Ini Visi Baru Museum KAA

15122020

Kepala Museum KAA Dahlia Kusuma Dewi berfoto bersama staf Museum KAA pada Selasa, 15/12/2020 di Ruang Utama Gedung Merdeka. (Sumber Foto: Dok. Museum KAA)

BANDUNG, MUSEUM KAA – Fajar menyingsing elang menyongsong. Peribahasa ini cocok dengan visi baru Museum KAA. Pasalnya, dalam visi baru ini museum ini akan fokus pada upaya memperluas jangkauannya ke mancanegara.

Kepala Museum KAA Dahlia Kusuma Dewi mengungkapkan itu usai dilantik secara daring pada Selasa, 15/12/2020, Pkl. 10.00WIB. Menurutnya, visi ini relevan dengan keberadaan Museum KAA yang bernaung di bawah Direktorat Jenderal Informasi dan Diplomasi Publik Kemenlu. Maka, tentu saja visi Museum KAA senafas dengan visi direktorat induknya.

Dalam visi itu, misi kami meliputi peningkatan kualitas pengelolaan, dan pelayanan bertaraf internasional. Selain itu, program pula dirancang agar mampu menjangkau audiens global,” terang diplomat perempuan kelahiran Kota Pahlawan Surabaya ini.

Menurutnya, visi baru ini juga selingkung dengan visi diplomasi publik. Sebab, nilai koleksi yang dimiliki museum yang telah berusia 40 tahun ini tak disangkal lagi sangat terkait dengan dampak global peristiwa KAA. Alhasil, museum ini termasuk aset diplomasi Indonesia.

Intinya, kami akan semangat berusaha untuk terus memperluas jangkauan museum ini,” jelas Dahlia yang juga alumni Univeritas Airlangga ini.

Apalagi, koleksi Museum KAA, tambahnya, sudah resmi diakui sebagai Ingatan Kolektif Dunia pada tahun 2015 silam oleh UNESCO yang merupakan Badan PBB dalam urusan pendidikan, ilmu pengetahuan, dan budaya.

Dahlia melanjutkan, artinya koleksi Museum KAA telah menjadi ingatan bersama bukan saja bagi negara-negara di kawasan Asia dan Afrika tapi juga bagi seluruh negara di dunia yang sempat terancam sistem internasional bipolar yang muncul akibat ketegangan antara Blok Barat dan Blok Timur di masa Perang Dingin.

Meski belum begitu lama berkecimpung di bidang permuseuman, Dahlia menganggap itu bukanlah hambatan baginya dalam mewujudkan visi global museum. Pasalnya, sebagai diplomat ia terbiasa untuk bersiap diri di mana saja ditugaskan. “Saya harus cepat menyesuaikan diri. Menurut saya tugas di museum secara umum tidak terlalu berbeda dengan tugas diplomat, terutama dalam menyebarluaskan nilai-nilai luhur kepada publik,” jelasnya.

Selain itu, Dahlia yang sebelumnya bertugas di KBRI Kuala Lumpur ini mengaku beruntung berada di lingkungan kerja Museum KAA yang positif. Baginya, itu merupakan modal yang menambah keyakinannya untuk bersemangat membesarkan museum yang telah meraih berbagai prestasi nasional ini.

Sejak bulan September di sini (red – Museum KAA), saya sudah bertemu dan menjalin komunikasi dengan banyak counterpart Museum KAA mulai dari Asosiasi Museum Indonesia dan Museum Daerah, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata, Dinas Pendidikan, hingga Kemdikbud” paparnya.

Bahkan tak tanggung-tanggung, Kepala Museum ke-6 MKAA ini juga ikut terjun mengikuti bimbingan teknis konservasi koleksi museum selama sepekan penuh yang digelar Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI pada bulan November 2020 di Kota Bandung.

Ini pengalaman baru saya sebagai pengelola museum. Museum ternyata melibatkan multi disiplin ilmu, seperti sejarah, budaya, komunikasi, dan bahkan kimia. Saya bahkan sempat belajar teknik konservasi. Saya juga harus memahami lingkungan hidup karena terkait bahan-bahan konservasi koleksi yang mencakup baik bahan natural maupun kimia,” pungkas Dahlia.

Sumber: Museum KAA

Share