MKAA seolah tak lelah berinovasi. Berbagai terobosan telah dilansir ke publik supaya publik dapat lebih mudah memanfaatkan bentuk-bentuk pelayanan publik baru museum.

Contohnya saja virtual tur museum. Fasilitas tur daring ini terus dilengkapi. Pengunjung kini memiliki banyak pilihan menu yang memanjakan mereka kala bergabung di tur virtual MKAA. Tur daring ini menawarkan kemudahan mulai dari voice over, pemutakhiran informasi koleksi, pengayaan bahan audiovisual, e-book, dan audiobook.

Selain itu, publik juga kini dapat berinteraksi daring dengan edukator museum untuk berdiskusi. Layanan ini telah menjadi layanan unggulan terkini di MKAA. Semua itu berkat pengembangan pelayanan berbasi digital.

Pertama, Si Baron yang merupakan akronim dari Sami-sami Belajar Online. MKAA merancangnya sebagai produk pelayanan publik daring melalui tur virtual yang tersedia di laman situs Museum KAA. Publik dapat memanfaatkan Si Baron untuk berkunjung dan belajar daring Sejarah dan Nilai-nilai KAA dengan didampingi secara daring pula oleh Edukator MKAA.

Si Baron ditawarkan dalam dua pilihan bahasa, yaitu Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris. Untuk layanan dalam Bahasa Indonesia, tersedia setiap hari Selasa, Rabu, dan Kamis dengan dua pilihan waktu, yaitu Pkl. 10.00-12.00WIB, dan Pkl. 14.00-16.00WIB. Kemudian, untuk layanan dalam Bahasa Inggris tersedia pada hari Rabu, Pkl. 10.00-12.00WIB, serta Pkl. 14.00-16.00WIB. Khususnya Edisi berbahasa Inggris juga terbuka bagi pengaturan waktu khusus, untuk mengakomodasi reservasi oleh publik di luar negeri yang memiliki perbedaan waktu cukup signifikan dengan waktu lokal Bandung.

Lantas yang kedua adalah ‘Ngobrol Bareng Edukator MKAA’ setiap Jumat, Pkl. 14.00WIB hingga 15.00WIB. Edukator MKAA hadir di platform IG Live Talkshow. Berbagai topik menarik seputar sejarah dan Nilai-nilai KAA dibahas dengan santai dan terbuka. Acara ini mendorong publik untuk berdiskusi bersama. Sejak diluncurkan kali pertama di tahun 2020, guliran acara ini telah mencapai 50 episode. MKAA dalam acara rutin mingguan ini juga secara berkala menghadirkan saksi sejarah KAA. Siapa sangka IG Live Talkshow ini juga ternyata efektif untuk memperluas rambahan audiens daring hingga ke luar negeri. Melalui acara ini, MKAA telah menggelar joint talkshow bersama KBRI Tokyo dan KBRI Alger.

Di luar dua itu, MKAA juga mengembangkan bentuk edukasi inovatif lain sebagai strategi belajar. Pada Peringatan 66 Tahun KAA tahun 2021, MKAA bekerja sama dengan Klab Edukator SMKAA mengembangkan layanan fun learning bertajuk Bandung Historical Study Games (BHSG) dengan metode hybrid. Dengan demikian, BHSG kini telah mampu menjaring peserta dari seluruh Indonesia. Padahal, sebelumnya BHSG bertahun-tahun hanya menjangkau peserta dari warga lokal Kota Bandung saja.

Bahkan lebih lanjut lagi, MKAA juga telah merencanakan kerja sama pelayanan digital dengan sejumlah Perwakilan RI lainnya di luar negeri. Kerja sama ini tak lain bertujuan meningkatkan jangkauan MKAA hingga mancanegara dalam visinya untuk melestarikan Nilai-nilai KAA.

Seiring dengan pengembangan inovasi berbasis digital, MKAA terus mengembangkan konsep inklusifitas sebagai Museum untuk Semua, termasuk konsep Museum yang Ramah Disabilitas. Tahun 2021 merupakan pemantapan konsep inklusifitas ini, melalui pencanangan MKAA sebagai “Museum untuk Semua”, yaitu pada 28 April 2021, sekaligus dalam rangka Peringatan Hari Jadi ke-41 MKAA yang tepatnya jatuh pada 24 April. Pencanangan ini ditandai dengan peluncuran untuk pertama kalinya Buku Sejarah KAA The Bandung Connection dalam edisi Braille dan Audiobook, dengan harapan bahwa Sahabat Disabilitas memiliki hak yang sama terhadap akses pembelajaran sejarah tentang KAA. Gambaran tentang pencanangan MKAA sebagai Museum untuk Semua ini juga dapat disaksikan melalui video profile MKAA “Museum untuk Semua” yang dapat diakses di laman resmi MKAA www.asianafricanmuseum.org ataupun di saluran Youtube MKAA.

Di luar inovasi edukasi, tak lupa soal sumber daya manusia. Di tahun 2020 MKAA telah merekrut pustakawan untuk memajukan pengelolaan Perpustakaan MKAA. Kini ribuan koleksi langka tentang Asia dan Afrika mulai dikelola secara profesional untuk publik.

Semua inovasi tadi diinisiasi MKAA di masa paling sulit dalam sejarah pelayanan publik MKAA yang sedang menghadapi situasi pandemi global. Diakui tak sedikit aral melintang baik dalam perencanaan hingga realisasinya. Namun demikian, Museum ini seolah tak pernah tidur lantaran sejak awal 2021, MKAA tetap aktif memberikan pelayanan kepada publik melalui penerapan adaptasi kebiasaan baru.

Tercatat dalam tujuh bulan terakhir saja, yakni antara Januari hingga Juli 2021, selain layanan rutin edukasi publik melalui Si Baron dan IG Live Talkshow, MKAA setidaknya sudah sukses menggelar delapan program unggulan. Semuanya terlaksana dalam rangkaian Peringatan 66 Tahun KAA.

Menjadi Museum Percontohan

Dengan upaya yang tidak mudah, MKAA selama lebih dari empat dekade telah menjaga komitmen atas berbagai prestasi yang telah diraihnya. Tercatat sejak tahun 2016 hingga 2019, berbagai prestasi telah diraih seperti Museum Peduli Bahasa dari Balai Bahasa Provinsi Jabar pada tahun 2016, Indonesian Museum Award pada kategori “Museum Menyenangkan” pada 2017, Top 40 Inovasi Pelayanan Publik dari Kementerian Pemberdayaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi untuk inovasi JARUM PENTUL (JAdi Relawan museUM itu PENting dan gaUL) pada 2018 serta Zona Integritas Wilayah Bebas dari Korupsi (ZI WBK) pada 2019.

Prestasi ini pada kenyataannya telah menjadikan MKAA sebagai sebuah institusi yang dinilai patut dijadikan contoh positif bagi instansi lainnya. Dalam rekam jejak sharing knowledge yang telah dilakukan MKAA, setidaknya terdapat sejumlah instansi yang telah berkesempatan mendapatkan sharing of experience dari MKAA antara lain Museum Penerangan Nasional dan Monumen Pers Nasional dengan tema pembangunan ZI WBK, Museum Benteng Vredeburg dengan tema Komunitas Sahabat Museum SMKAA, Webinar bersama Dispusipda Jabar serta Instagram Live bersama Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI) dengan tema Arsip KAA 1955.

Kendali Mutu Pelayanan Publik

Bak gayung bersambut, semua upaya inovatif itu berbanding lurus dengan opini positif yang diberikan publik sebagai penerima manfaat produk pelayanan publik. Hal itu terungkap dari sejumlah angket yang disebar MKAA secara rutin untuk menelisik masukan dan saran dari para pengunjung museum. Dengan begitu, MKAA dapat terus memantau kualitas pelayanan publik.

Rekapitulasi antara bulan Oktober 2020 hingga Juni 2021 menunjukkan 83% dari 429 responden pernah mengunjungi tur virtual MKAA dan hanya 20,3% di antaranya yang pernah berkunjung ke MKAA secara luring di masa pra pandemi. Data ini menunjukkan sedang terjadi pergeseran secara kuantitatif perilaku pengunjung MKAA dari kunjungan luring ke kunjungan daring.

Selain itu, hal yang paling menggembirakan adalah soal efektifitas strategi belajar melalui daring yang ternyata tak mengurangi tingkat pemahaman publik tentang sejarah dan Nilai-nilai KAA. Sebab, terdapat 99.3% di antaranya mengaku dapat memahami dengan baik materi yang disajikan oleh MKAA secara daring. Mereka pada umumnya adalah 50,6% siswa SMP, 24,8% siswa SMA, dan 19.9% mahasiswa.

Angket juga menyodorkan aneka masukan dari pengunjung museum. Tentunya, masukan-masukan itu menjadi perhatian serius pengelola Museum ini lantaran berguna untuk mewujudkan kualitas pelayanan publik yang sesuai harapan publik MKAA.

Di samping angket, MKAA juga menempuh instrumen preventif lainnya. Ini terkait erat dengan fungsi MKAA yang memberikan pelayanan bersifat jasa kepada para pengunjung secara cuma-cuma.

Beberapa diantaranya yang diterapkan MKAA adalah dengan mengedepankan mekanisme whistle blowing system dan pemanfaatan sosial media. Kemudian, di setiap sudut ruang museum tertera infografis anti korupsi/gratifikasi.

Pengelola museum juga selalu menyampaikan himbauan, terutama kepada pengunjung untuk tidak memberikan imbalan berupa tip. Selain itu, untuk mengurangi kontak fisik dengan pengunjung yang dapat membuka potensi terjadinya penyimpangan, MKAA mendorong publik lebih banyak memanfaatkan reservasi online untuk berkunjung ke MKAA.

Sumber: Museum KAA