Ketika Pelayanan Museum Tak Optimal, Pengunjung Memilih Curhat di Medsos

20190206_090102Kepala Museum KAA Meinarti Fauzie membuka resmi pekan orientasi program museum internship di Museum KAA pada Rabu, (6/2/2019). (Sumber: Dok. Museum KAA)

BANDUNG, MUSEUM KAABerkat kemajuan teknologi informasi, masyarakat bisa menanggapi pelayanan museum di mana saja, termasuk menyebarkan keluhan soal pelayanan museum lewat sosial media. Sebab itu, kualitas pelayanan terus menerus dipertahankan.

Hal itu disampaikan Kepala Museum KAA Meinarti Fauzie pada Rabu, (6/2/2019) saat memberi arahan kepada peserta program museum internship yang tengah mengikuti pekan orientasi di Museum KAA.

Di zaman medsos seperti sekarang citra museum di ujung jari pengunjung. Kalau puas, mereka mempromosikan museum melalui foto-foto kunjungan dan komentar positif di medsos. Tapi sebaliknya kalau kecewa, mereka juga bisa curhat lewat medsos,” katanya.

Apalagi, imbuhnya, di dunia maya tersedia berbagai situs web untuk ulasan tempat wisata. Ia mencontohkan, saat ini saja ada 400 ulasan soal Museum KAA di situs web terkenal khusus tempat wisata dunia. Ulasan itu kerap dijadikan rujukan pengunjung sebelum memutuskan berkunjung ke Museum KAA.

Ulasan tempat wisata dianggap berpengaruh terhadap perubahan perilaku pengunjung sebelum berkunjung ke museum. Alih-alih profil museum, pengunjung lebih memilih ulasan pengunjung-pengunjung sebelumnya sebagai referensi,” ungkapnya.

Untuk itu ia berharap, melalui pekan orientasi ini peserta dapat mempersiapkan diri lebih baik sebelum terjun langsung melayani publik di Museum KAA.

Setiap materi dalam pekan orientasi ini bertujuan untuk membekali peserta dengan hal-hal yang dibutuhkan dalam mendukung pelayanan museum,” ujarnya.

Terakhir, ia menghimbau peserta program agar memanfaatkan sebaik-baiknya kesempatan praktik di Museum KAA untuk mendapatkan pengalaman dan mengembangkan jejaring.

IMG_20190207_105615Arsiparis Museum KAA M. Reza Mansoor membekali peserta program museum internship soal manajemen arsip pada Kamis, (7/2/2019). (Sumber Foto: Dok. Museum KAA)

Pekan orientasi direncanakan berlangsung selama sepuluh hari. Dalam pekan itu peserta mendapat sejumlah materi teori dan praktik soal permuseuman, mulai dari dasar-dasar museologi, koleksi, creative guiding hingga kearsipan. Selanjutnya, peserta akan mempraktikan langsung cara pemanduan di Museum KAA.

Program museum internship pada semester awal tahun ini diikuti lima belas peserta. Mereka berasal dari Universitas Pendidikan Indonesia, Universitas Islam Nusantara, Universitas Galuh, dan SMK ICB.

20190207_152129 Edukator Museum KAA Ginanjar Legiansyah mendemonstrasikan teknik memandu kepada peserta program museum internship pada Kamis, (7/2/2019) di Ruang Pameran Tetap Museum KAA. (Sumber Foto: Dok. Museum KAA)

Setiap tahun Museum KAA menggelar dua kali program museum internship, pada awal dan pertengahan tahun. Di luar program ini, Museum KAA juga melibatkan generasi muda sebagai relawan pemandu melalui komunitas Klab Edukator Sahabat Museum KAA.

Program ini tak hanya bermanfaat bagi Museum KAA dalam mendorong minat generasi muda terhadap museum tapi juga efektif dalam menanamkan wawasan kebangsaan.

Sumber: Museum KAA