KAA Dipersiapkan Hanya dalam Waktu 100 Hari

Bogor-02

Para Perdana Menteri Sponsor KAA menyapa warga Kota Bogor yang menyambut Konferensi Bogor di bulan Desember 1954. (Sumber: Dok. Museum KAA)

BANDUNG, MUSEUM KAA – Komunike Akhir hasil Konferensi Bogor yang digelar di penghujung Desember 1954 resmi menyatakan perhelatan KAA. Sejak itu bola persiapan bergulir hingga menjelang Hari-H KAA pada 18 April 1955. Artinya, waktu efektif mempersiapkan perhelatan besar itu hanya 100 hari sejak awal Januari 1955.

Kendali persiapan ada di tangan Roeslan Abdulgani yang karib disapa Cak Roes. Pasalnya, Cak Roes kala itu selain sebagai Sekretaris Jenderal Depertemen Luar Negeri, ia juga memegang tanggung sebagai Ketua Sekretariat Bersama KAA.

Sekretariat ini resmi dibentuk kala Konferensi Bogor berlangsung. Sebab, para perdana menteri sponsor KAA itu mulai memerlukan sebuah sekretariat yang menjadi perpanjangan tangan mereka guna menjalankan roda persiapan.

Di dalamnya terdapat delegasi perwakilan asal lima negara sponsor KAA, yakni Burma (Myanmar), Ceylon (Sri Lanka), India, Indonesia, dan Pakistan. Mereka berkoordinasi satu sama lain lintas negara mengingat tak sedikit negara calon peserta KAA yang memerlukan informasi terkini soal rencana KAA.

Selain sekretariat bersama, Pemerintah Provinsi Jawa Barat juga tak kalah sibuknya. Guna menyambut perhelatan itu, sebuah kepanitiaan lokal juga turut dibentuk. Berbeda dengan tugas sekretariat bersama yang lebih banyak berhubungan dengan negara-negara calon peserta KAA, panitia lokal bekerja keras menjamin kesiapan Kota Bandung menjadi tuan rumah KAA.

Cak Roes dalam memoarnya The Bandung Connection mengenang betapa sibuknya kedua panitia itu. Ia sendiri memerlukan diri untuk segera berkantor di Bandung. Pasalnya, roda persiapan mulai berputar cepat di kota parahyangan itu.

Menurutnya, semua birokrasi yang bertele-tele dipangkas lantaran dikhawatirkan menghambat jalannya persiapan KAA. Roda organisasi terus dimutakhirkan supaya setiap kemajuan dapat diketahui dan setiap hambatan dapat diselesaikan.

PM Ali Sastroamidjojo bahkan dalam memoarnya ‘Tonggak-tonggak dalam Perjalananku’ sulit melepas perhatiannya terhadap kerja keras panitia lokal ini. Di tengah kesulitan mendapatkan gedung untuk perhelatan KAA, panitia lokal yang dinahkodai Gubernur Jawa Barat Sanusi Hardjadinata datang dengan solusi jitu.

Pemilihan Gedung Merdeka dan Gedung Dwi Warna merupakan hasil rekomendasi dari panitia lokal. Kala itu sebagian besar gedung milik pemerintah di Kota Bandung umumnya tidak memiliki syarat yang memenuhi standar untuk perhelatan sebuah konferensi internasional.

 Belum lagi isu keamanan yang menggelayuti Kota Bandung yang sebentar lagi menyambut 400 delegasi asal 29 negara Asia dan Afrika. Di sekitar Kota Bandung masih terdapat ancaman yang berasal dari DI/TII. Cak Roes sampai harus ikut patroli bersama Komandan Komplek Gedung Merdeka Kolonel CPM Roesli hingga larut malam setiap pekan.

Tantangan lain soal transportasi, dan akomodasi tak kalah rumitnya. Perjalanan dari Bandara Kemayoran menuju Bandung menggunakan moda kereta api yang berada di bawah ancaman keamanan kelompok pemberontak. Selain itu, jumlah kamar hotel yang tersedia di Kota Bandung harus dipastikan dapat memenuhi kebutuhan para delgasi.

Akan tetapi, berkat kerja keras semua pihak KAA akhirnya siap dibuka pada hari Senin, 18 April 1955. Semua mata di dunia tertuju pada perhelatan pertama bangsa kulit berwarna dalam sejarah umat manusia itu.

Sumber: Museum KAA

Share