Belajar Sejarah KAA Lewat Bendera

natm1Poster acara Jelajah Malam di Museum KAA. (Poster: Publikasi MKAA)

BANDUNG, MUSEUM KAA – Sejarah KAA tak habis-habisnya diungkap Museum KAA. Seperti pada Jumat, (26/4/2019) petang ini, museum yang bernaung di Direktorat Jenderal Informasi dan Diplomasi Publik Kemlu itu kembali menawarkan kisah menarik soal ‘Kisah Bendera’ dalam acara Jelajah Malam.

Acara itu merupakan bagian dari rangkaian Peringatan 64 Tahun KAA yang digelar Museum KAA. Dalam acara itu, para edukator museum tampil tak biasa. Mereka mengenakan busana nasional salah satu negara di Asia dan Afrika. Demikian pula dengan pengunjung acara. Mereka mengenakan pakaian bernuansa Asia dan Afrika sambil membawa senter. Pasalnya, penerangan di salah satu ruang di Museum KAA sengaja dipadamkan.

natm3Kepala Museum KAA Meinarti Fauzie berfoto bersama peserta acara Jelajah Malam di Ruang Utama Gedung Merdeka. (Foto: Dok. MKAA)

Menyinggung tema acara, Kepala Museum KAA Meinarti Fauzie menjelaskan, pihaknya memilih kisah bendera kali ini lantaran terinspirasi peristiwa bendera Sudan di KAA 64 tahun silam. Sekretariat Bersama KAA yang diketuai Sekretaris Jenderal KAA Roeslan Abdulgani merancang bendera untuk melambangkan kehadiran Sudan. Padahal, Sudan sudah berkali-kali dihubungi tapi belum juga mengirimkan benderanya untuk dipasang di Bandung. Meski Sudan belum memiliki bendera lantaran belum resmi merdeka, negara sponsor KAA memutuskan Sudan diundang.

Akibat keputusan itu, Ketua KAA PM Ali Sastroadmidjojo mengingatkan Roeslan Abdulgani agar berhati-hati. Sebab, seperti halnya lagu kebangsaan, emosi bangsa terhimpun dan tersimpan di dalam bendera.

Sudan kala itu hadir di KAA bersama lima negara Afrika lainnya, yakni Mesir, Ethiopia, Pantai Emas (Ghana), Libya, dan Liberia. Namun faktanya, negara sponsor KAA mengundang tujuh negara di Afrika. Sayang, Federasi Afrika Tengah menolak hadir. Akan halnya Afrika Selatan, negara sponsor KAA memutuskan tak mengundangnya karena dianggap mempraktikan diskriminasi rasial.

natm2Edukator Museum KAA Ginanjar Legiansyah menjelaskan sejarah KAA melalui koleksi bendera milik Museum KAA. (Foto: Dok. MKAA)

Pasca KAA, lahir gelombang dekolonisasi di Afrika. Antara tahun 1956 hingga 1965 tak kurang dari 34 negara merdeka di Afrika akibat menjalarnya semangat anti kolonialisme yang dicetuskan KAA. Seiring itu, muncul berbagai bendera menyertai kemerdekaan negara-negara di Afrika. Secara umum bendera negara-negara di Afrika memiliki pola warna yang mirip. Kisah ini yang akan dibagikan kepada pengunjung Museum KAA.

Di penghujung tur museum pengunjung akan disuguhi camilan ringan di Selasar Timur Museum KAA sambil menikmati suasana kawasan Braga yang dihiasi bangunan arsitektur kolonial. Jelajah Malam Museum digelar oleh Museum KAA bersama Sahabat Museum KAA yang dimotori Klab Edukator Sahabat Museum KAA.

Museum KAA secara berkala telah menggelar Jelajah Malam Museum KAA sejak tahun 2010. Dalam acara Jelajah Malam kali ini terdaftar 400 lebih pendaftar yang mendaftar daring.

Sumber: Museum KAA