KAA, Prakarsa Indonesia

BANDUNG, MUSEUM KAA – “Ingat, Ali. Kali ini adalah cita-cita bersama. Hampir tiga puluh tahun yang lalu kita dalam pergerakan nasional melawan penjajahan, kita sudah mendengungkan solidaritas Asia dan Afrika,” demikian pesan Bung Karno kepada PM Ali Sastroamidjojo.

Pesan itu disampaikan Bung Karno kepada PM Ali di Istana Merdeka pada pertengahan bulan April 1954. Kala itu PM Ali akan berangkat ke Kolombo, Sri Lanka guna memenuhi undangan PM Sir John Kotelawala dalam Konferensi Kolombo.

Sembilan bulan sebelumnya, Bung Karno melantik Ali menjadi Perdana Menteri Republik Indonesia pada Rabu, 12 Agustus 1953. Tadinya Ali bertugas di Washington, D.C. sebagai duta besar. Selama mengemban tugas itu, ia kerap bertukar pikiran dengan para kepala perwakilan negara-negara Asia dan Afrika.

Melalui pendekatan itu, ia menangkap kesan cara untuk memperkuat upaya tercapainya perdamaian dunia di masa Perang Dingin adalah melalui kerja sama dengan negara-negara Asia dan Afrika.

Sebab, di matanya negara-negara Asia dan Afrika pada umumnya memiliki persamaan pendirian isu internasional. Dengan begitu, mereka mempunyai dasar kuat untuk melakukan kerja sama yang baik.

Sebab itu, ia mengakui dalam memoarnya Tonggak-tonggak di Perjalananku, gagasan tentang kerja sama antara negara-negara Asia dan Afrika dalam bidang politik luar negeri sudah timbul sejak di Washington D.C. Lantaran, ia menjelaskan, utusan diplomatik dari negara Asia dan Afrika sudah merasakan betapa besarnya pengaruh Perang Dingin terhadap kehidupan negara-negara yang sedang berkembang.

Alhasil, tak ada jalan lain kecuali Asia dan Afrika harus bekerja sama. Pentingnya kerja sama itu ia tulis, “Kami merasakan suatu usaha bersama pada suatu hari harus dilakukan untuk membebaskan Asia dan Afrika dari tekanan-tekanan yang disebabkan oleh Perang Dingin itu.”

Selanjutnya, ia mengungkapkan agar kerja sama itu perlu segera diwujudkan, Tidak cukuplah usaha itu dijalankan hanya dengan pernyataan pendirian negara-negara terhadap Perang Dingin ialah bebas aktif, netralitas aktif, dan lain sebagainya. Hendaknya suatu tindakan yang positif dan konkrit itu belum terdapat jawabannya.”

Terakhir ia mengakui, gagasan itu tetap mengganggu pikirannya hingga dirinya dilantik sebagai Perdana Menteri.

Buku Sejarah Diplomasi Indonesia dari Masa ke Masa (1950-1960) memaparkan, gagasan Ali itu memang kemudian baru mendapat dukungan di masa ia menjabat Perdana Menteri. Pada Selasa, 25 Agustus 1953 di depan Parlemen Indonesia, Ali menyampaikan pidato pentingnya kerja sama Asia dan Afrika, “Kerja sama dalam golongan negara-negara Asia dan Arab kami pandang penting benar karena kami yakin kerja sama antara negara-negara itu tentulah memperkuat usaha ke arah tercapainya perdamaian dunia yang kekal.”

Dalam pidato itu ia pula mengatakan soal pentingnya pendirian negara Asia dan Afrika, “Kerja sama antar negara Asia dan Afrika adalah sesuai benar dengan aturan PBB mengenai kerja sama kewilayahan. Selain dari itu, negara-negara itu pada umumnya memang mempunyai pendirian yang sama dalam beberapa soal di kalangan internasional. Jadi mempunyai dasar sama untuk mengadakan golongan yang khusus. Dari sebab itu, kerja sama itu akan kami lanjutkan dan pererat.”

Menurut catatan Roeslan Abdulgani dalam The Bandung Connection, pernyataan ini kelak ia ulangi lagi kala menghadiri Konferensi Kolombo di Sri Lanka pada Jumat sore, 30 April 1954. Di hadapan para perdana menteri peserta Konferensi Kolombo, ia berucap, Suatu konferensi yang sama hakekatnya dengan Konferensi Kolombo sekarang, tapi lebih luas jangkauannya dengan tidak hanya memasukkan negara-negara Asia, tetapi juga negara-negara Afrika lainnya.

Sejak itu, gagasan KAA terus bergulir hingga akhirnya terwujud di Kota Bandung pada tahun 1955.

Sumber: Museum KAA

Share