Wartawan di Sekeliling KAA

BANDUNG, MUSEUM KAA — Sabtu malam Minggu, (23/4/1955) ratusan wartawan dalam dan luar negeri bergerombol di depan bungalow Ketua KAA PM Ali Sastroamidjojo di Jalan Ciumbuleuit Bandung. Udara Bandung Utara yang dingin menggigit tulang kala itu tak mampu menyurutkan langkah para awak media ini. Apa pasal? Mereka tengah menanti berita besar.

Di bungalow PM Ali berlangsung acara makan malam. Dalam acara itu turut hadir pula Perdana Menteri Sponsor KAA, Ketua Delegasi Thailand Pangeran Wan, dan Ketua Delegasi Filipina Carlos P. Romulo.

Kira-kira sepeminuman teh kemudian muncul PM Ali. Sambil tersenyum hangat, perdana menteri kedelapan Indonesia itu menyapa awak media. Bersamanya, berdiri di sisi PM China Zhou Enlai. Keadaan hening sejenak. Awak media mematung sambil bersiap dengan alat tulis di tangan. Semua menunggu dengan berdebar-debar apa yang akan disampaikannya.

PM Ali menganggukkan kepala kepada PM Zhou. Lantas, ketua delegasi RRC ini menyampaikan, “Rakyat Tiongkok adalah bersahabat dengan rakyat Amerika Serikat. Tiongkok tidak suka berperang dengan Amerika Serikat. Pemerintah Tiongkok bersedia untuk duduk bersama-sama dengan wakil Pemerintah Amerika Serikat, dan berunding soal meredakan ketegangan di Timur Jauh dan khususnya di daerah sekitar Taiwan.”

Mendengar itu, wartawan hanya mengangguk-anggukkan kepala sambil mencatat superkilat. Usai itu, kerumunan wartawan segera meninggalkan bungalow PM Ali. Mereka berkejar-kejaran turun ke Gedung Merdeka. Ruang Sekretariat KAA di sisi timur Gedung Merdeka seketika padat akibat wartawan berdesak-desakan ingin secepat mungkin mengabarkan berita tadi keluar negeri sebagai kepala berita surat kabar dunia.

Demikian sekelumit penggalan kisah wartawan semasa sidang KAA di Bandung 65 tahun silam.

Selama sepekan KAA, wartawan siang malam selalu berada di sekitar sidang-sidang konferensi, khususnya di Gedung Dwi Warna. Malah seringkali mereka sengaja membuntuti dan mengincar setiap aktivitas makan malamnya para perdana menteri. Sekretaris Jenderal KAA Roeslan Abdulgani dalam memoarnya The Bandung Connection mengenang, dalam sekejap mata wartawan luar dan dalam negeri bisa berkumpul lantaran mereka terbiasa setiap malam membuntuti para ketua delegasi.

Setiap selang beberapa menit jawatan telekomunikasi di Gedung Merdeka mengirim berita ke luar negeri dalam berbagai bahasa. Duta Besar Indonesia Moehammad Joesoef Ronodipoero mengungkapkan, Bahasa Inggris, Bahasa Prancis, Bahasa Mandarin, Bahasa Arab dan juga Bahasa Urdu paling sering dikirim ke luar negeri. Alhasil, kapasitas pengiriman telegram ditingkatkan dari 100.000 sampai 200.000 kata setiap hari. Selain itu, untuk memudahkan komunikasi dengan wartawan, sejumlah diplomat dari Kedutaan Besar Republik Indonesia dipanggil pulang sebagai press officer.

Saksi sejarah KAA Paul Tedjasurja dalam acara Jamuan Teh Petang Saksi Sejarah KAA yang digelar Museum KAA pada Peringatan KAA mengatakan, kala KAA berlangsung tidak semua wartawan memiliki wartawan foto sendiri. Akibatnya, banyak dari awak media itu membeli foto-foto dokumentasi KAA dari dirinya yang kala itu mengelola sebuah press agency.

Awak media kala itu menginap di Hotel Swarha – sebuah hotel baru dan bertingkat yang terletak di depan Kantor Pos Bandung – tulis wartawan senior Rosihan Anwar dalam memoarnya Petite Histoire Indonesia. Sementara itu menurut TEMPO tercatat 376 wartawan hadir di Gedung Merdeka yang terdiri atas 163 jurnalis lokal dan 213 wartawan luar negeri.

Semasa sidang pembukaan dan penutupan, di balkon belakang Ruang Utama Gedung Merdeka tersedia 204 kursi bagi wartawan luar dan dalam negeri. Sedangkan, di balkon samping disiapkan tempat bagi pembuat film, dan penyiar radio. Sementara awak TV belum ada waktu itu.

Sumber: Museum KAA

Share