Makna KAA bagi Generasi Zaman Now

112A8374Wuryastuti Sunario menuturkan kesaksiannya tentang peristiwa KAA kepada pada acara Jamuan Teh Petang: Bincang-bincang bersama Saksi Sejarah KAA dan Konferensi Lanjutannya pada Senin, 23/4/2018 di Ruang Utama Gedung Merdeka. (Sumber Foto: Dok. MKAA)

BANDUNG, MUSEUM KAA – Apakah KAA masih relevan bagi generasi milenial dewasa ini? Atau, jangan-jangan hanya dikenang sebagai prestasi sejarah? Pertanyaan itu terlontar dari putri keempat Menlu Sunario (red – Ketua Delegasi Indonesia di KAA) Wuryastuti Sunario saat hadir mewakili Keluarga Besar Menlu Sunario dalam acara bertajuk Jamuan Teh Petang: Bincang-bincang bersama Saksi Sejarah KAA dan Konferensi Lanjutannya pada Senin, 23/4/2018 di Ruang Utama Gedung Merdeka Jalan Asia Afrika No.65 Bandung.

Sebelum menjawab pertanyaan itu, Wuryastuti yang masih berusia 14 tahun saat mendampingi mendiang ayahandanya menyambut delegasi Asia Afrika di Bandara Andir Bandung 63 tahun silam menjelaskan terlebih dahulu dua hal latar belakang sebagai renungan.

Pertama, ia mengatakan, “Dewasa ini kita masih harus mampu menarik banyak pelajaran dari tercapainya penyelenggaraan KAA yang bersejarah itu.” Pasalnya, situasi saat ini nyaris tak jauh berbeda dengan situasi internasional menjelang KAA. Misalnya, dunia masih dicekam kontestasi nuklir yang dikhawatirkan mungkin memicu Perang Dunia III.

Di belahan Timur Tengah konflik terus bergolak. Akibatnya, tak sedikit korban yang jatuh. “Bukan hanya akibat perang tapi juga tenggelam saat mencoba melarikan diri ke negara yang lebih aman,” katanya dengan suara lirih.

Kedua, ia menjelaskan, “Ada konflik-konflik internal yang seakan ‘memanggil’ kekuatan negara besar untuk intervensi.” Keadaan itu telah mempertajam proliferasi antara negara besar dan negara kecil. Mereka saling mengintervensi satu sama lain. Misalnya, dalam sejarah Indonesia kolonialisasi seringnya malah dipicu oleh konflik antar dua anak raja. Lantas, tiap-tiap anak mengundang bantuan Inggris dan Belanda. Alhasil, terjadi perang yang ujungnya memecah wilayah kerajaan. Biasanya wilayah terbesar justru jatuh ke tangan kolonial.

Berangkat dari latar belakang itu, ia kemudian menuturkan empat pesan warisan ayahandanya. Menurutnya, empat hal itu adalah pelajaran berharga bagi generasi zaman now untuk meraih api sejarah KAA. Apa sajakah itu?

Hal pertama adalah agar selalu menjaga persatuan bangsa. “Bangsa dan negara ini perlu memegang teguh kesatuan dan persatuan agar tetap kokoh berdaulat,” urainya. Yang kedua, lanjutnya, adalah agar tetap teguh pada prinsip Politik Luar Negeri Indonesia yang bebas dan aktif berdasarkan Pancasila dan Sumpah Pemuda.

Ketiga, dalam menghadapi era globalisasi saat ini, ia berpesan agar hiduplah dalam alam global namun tetap setia pada national-interest (red – kepentingan nasional). “National-interest tapi bukan nasionalisme yang sempit,” jelasnya.

Terakhir, ia berharap agar perang nuklir yang mengancam dunia dapat dicegah. “Cegahlah dengan segala tenaga tenaga terjadinya perang nuklir yang akan memusnahkan seluruh dunia,” pungkasnya.

Kepala Museum KAA Meinarti Fauzie dalam sambutannya mengatakan, “Museum KAA merancang acara ini sebagai apresiasi terhadap para saksi sejarah KAA dan konferensi lanjutanya agar pengalaman dan kesaksiannya terhadap sejarah KAA dapat menginspirasi dan mengedukasi masyarakat, khususnya generasi muda.”

112A8349Kepala Museum KAA Meinarti Fauzie menyampaikan sambutan pada acara Jamuan Teh Petang: Bincang-bincang bersama Saksi Sejarah KAA dan Konferensi Lanjutannya pada Senin, 23/4/2018 di Ruang Utama Gedung Merdeka. (Sumber Foto: Dok. MKAA)

Acara ini digelar oleh Kementerian Luar Negeri melalui UPT Museum KAA dalam rangkaian Peringatan 63 Tahun KAA. Pengelola Museum KAA kali ini mengusung Tribute to Mr. Sunario sebagai tema acara. Adapun tema-tema yang pernah dikupas sebelumnya adalah Tribute to Sanusi Hardjadinata pada tahun 2015, Tribute to Ali Sastroamidjojo pada tahun 2016, dan Tribute to Roeslan Abdulgani pada tahun 2017.

Turut hadir pula saksi sejarah lainnya pada acara itu antara lain Sukmawati Soekarnoputri, Popong Otje Djundjunan, Dubes Wisber Loeis, Abah Landung, Romlah Sutandi, Sam Bimbo, dan para saksi sejarah KAA dan konferensi lanjutan lainnya.

112A8418 112A8463 112A8473

Dari atas ke bawah: Sam Bimbo, Popong Otje Djundjunan, dan Sukmawati Soekarnoputri mengisahkan kesaksian masing-masing tentang peristiwa KAA.(Sumber Foto: Dok. MKAA)

Museum KAA juga mengundang peneliti sejarah KAA asal Universitas Gadjah Mada Wildan Sena Utama dan perwakilan mahasiswa dari Prodi Sejarah FPIPS Universitas Pendidikan, Prodi Sejarah FIB Universitas Padjadjaran, Prodi Sejarah dan Peradaban Islam FAH UIN Sunan Gunung Djati Bandung, dan Prodi Pendidikan Sejarah FKIP Universitas Galuh Ciamis.

Perwakilan komunitas edukasi sejarah di Kota Bandung, seperti Komunitas Aleut, Margashopana UPI, dan Sakola Ra’jat Iboe Inggit Garnasih serta perwakilan klab-klab Sahabat Museum KAA juga hadir.

Sumber: Museum KAA