Kaleidoskop 2018: Ini Deretan Program Edukasi Publik Museum KAA

kaleidoskop-poster

Poster Kaleidoskop Museum KAA 2018. (Sumber: Dok. MKAA)

BANDUNG, MUSEUM KAA – Selain diplomasi tradisional, ada juga diplomasi publik. Museum KAA sebagai unit pelaksana teknis (UPT) pada Direktorat Jenderal Informasi dan Diplomasi Publik Kementerian Luar Negeri cukup strategis untuk mempromosikan diplomasi publik berbasis nilai-nilai unggul Indonesia.

Demikian disampaikan Kepala Museum KAA Meinarti Fauzie pada Senin (31/12/2018) di penghujung tahun 2018. Melalui Museum KAA, tambahnya, diplomasi publik Indonesia mempromosikan Nilai-nilai KAA 1955 sebagai nilai-nilai unggul Indonesia. Upaya itu dianggap sejalan dengan pola diplomasi yang terus berubah-ubah.

Bahkan, ujarnya, Museum KAA di tahun 2018 meraih penghargaan inovasi pelayanan publik TOP 99 dan TOP 40 untuk inovasi Jarum Pentul (red – Jadi Relawan Museum Itu Penting dan Gaul) dari Kementerian PANRB.

Berkat itu, peran Museum KAA dalam diplomasi publik menjadi berbedakarena telah melibatkan publik dalam pelestarian Nilai-nilai KAA, yakni nilai inti Dasasila Bandung.

Dasasila Bandung jadi sumbangsih nyata bangsa Asia Afrika bagi perdamaian dunia melalui KAA yang diselenggarakan pemerintah Indonesia. Sebab itu, ini (red – Dasasila Bandung) bagian dari nilai-nilai unggul Indonesia yang wajib dipromosikan oleh diplomasi publik Indonesia di museum kami,” terangnya.

Artinya, peran Museum KAA makin penting bagi upaya menciptakan citra baik Indonesia di tengah masyarakat, baik kepada publik negara sendiri maupun masyarakat internasionalMisalnya, Solidaritas Asia Afrika yang dicetuskan 63 tahun silam di Gedung Merdeka kembali bergaung di Museum KAA dalam acara peresmian Palestine Walk dan Talkshow Menlu Palestina di bulan Oktober 2018.

Mari simak kiprah Museum KAA di tahun 2018.

Kunjungan Pejabat Tinggi

Sepanjang tahun 2018 Museum KAA menerima sejumlah kunjungan pejabat tinggi negara sahabat. Latar belakang para pejabat tinggi itu beragam, mulai dari level menteri, duta besar hingga Kepala Negara. Di antaranya Presiden Namibia Hage Gottfried Geingob, Menteri Administrasi Program Akuisisi Pertahanan Korea Jeon Jei Guk, dan Duta Besar Bangladesh Azmal Kabir. Umumnya, mereka mengaku mengunjungi Museum KAA karena ingin menapak tilas kelahiran Nilai-nilai KAA.

Dari benua Asia ada 6 negara, yakni Korea Selatan, RRT, Lebanon, Jepang, Thailand, dan Palestina. Sedangkan dari benua Afrika ada 4 negara, yakni Namibia, Nigeria, Sudan, dan Kenya. Lalu dari benua Eropa ada 2 negara, yakni Slowakia, dan Estonia. Sementara dari benua Amerika ada 2 negara, yakni Amerika Serikat dan Kanada. Dari belahan Australia juga terwakili.

Penghargaan

Di tahun 2018 ini Museum KAA meraih dua penghargaan sekaligus dari Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi untuk inovasi pelayanan publik Jarum Pentul. Penghargaan pertama adalah TOP 99 inovasi pelayanan publik. Penyerahan penghargaan dilakukan oleh Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Syafruddin kepada Direktur Jenderal Informasi dan Diplomasi Publik Kementerian Luar Negeri Cecep Herawan pada Selasa (19/9/2018) di Surabaya.

Setelah itu, masih terkait dengan penghargaan sebelumnya, penghargaan kedua adalah TOP 40 inovasi pelayanan publik. Penghargaan itu diberikan oleh Wakil Presiden RI Jusuf Kalla kepada Wakil Menteri Luar Negeri A.M. Fachir pada Rabu, (7/11/2018) di Jakarta Convention Center, Jakarta.

Sosialisasi

Museum KAA aktif melaksanakan museum keliling. Dalam kegiatan itu, pengelola museum melakukan sosialisasi Sejarah dan Nilai-nilai KAA di sejumlah kota di Jawa Barat, seperti pada bulan Mei 2018 di Garut, pada bulan Juni 2018 di Nagreg, Sumedang, dan Subang, dan pada bulan Desember 2018 di Bumi Perkemahan Kiarapayung Jatinangor.

Tak hanya itu, Museum KAA juga mendiseminasikan hasil risetnya soal Sejarah Lambang Negara. Hasil riset itu dipaparkan kepada mahasiswa Jurusan Desain Komunikasi Visual Itenas pada bulan September 2018 dan siswa Sekolah Mutiara Bunda pada bulan November 2018.

Pada bulan September, Oktober, dan November 2018 berturut-turut Museum KAA membekali soal KAA dalam perspektif HI kepada peserta acara Kaderisasi Tingkat Dasar GMNI Jawa Barat dan mahasiswa Program Studi HI Universitas Pasundan serta mahasiswa Universitas Pertamina.

Sahabat Museum KAA

Menteri Luar Negeri Retno L.P. Marsudi berkesempatan menyambangi anggota Sahabat Museum KAA pada Sabtu (14/7/2018) di Ruang Utama Gedung Merdeka dalam acara Talk with Menlu Retno yang dihadiri 400 peserta. Dalam acara itu Menlu Retno mengajak generasi muda menjadi agen perdamaian di lingkungan masing-masing.

Sementara itu, inovasi Jarum Pentul di Museum KAA di tahun ini menyumbang lima kali acara edukasi melalui acara milangkala ke-7 Sahabat Museum KAA (SMKAA) pada bulan Februari 2018, Jelajah Malam pada bulan April, Agustus, dan November 2018 dan acara sambang griya SMKAA pada bulan Agustus 2018. Selain itu, upacara peringatan hari lahir kemerdekaan di situs eks penjara Banceuy bersama Kepala Museum KAA.

Untuk tujuan kaderisasi, pada bulan September 2018 pengelola SMKAA kembali merekrut 175 anggota baru. Selanjutnya, setelah dibekali Nilai-nilai KAA para anggota baru itu mengembangkan program kerelawanan di tiga belas klab yang bernaung di Sahabat Museum KAA.

Di penghujung tahun ada kelas BIPA (red-Bahasa Indonesia untuk Penutur Asing). Kelas ini diikuti lima peserta program pertukaran pelajar asal negara Perancis, Meksiko, Denmark, dan Brazil. Kelas ini yang sudah rutin dilaksanakan di Museum KAA sejak lima tahun lalu terselenggara berkat kerja sama antara Museum KAA dan Rotary Bandung. Sementara, Klab Edukator SMKAA berperan sebagai pendamping belajar. Kelas yang telah berjalan mulai awal Desember 2018 ini direncanakan akan berakhir pada awal Februari 2019.

Peringatan KAA

Setiap tahun bulan April menjadi bulan tersibuk di Museum KAA. Pasalnya, pengelola museum di bilangan Asia Afrika Bandung itu memanfaatkan momen kelahiran Dasasila Bandung di tahun 1955 untuk membangun kesadaran publik terhadap Museum KAA. Upaya itu ditempuh melalui rangkaian acara edukasi sepanjang bulan April 2018.

Sedikitnya ada delapan mata acara. Di antaranya, pengibaran bendera negara-negara peserta KAA, donor darah, kunjungan ke Sakolah Ra’jat Iboe Inggit Garnasih, lomba mewarnai untuk anak-anak, kumpul-kumpul mahasiswa internasional dalam acara international students gathering, jamuan teh petang bersama saksi sejarah KAA, lomba sejarah Bandung Historical Study Games, dan diakhiri dengan penurunan bendera negara-negara peserta KAA.

Peringatan ini melibatkan berbagai lapisan masyarakat mulai dari pemerintahan, komunitas, hingga pelajar di Kota Bandung.

Internalisasi

Internalisasi Nilai-nilai KAA menjadi salah satu strategi belajar di Museum KAA. Internalisasi dijalankan secara berkala oleh pengelola museum ini. Bagi museum yang berdiri pada tahun 1980 itu, internalisasi menjadi bagian dari pelestarian nilai-nilai KAA. Internalisasi dirancang bersifat partisipatif dan berjangka waktu.

Di awal tahun 2018 ini Kepala Museum KAA bertemu dengan para pengurus baru Asian Students Association in Indonesia (ASAI). Museum KAA juga membekali sejumlah mahasiswa dari program studi Sastra Inggris UPI dan UIN Sunan Gunung Djati serta Jurusan Sejarah Universitas Galuh soal permuseuman.

Selain itu, melalui sejumlah even Museum KAA telah mempromosikan nilai-nilai KAA untuk tujuan internalisasi, seperti Ramadan at the Museum: Seminar Diplomasi Dijital bersama Unpar dan peringatan Hari Museum Internasional di bulan Mei 2018, Pekan Literasi Asia Afrika di bulan September 2018, dan Workshop Konservasi Koleksi di bulan November 2018.

Sumber: Museum KAA