Keren! 200 Anggota Sahabat Museum KAA Membaca Bersama Buku Cak Roes

1

BANDUNG, MUSEUM KAA – Pengelola Museum KAA (MKAA) membekali anggota baru Sahabat Museum KAA (SMKAA) tentang Nilai-nilai KAA dengan menggelar kegiatan Membaca Bersama buku karya Cak Roes berjudul The Bandung Connection. Kegiatan itu digelar setiap akhir pekan pada tanggal 7-8 dan 14-15 Oktober 2017 di Museum KAA Jalan Asia Afrika No.65 Bandung.

Sedikitnya 200 anggota baru SMKAA yang telah melewati proses seleksi yang cukup ketat sehingga bisa menjadi anggota 13 klab yang bernaung di Sahabat Museum KAA mengikuti acara Membaca Bersama tersebut.

Kepala Museum KAA Meinarti Fauzie mengatakan, digelarnya acara Membaca Bersama itu bertujuan tak hanya untuk menumbuhkan minat baca di kalangan anggota SMKAA tapi juga untuk membekali mereka dengan Nilai-nilai KAA.

Menurutnya dengan Membaca Bersama Nilai-nilai KAA dapat disampaikan dengan cara yang menyenangkan. Peserta terbagi menjadi beberapa kelompok. Dalam setiap kelompok ada pemandu diskusi. Pemandu bertugas memastikan pergantian giliran peserta untuk membaca. Setiap peserta membaca buku itu bergantian. Satu orang membaca dan yang lain menyimak.

“Ini tradisi turun temurun komunitas di Museum KAA sejak dahulu. Awalnya para pegiat literasi Asian-African Reading Club yang mendawamkannya,” ujarnya baru-baru ini. Diketahui pula, lanjut dia, anggota SMKAA yang memiliki pengalaman Membaca Bersama memiliki kemampuan menganalisa dan memahami dengan lebih baik Nilai-nilai KAA. Oleh sebab itu, sambung Meinarti, pihaknya terus mempertahankan tradisi ini untuk mengedukasi pentingnya Nilai-nilai KAA kepada anggota SMKAA.

Sedikitnya 200 eksemplar buku The Bandung Connection disediakan Museum KAA untuk dibaca saat acara Membaca Bersama tersebut. Bukan hanya itu, para anggota SMKAA itu juga diajak untuk berdikusi bersama membedah seluk beluk peristiwa di balik lahirnya Dasasila Bandung pada KAA 1955.

Buku The Bandung Connection menjadi salah satu rujukan interpretasi koleksi di Museum KAA. Buku itu ditulis Roeslan Abdulgani yang karib disapa Cak Roes pada tahun 1980. Sejak tahun 2010 saat komunitas literasi Asian-African Reading Club pertama kali menggulirkan program Membaca Bersama di Museum KAA, buku itu telah berkali-kali dibaca bersama 

Cak Roes adalah saksi sejarah KAA. Ia terlibat mulai dari masa persiapan hingga puncak pelaksanaan KAA,” tutupnya.

Miftahul Choir, salah seorang peserta Membaca Bersama asal Klab Edukator mengaku mendapat banyak manfaat dari buku itu. “Buku itu menyingkapkan banyak hal baru tentang KAA,” aku mahasiswa Program Studi HI Universitas Katholik Parahyangan itu.

Sementara itu, Koordinator Klab Edukator Farida mengaku kewalahan. Pasalnya, tim edukator yang memandu Membaca Bersama menerima banyak pertanyaan. Dalam sesi diskusi, menurutnya, topik relevansi KAA menjadi pertanyaan yang paling sering muncul. “Animo peserta tinggi karena buku itu gampang dibacanya. Sebab, Cak Roes menulis dalam bahasa tutur,” kata alumni Program Studi Sastra Inggris Universitas Pendidikan Indonesia itu.

Setiap tahun pengelola Museum KAA mencetak 1000 eksemplar buku The Bandung Connection untuk diberikan ke publik secara gratis.

Sumber: Museum KAA